Monday, July 4, 2016

Polemik Bulan Suci

       Comments   

Bulan ramadhan hampir usai, bulan yang sangat spesial buat umat muslim, bulan yang penuh berkah, semua kebaikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, bahkan setan pun dibelenggu, gua mengimani itu, tidak lain karena gua muslim.

Ya, bulan ramadhan bagi kami (umat muslim) sangat spesial, oleh sebab itu banyak hal berthema ramadhan, seperti mall-mall besar menyediakan promo/diskon spesial ramadhan, iklan tipi thema ramadhan, sampai anak yang lahir dibulan ini, pasti namanya dikasih kata ramadhan. Ada juga sebagian orang menyiapkan rencana untuk acara bukber, yang tak jarang itu hanya jadi wacana di grup chating saja, sampai ketemu lebaran buka bersama pun gak terlaksana. Ada?

Belum lagi para hijaber temporer, cewek-cewek yang tadinya gak pake hijab, khusus dibulan ini mereka pake hijab, berikut dengan brand hijab ternama, selfie upload di instagram dengan caption season syari'ah, di tag ke akun elzata, dikoment temen “cantik loh pake hijab” lalu dijawab “wah, makasih semoga bisa lanjut ya” selesai ramadhan dicopot lagi. Pertama belajar hijab langsung pake brand hijab yang hedon, itu sama kaya orang pertama belajar mobil, langsung nginjek gas BMW, tapi yowislah, bersyukur walau cuma sebulan make barang keren, gak dilanjutin make dengan alasan “Belum siap” Ya, setidaknya bisa buat ngabuburit sama gebetan, daripada ngabuburit sama gebetan dimotor, direm mendadak kepeluk, ehh.

Dibulan yang suci ini ternyata tak membuat acara berita kriminal di tipi jadi libur. Walau pun gua jarang nonton tipi, namun gua mengikuti setiap kabar yang sedang panas diinternet, banyak sekali tindakan kriminal dari yang wajar sampai yang diluar nalar, mungkin setan saja tepuk jidat jika melihat prilaku manusia yang menyakiti manusia lain dengan cara mengerikan. Padahal makhluk penggoda dibelenggu, tapi nyatanya manusia sudah lebih lihay tanpa harus digoda, kasian ya, lama-lama setan jadi nganggur. Yang terakhir gua denger kasus murid memenjarakan gurunya karena dicubit sampai merah dengan alasan gak mau ikut sholat berjamaah.

Gua gak mau bahas jauh tentang ini, gua cuma mau ngasih tau, sama seperti dulu, waktu emak gua ngasih tau ke gua “Guru adalah orang tuamu disekolah” Ya sesederhana itu. Jadi, jika ada apa-apa disekolah, misalnya berantem sama temen, nyuri uang temen, kecelakaan dikelas, atau terlibat tauran dengan sekolah lain. Yang pertama pasang badan sebelum orang tua kandung, ya guru-guru disekolah, mungkin kalau itu dilaporkan kepolisi oleh guru dengan atas dasar HAK ASASI MANUSIA atau pencemaran nama baik sekolah, gua yakin jeruji banyak diisi sama bocah. Tapi itu tidak terjadi, guru dengan kata lain orang tua kedua, tidak mau melihat anaknya sengsara, semua masalah disekolah diselasaikan dengan cara kekeluargaan.

Di zaman modern seperti ini apapun bisa terjadi, jangankan murid memenjarakan guru, nyari upil ditengah gurun pasir pun bukan lagi hal mustahil, namun segala kemudahan seolah merubah pola pikir manusia menjadi manja, HAM yang harusnya melindungi Hak, malah membangun kebebasan tak wajar, seseorang seolah merdeka dengan statmen “Terserah gua dong” Hmm… seperti yang gua pernah bilang, jika hidup tak se-terserah itu kawan, ada hal yang dimana itu kita anggap benar dan ada hal yang kita harus bisa mengakui bahwa itu salah. Perkembangan zaman membuat semuanya menjadi sakti namun dengan orang-orang yang semakin sakit.

Terimakasih sudah mau membaca opini subjektif gua, yang berawal dari keresahan dan didasari dari pengetahuan yang belum seberapa, jadi mohon maaf, tapi yang paling penting, gua TIDAK DIAM!!

