Wednesday, March 22, 2017

Kisah Sedih di Timeline

      1 Comments   



Udah lama gue pengen nulis ini diblog dan baru bisa sekarang. Gila sibuk banget bro, sibuk mikir ngetweet apa ya yang lucu. Oke disini gue mau curhat aja, jadi gak perlu siapin apa-apa. Gue nulis sambil nunggu hujan reda, terperangkap dikantor gak bisa pulang ketemu mamah yang selalu lupa pasword facebooknya. Jadi anggap aja ini HOAX ya, kan lagi rame tuh. HE HE.

Sebagai pelaku sosial media, gue merasa bahwa jagad internet terutama social media belakangan ini suasananya menjadi gersang. Berselancar di dunia maya seperti gue bermacet-macetan disiang bolong yang terik dengan telinga yang berisik oleh bermacam-macam suara klakson, dari klakson original bawaan pabrik, klakson custom sampai klakson dambaan adek gue, Telolet.

Berita atau isu yang muncul di internet didominasi oleh hal-hal negatif. Atau mungkin ini kesalahan gue dalam memilih siapa yang harus gue follow di dunia maya. Sikat sana sini, nge-judge sana sini. Lalu muncullah istilah HOAX. Si TAI bilang bahwa apa yang disampaikan Si Babi itu HOAX, begitu pun sebaliknya. Padahal keduanya pun HOAX . Ngeri ketika dia yang tahu faktanya tak bisa berbuat apa-apa, tak punya follower banyak, tak punya duit banyak buat bayar media besar yang katanya kredibel. Akhirnya sikurcaci pun diam, ngopi sambil menyaksikan dua kubu yang saling membela diri mereka, agar tidak di anggap HOAX.

Suasana di kota santri tak nyaman dimulai dari hajatannya orang Jakarta atau Pilkada DKI. Yang hajat Jakarta yang ikut repot semua Kota. Tak hanya sampai dilaman timeline, pesta Pilkada pun memiliki tempat istimewa dibeberapa media besar, seakan “woy ci anjur, tasik, garut, tegal dll kalian harus tau nih debat cagub kite”. Gue jadi ingat kejadian pernikahan Rafi Ahmad dan Nagita, yang ditayangkan live dibeberapa stasiun Tv, lalu acara itu pun mendapat pernyataan “Merenggut hak publik untuk mendapat tanyangan yang bermanfaat. Hhmm.. apa bedanya sama ini to mas. Menurut gue perihal manfaat atau tidak tergantung siapa yang menerimanya. Mungkin bagi ibu-ibu di dusun sana tayangan itu lebih Sweet ketibang tanyangan yang saling lempar argument.

Huru hara Pilkada melambungkan beberapa peran, seperti Bang Uus, Iwan Bopeng dan peran-peran lainnya. Kehangatan Pilkada pun memanas, bukan sekedar hangat kopi yang masih mampu diteguk. Memanas dan menjalar, seperti membakar tumpukan beragam kertas yang disetiap kertasnya tertulis bermacam-macam tujuan, hingga akhirnya membakar satu hal yang di anggap peting bagi sebagian manusia. Keyakinan atau Agama.

Hal yang membuat gue sedih adalah Kejadian yang Menimpa Bang Uus, idola gue di dunia Stand up, namun kebetulan gue bukan fans yang selalu ngikut apa pun kata idola, bukan fans yang suka nangis nangis karena disapa “Hallo” sama idola. Gue kagum sama Bang Uus, dengan karyanya dengan pemikirannya, perjuangannya, tapi kekaguman gue tak membuat gue harus selalu setuju dengan apa yang dikatakannya. Jujur gue bahagia banget ketika melihat video permintaan maaf Bang Uus.

Gue kira cukup sampai disitu ternyata berita lain pun kembali muncul yang masih melibatkan pelaku stand up comedy. Ketika bang Ernest Prakasa yang juga Idola gue dalam membuat materi stand up untuk openmic membuat pernyataan ditwitter, jika Dzakir Naik adalah orang yang membiayai ISIS. Hhmm… piye iki. Jujur Sedih banget hati beta men. Tapi gue gak bisa apa-apa selain melampiaskan kesedihan dan keresahan lewat tulisan yang tak seberapa juga dengan modal pengetahuan yang minim.

Dimata orang tua, mungkin gue bukan anak baik, ngehe, gak nurut, pembangkang dll, tapi ketika ada yang hina orang tua gue, atau macem macem ke orang tua gue. Gue adalah orang pertama yang akan merasa sedih dan munkin orang yang akan paling keras berteriak “Anjing” ke orang itu. Begitu pun urusan Agama.

Jadi yaudahlah, udahan main seriusannya, mending lucu lucuan ditimelinenya, atau pamerin karya biar gue dan anak muda yang lain terpacu semangatnya.

Oke sekian ya, ujan udah reda nih. *Sundulu.

1 comment:

© Fahri Prahira - All Right Reserved