Saturday, June 18, 2016

Lah, kan katanya temen

       Comments   

Menurut gua manusia adalah makhluk yang tak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Toh, seorang Haci yang sebatangkara saja, masih optimis dan semangat buat nyari ibunya, dia gak mau hidup sendirian, jadi memang tak ada manusia yang benar-benar bisa berjalan sendiri, kalau pun ada yang mengatakan bisa, mungkin ia lupa, siapa yang dulu mengajarinya berjalan atau bicara.

Dan karena kita saling membutuhkan, hidup mengajari kita untuk bisa berbaur atau bersosialisasi, sebutlah itu namanya mencari teman. Baik itu teman hidup, teman sepermainan atau teman makan teman, namun secara garis besar teman adalah orang kedua atau ketiga setelah diri kia sendiri. Setiap teman punya ruangnya sendiri, punya cara unik bagaimana ia berteman, dan kita belajar banyak dari karakter teman yang beragam itu. Sejauh ini ada beberapa karakter teman yang gua temukan, Misalnya;

Teman yang curang, ini teman yang bisa dibilang pelit, dia gak pernah mau dirugikan baik masalah waktu atau materi, atau bahkan dia cenderung cari untung dalam tongkrongan, dia selalu ingin jadi yang berpengaruh padahal kemampuannya atau atittudenya tak menunjang untuk kita ngehargain dia. Dan biasanya teman seperti ini lengkap dengan sipatnya yang gak tau malu atau muka tebal, entah gak peduli atau memang gak peka, dia tetap datang walau pun sudah kehilangan respect kita.

Ada juga, teman yang loyal, teman yang dalam hal apapun gak pernah perhitungan, baik itu perihal waktu atau materi yang sudah dia korbankan untuk kita. Apa itu ada? Ada, namun populasinya langka, gua bilang ada, karena gua punya beberapa. Teman seperti ini, seolah cuek, tapi peduli, dia senang kalau kita senang, dan orang pertama yang akan datang ketika kita susah. Walau pun kita sudah lama gak jalan/nongkrong bareng, mulutnya ga pernah sudi untuk mengatakan “ahh waktu susah dateng, waktu senang hilang” Ya, dia memang bener-bener tulus dan ikhlas ketika dia berbagi kebahagiaan dan menghibur kita ketika susah.

Beda lagi dengan karakter teman yang cemburuan. Teman seperti ini, teman yang selalu membuat kita ngerasa bersalah kalau kita punya temen baru, dia akan menyikasa kita dengan kata “belagu lu main disana mulu” padahal, sebisa mungkin kita menyempatkan nongkrong bareng, dan membagi waktu, tapi sekalinya kita nonkrong lagi, kita malah disambut dengan ucapan seperti itu. Bukannya kangen, tapi membuat kita yakin kalau dia memang teman yang berbahaya. Kenapa? Karena kita akan terus dikurung dengan jasa-jasa atau bantuan yang pernah dia berikan dan terus menerus dia katakan, sehingga kita merasa hutang budi, bukankah dengan menyempatkan mampir lagi, atau sekedar menyapa sederhana, itu bukti sederhana kita tak melupakan mereka.

Bukanya teman itu mendukung, suport tanpa harus bilang “lu bisa kaya gini gara-gara gue suport” menurut gua do'a paling canggih adalah do'a dalam diam, ya karena terasa konyol, ketika kita mengatakan do'a kita kepada orang yang kita do'akan itu “ehh semalam lu gua doain” itu sama kaya lu masukin uang gope ke kotak jariah terus dipoto. Gua yakin, orang lebih luluh oleh do'a yang diam, ketibang diceramahi dengan amarah. Dan gua masih percaya Tuhan maha adil, jadi tak harus menunggu balasan kebaikan dari orang yang kita bantu, sebab balasan setara atau bahkan yang lebih baik, datang dari sudut yang berbeda.

Nah, itu beberapa karakter teman yang gua punya, gua kenal mereka, gua sayang mereka, walau pun gua gak tau seperti apa gua dimata mereka. Namun dengan mengenal siapa mereka, setidaknya gua tau apa yang harus gua lakukan dan gua berikan untuk mereka, begitu pun sebaliknya. Gua akui gua butuh mereka, ya pasti butuh mereka, karena pada dasarnya kita memang saling membutukan, bukan? Tanpa harus ribet mengakumulasi apa yang udah diberikan. Well, kalau dia teman yang baik, gua yakin dia tau diri, dia pergi menemukan banyak teman, tapi selalu tau kemana dia harus pulang. Lah kan katanya temen.