Saturday, June 18, 2016

Lah, kan katanya temen

       Comments   

Menurut gua manusia adalah makhluk yang tak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Toh, seorang Haci yang sebatangkara saja, masih optimis dan semangat buat nyari ibunya, dia gak mau hidup sendirian, jadi memang tak ada manusia yang benar-benar bisa berjalan sendiri, kalau pun ada yang mengatakan bisa, mungkin ia lupa, siapa yang dulu mengajarinya berjalan atau bicara.

Dan karena kita saling membutuhkan, hidup mengajari kita untuk bisa berbaur atau bersosialisasi, sebutlah itu namanya mencari teman. Baik itu teman hidup, teman sepermainan atau teman makan teman, namun secara garis besar teman adalah orang kedua atau ketiga setelah diri kia sendiri. Setiap teman punya ruangnya sendiri, punya cara unik bagaimana ia berteman, dan kita belajar banyak dari karakter teman yang beragam itu. Sejauh ini ada beberapa karakter teman yang gua temukan, Misalnya;

Teman yang curang, ini teman yang bisa dibilang pelit, dia gak pernah mau dirugikan baik masalah waktu atau materi, atau bahkan dia cenderung cari untung dalam tongkrongan, dia selalu ingin jadi yang berpengaruh padahal kemampuannya atau atittudenya tak menunjang untuk kita ngehargain dia. Dan biasanya teman seperti ini lengkap dengan sipatnya yang gak tau malu atau muka tebal, entah gak peduli atau memang gak peka, dia tetap datang walau pun sudah kehilangan respect kita.

Ada juga, teman yang loyal, teman yang dalam hal apapun gak pernah perhitungan, baik itu perihal waktu atau materi yang sudah dia korbankan untuk kita. Apa itu ada? Ada, namun populasinya langka, gua bilang ada, karena gua punya beberapa. Teman seperti ini, seolah cuek, tapi peduli, dia senang kalau kita senang, dan orang pertama yang akan datang ketika kita susah. Walau pun kita sudah lama gak jalan/nongkrong bareng, mulutnya ga pernah sudi untuk mengatakan “ahh waktu susah dateng, waktu senang hilang” Ya, dia memang bener-bener tulus dan ikhlas ketika dia berbagi kebahagiaan dan menghibur kita ketika susah.

Beda lagi dengan karakter teman yang cemburuan. Teman seperti ini, teman yang selalu membuat kita ngerasa bersalah kalau kita punya temen baru, dia akan menyikasa kita dengan kata “belagu lu main disana mulu” padahal, sebisa mungkin kita menyempatkan nongkrong bareng, dan membagi waktu, tapi sekalinya kita nonkrong lagi, kita malah disambut dengan ucapan seperti itu. Bukannya kangen, tapi membuat kita yakin kalau dia memang teman yang berbahaya. Kenapa? Karena kita akan terus dikurung dengan jasa-jasa atau bantuan yang pernah dia berikan dan terus menerus dia katakan, sehingga kita merasa hutang budi, bukankah dengan menyempatkan mampir lagi, atau sekedar menyapa sederhana, itu bukti sederhana kita tak melupakan mereka.

Bukanya teman itu mendukung, suport tanpa harus bilang “lu bisa kaya gini gara-gara gue suport” menurut gua do'a paling canggih adalah do'a dalam diam, ya karena terasa konyol, ketika kita mengatakan do'a kita kepada orang yang kita do'akan itu “ehh semalam lu gua doain” itu sama kaya lu masukin uang gope ke kotak jariah terus dipoto. Gua yakin, orang lebih luluh oleh do'a yang diam, ketibang diceramahi dengan amarah. Dan gua masih percaya Tuhan maha adil, jadi tak harus menunggu balasan kebaikan dari orang yang kita bantu, sebab balasan setara atau bahkan yang lebih baik, datang dari sudut yang berbeda.

