Sunday, June 11, 2017

Waktu Ujian, Guru: Kerjain Dulu Yang Mudahnya, Baru Yang Susah

       Comments   
Pada usia yang sedang asik-asiknya tumbuh, saya berusaha untuk menemukan apa yang saya mau, dan mengikuti apa yang saya anggap pantas untuk diikuti.

Lankah kecil diawali dari dunia sesungguhnya, saya berusaha untuk bergaul dengan orang orang waras, namun tetap di garis yang menyenangkan, dengan kata lain tidak membuat saya merasa terpaksa untuk hidup. Sikit demi sikit saya koreksi pergaulan dan pertemanan seperti apa yang harus saya pertahankan.

Karena saya sadar jika sekarang saya hidup diantara tiga dunia, nyata, gaib, dan maya. Untuk dunia ghaib sendiri saya belum bisa berbuat apa-apa selain percaya bahwa itu ada, karena seperti itulah yang diajarkan agama saya.

Sedangkan pada dunia nyata, setelah riang dan puas dengan hura hura di usia 18 tahun kebelakang, kini saya mencoba tata sedemikian rupa, agar tua gak melahirkan penyesalan. Saya gak mau seperti Om, Tante, Mba, atau bahkan orang tua saya yang kalau cerita terselip kalimat "Ah coba kalau waktu muda om kaya gitu" atau "Duh nyesel deh mamah dulu gak terima waktu dijodohin sama Mas Agus Yudhoyono, pasti anak mamah bukan kamu" dan ungkapan penyesalan lainya.

Yang jadi permasalahan adalah dunia maya. Saya gak bisa menutup mata untuk tidak masuk kedunia ini, gak bisa pula untuk pura-pura tidak tahu. Saya terlanjur sudah masuk dan sial semakin hari dunia ini pun semakin menyebalkan rakyatnya yang dikenal dengan sebutan Netizen.

Seperti dunia nyata, di dunia maya pun saya berusaha menata ruang untuk saya bermain aman didalamnya, dengan mengikuti akun akun yang mungkin sedikit ada faedahnya jika saya follow atau menyegarkan otak ditengah rutinitas dunia nyata dan meng-unfollow akun akun yang doyan pamer tete atau sekedar kemolekan tubuh. Namun sial deras suara netizen yang masuk ditimeline saya cukup keras, dan bukan hanya mengajak saya bermain melainkan seperti mengajak saya untuk ikut main tauran pendapat. Pilihannya jika saya diam, saya akan terkena lemparan batu yang entah dimana letak tangannya, namun jika saya ikut melawan beragam kemungkinan buruk harus siap saya makan.

Beragam media kredibel yang saya harap punya stok berita positif yang dihasilkan oleh jurnalisnya yang kompeten malah terus mengulang berita yang, si-anying itu lagi itu lagi. Satu berita gak akan kelar satu sampai dua minggu. Tahan lama udah kaya rendang :)

Seperti berita hits yang pernah terjadi sebelumnya, contoh yang masih lekat dibenak kita kasus Mba Mirna, dan kini Berita Habib Riziq pun Udah kaya Tempe, bisa dibuat apa saja, versi apapun. Bisa digoreng, bisa disayur, bisa dimakan mentah mentah. Mungkin 70% media punya banyak stok berita Habib Riziq dengan berbagai type. Dari mulai Habib Riziq jadi tersangka, Habib Riziq belum pulang, Habib Riziq diarab ngapain ajah, dan sebagainnya. Satu dua hari, okelah, gak masalah, karena kita mengenal istilah berita hangat, tapi kalau berhari-hari beritanya secara garis besar itu mulu, apa gak bosen kisanak? Berita hangat jadi berita panas, mungkin akan jadi berita gosong kalau kelamaan.

Endonesaku itu besar, luas, punya banyak masalah besar yang belum tuntas, apa dengan ngurusin chat Habib Riziq masalah lain selese? Apa kabar kasus Bapak Novel Baswedan yang belum ada perkembangan, atau gimana kabarnya aksi Kamisan yang menanyakan hak, dan kabar keluarga mereka? Udah 10 tahun lho. Dan masih banyak lagi masalah pelik dan alot lainya

Kalau kata guru saya pas ujian "Kerjain dulu yang mudahnya, baru yang susah" Kalau emang Habib Riziq susah buat diajak pulang, yowis nanti kalau lapar juga pulang, selesein dulu yang lain lah, up dulu berita atau info lain lah, netizen butuh bacaan baru. Endonesa belum berakhir kok, kalau pun Habib Riziq gak pulang.

0 comments:

Post a Comment

© Fahri Prahira - All Right Reserved