Wednesday, June 1, 2016

Apa jadinya, jika semua agama itu benar?

       Comments   

Entah kenapa gua tidak pernah setuju ketika ada orang yang mengatakan “Jika semua Agama itu benar”
Gini, jika semua agama itu benar, berarti semua orang berhak dong tiap hari gonta-ganti agama? Toh, semua agama itu benar. Gila jumlah agama di dunia itu banyak lho. Untuk menyempurnakan tulisan ini, gua buang sedikit waktu buat baca Wikipedia, dan katanya ada 4.200 Agama di dunia. Oke mungkin sah-sah aja kalau emang ada orang yang mau melakukan hal demikian, tapi gua nggak yakin itu orang atau bukan. Gonta-ganti agama, kamu pikir sempak. Ini Agama lho, sesuatu yang paling utama dalam diri sebagian manusia. Kenapa gua bilang sebagian, karena masih ada 59 persen tak beragama, dan 13 persen atheis.

Gua yakin jika semua Agama yang sekarang ada, bahkan telah diakui keberadaannya, itu semua butuh perjuangan, ada banyak darah pejuang Agama di sana. Dan sekarang, kita yang tinggal menikmati itu, bisa ibadah dengan tenang, lalu dengan seenaknya kita mengatakan jika semua Agama itu benar? Yang benar saja, kawan. Apa kalian gak mikirin bagaimana perasaan Jesus yang udah capek-capek disalib demi umatnya, disalib itu sakit lho, atau Nabi Muhammad yang harus bertarung di medan perang menyebarkan syari’at islam atau Biksu yang rela jadi jomblo, nge-jomblo itu ga mudah lho, dan sekarang kalian seenaknya bilang semua agama itu benar? Nggak kasian sama Sun Go Kong yang rela menghabiskan sisa umurnya untuk mencari kitab suci ke barat demi umatnya, Kalau tau gitu mah ngapain dia harus capek-capek ke barat, ya mending nyari di kwitang aja bareng Cinta sama Rangga. So? Menurut gua Agama yang kita pegang dan kita yakini, itulah Agama yang paling benar. Gimana? Setuju?

Sekarang gua harus terpaksa percaya dengan perkataan orang-orang bijaksana di Bumi ini, jika hidup adalah pilihan; baik atau buruk dan benar atau salah, gua yakin semua orang ingin baik, dan semua orang ingin benar. Ketika gua meyakini bahwa apa yang gua anggap benar, itulah yang paling benar (menurut gua). Apakah gua egois? Apakah gua salah? Tentu tidak, atau jawaban konyol yang sering dikatakan MC di-Tv “Terserah gua dong, mulut. Mulut siapa?” yang mungkin niatnya mau nge-lucu tapi gua bingung harus ketawanya di bagian mana, namun sayangnya hidup nggak se-taee itu, nggak se-terserah itu kawan. Ada hal dimana itu kita anggap benar dan yang bertentangan dengan itu kita anggap salah. Dan kita semua tahu jika kebanyakan hal yang disebut salah itu dosa.

Tapi, ketahuilah teman-teman kebenaran yang hakiki adalah milik Tuhan semata, terlepas siapa Tuhan mu, itulah yang harus lo yakini kebenarannya dan menjadi benar atau salah itu adalah pilihan kita, bukan? Dan karena gua Muslim, maka Islamlah yang gua anggap paling benar, bagaimana pun lo meyakinkan bahwa itu salah, tak akan merubah apa yang telah gua yakini itu, begitu pun sebaliknya. Sebab kita semua tau jika akan selalu ada ‘Toleransi’ dalam keberagaman. Jadi, ketika gua merasa benar, yasudahlah hargai perasaan ini kawan, begitu pun gua terhadap yang lain. Hmmm.

Oke sekian opini sotoy ini, yang gua kembangkang dari ide Bang Kalis dan gua diskusikan bersama teman gua Elnard. Ya, karena kopi juga sudah habis, dan santai saja, tak usah telan bulat-bulat tulisan ini, sebab setau gua, sampai sejauh ini makanan pokok di Negri kita itu tetap nasi bukanlah kata-kata. Ya, ga? Hih.

© Fahri Prahira - All Right Reserved