Nah, itu beberapa karakter teman yang gua punya, gua kenal mereka, gua sayang mereka, walau pun gua gak tau seperti apa gua dimata mereka. Namun dengan mengenal siapa mereka, setidaknya gua tau apa yang harus gua lakukan dan gua berikan untuk mereka, begitu pun sebaliknya. Gua akui gua butuh mereka, ya pasti butuh mereka, karena pada dasarnya kita memang saling membutukan, bukan? Tanpa harus ribet mengakumulasi apa yang udah diberikan. Well, kalau dia teman yang baik, gua yakin dia tau diri, dia pergi menemukan banyak teman, tapi selalu tau kemana dia harus pulang. Lah kan katanya temen.

Wednesday, June 1, 2016

Apa jadinya, jika semua agama itu benar?

       Comments   

Entah kenapa gua tidak pernah setuju ketika ada orang yang mengatakan “Jika semua Agama itu benar”
Gini, jika semua agama itu benar, berarti semua orang berhak dong tiap hari gonta-ganti agama? Toh, semua agama itu benar. Gila jumlah agama di dunia itu banyak lho. Untuk menyempurnakan tulisan ini, gua buang sedikit waktu buat baca Wikipedia, dan katanya ada 4.200 Agama di dunia. Oke mungkin sah-sah aja kalau emang ada orang yang mau melakukan hal demikian, tapi gua nggak yakin itu orang atau bukan. Gonta-ganti agama, kamu pikir sempak. Ini Agama lho, sesuatu yang paling utama dalam diri sebagian manusia. Kenapa gua bilang sebagian, karena masih ada 59 persen tak beragama, dan 13 persen atheis.

Gua yakin jika semua Agama yang sekarang ada, bahkan telah diakui keberadaannya, itu semua butuh perjuangan, ada banyak darah pejuang Agama di sana. Dan sekarang, kita yang tinggal menikmati itu, bisa ibadah dengan tenang, lalu dengan seenaknya kita mengatakan jika semua Agama itu benar? Yang benar saja, kawan. Apa kalian gak mikirin bagaimana perasaan Jesus yang udah capek-capek disalib demi umatnya, disalib itu sakit lho, atau Nabi Muhammad yang harus bertarung di medan perang menyebarkan syari’at islam atau Biksu yang rela jadi jomblo, nge-jomblo itu ga mudah lho, dan sekarang kalian seenaknya bilang semua agama itu benar? Nggak kasian sama Sun Go Kong yang rela menghabiskan sisa umurnya untuk mencari kitab suci ke barat demi umatnya, Kalau tau gitu mah ngapain dia harus capek-capek ke barat, ya mending nyari di kwitang aja bareng Cinta sama Rangga. So? Menurut gua Agama yang kita pegang dan kita yakini, itulah Agama yang paling benar. Gimana? Setuju?

Sekarang gua harus terpaksa percaya dengan perkataan orang-orang bijaksana di Bumi ini, jika hidup adalah pilihan; baik atau buruk dan benar atau salah, gua yakin semua orang ingin baik, dan semua orang ingin benar. Ketika gua meyakini bahwa apa yang gua anggap benar, itulah yang paling benar (menurut gua). Apakah gua egois? Apakah gua salah? Tentu tidak, atau jawaban konyol yang sering dikatakan MC di-Tv “Terserah gua dong, mulut. Mulut siapa?” yang mungkin niatnya mau nge-lucu tapi gua bingung harus ketawanya di bagian mana, namun sayangnya hidup nggak se-taee itu, nggak se-terserah itu kawan. Ada hal dimana itu kita anggap benar dan yang bertentangan dengan itu kita anggap salah. Dan kita semua tahu jika kebanyakan hal yang disebut salah itu dosa.

Tapi, ketahuilah teman-teman kebenaran yang hakiki adalah milik Tuhan semata, terlepas siapa Tuhan mu, itulah yang harus lo yakini kebenarannya dan menjadi benar atau salah itu adalah pilihan kita, bukan? Dan karena gua Muslim, maka Islamlah yang gua anggap paling benar, bagaimana pun lo meyakinkan bahwa itu salah, tak akan merubah apa yang telah gua yakini itu, begitu pun sebaliknya. Sebab kita semua tau jika akan selalu ada ‘Toleransi’ dalam keberagaman. Jadi, ketika gua merasa benar, yasudahlah hargai perasaan ini kawan, begitu pun gua terhadap yang lain. Hmmm.

Oke sekian opini sotoy ini, yang gua kembangkang dari ide Bang Kalis dan gua diskusikan bersama teman gua Elnard. Ya, karena kopi juga sudah habis, dan santai saja, tak usah telan bulat-bulat tulisan ini, sebab setau gua, sampai sejauh ini makanan pokok di Negri kita itu tetap nasi bukanlah kata-kata. Ya, ga? Hih.

Sunday, May 22, 2016

Ini loh Stand Up

       Comments   

Purwakarta – Jakarta, Spesial Show Stand Up Comedy Adriano Qalbi, dengan Opening Act Awwe dan Gilang bhaskara adalah alasan raga ini kenapa gua ke sana. Jika dilihat dari kacamata orang waras, mungkin seperti orang yang gak ada kerjaan, ya tapi emang gue nggak ada kerjaan sih dan mungkin
juga kurang waras.

Ini pertama kalinya gue nonton Stand Up Comedy dengan opening act-nya yang lebih terkenal dari Guest Starnya. Tapi, kalau yang mengerti Stand Up Comedy itu apa, atau seperti apa, gue yakin mereka tahu siapa Adriano Qalbi. Menurut gue adri bisa dibilang setara dengan Pandji, atau Sammy. Tak menggaris besarkan kalau Stand Up Comedy Itu ya seperti Raden Mas Cemen, atau Stand Up Comedy itu berdiri ngelawak sendirian, kalau definisi Stand Up Comedy seperti itu, berarti Stand Up Comedy nggak adil bagi orang yang nggak bisa berdiri, toh Dani SUCI ngelawak tapi duduk dikursi roda, ya berarti Stand Up Comedy untuk siapa pun atau darimana pun yang punya keresahan, dan juga berani bicara menyampaikannya opininya dengan cara bercanda. Jadi tolonglah wahai teman-temanku, kalau gue baru pulang openmic nggak harus ceng-cengin gue “Cieee yang pengen terkenal kaya si-cemen, ayo dong stand up, ayo bentar aja” Taee, bagi gue stand up comedy itu bukan melulu tentang ingin terkenal atau sejenisnya, melainkan masalah keinginan hati, juga kepuasan diri sendiri. Paham, ngana?

Penampilan Adriano yang selalu gue tunggu tapi tiketnya selalu kehabisan, namun Alhamdulillah di special show kemarin yang hanya menyediakan 80 tiket gue bisa nonton. Terlepas dari itu, gue puas banget, walau pun mendengar materi-materinya butuh beberapa detik untuk gue ketawa ‘Anjing, iya juga ya’ Dan entah kenapa pada saat itu juga, gue jadi geli dengan semua bit gue kalau Stand Up.

Selesai nonton, gue udah kaya emak-emak pulang nonton mamah dedeh, banyak banget pencerahan dan ilmu baru. Dengan konsep acara yang bisa dikatakan sederhana gue merasa terbayar dengan apa yang gue lihat dan gue dengar.



Terimakasih dan sorry kalau gue terkesan lebay udah nulis ini, padahal cuma nonton Stand Up, tapi kenapa juga lu mau baca. Apapun kata lu gue gak peduli, yang jelas gue senang, gue yakin ini lebih baik daripada gue harus curhat di social media, atau remaja seperti gue harus ngetwit politik padahal buku yang gue baca aja masih sekelas Majalah Bobo, atau komik yang gue tau aja baru Raden Mas Cemen. –Ehh.

Wednesday, May 18, 2016

Mini show #Seuribaduka

       Comments   

Gue baru beberapa bulan masuk komunitas Stand up comedy Purwakarta, yang pada akhirnya melahirkan pernyataan dibenak gue ‘Kalau ngelucu sendirian itu nggak mudah loh’ Serius, nggak percaya? Coba aja.

Dan di tanggal 8 Mei 2016 Komunitas Stand up comedy Purwakarta genap berusia 4 tahun. Dalam merayakan hari jadinya, Stand up comedy Purwakarta mengadakan Mini Show yang bertajuk #Seuribaduka (Seuseurian bareung barudak purwakarta) Acara yang diisi sama semua komik local, nggak ada guest star. Kalau ada yang nanya guest starnya siapa? “Ya jawab aja, kita” Ujar Kalis sebagai ketua acara #seuribaduka.

Dan beberapa bulan sebelum acara berlangsung Kalis Rubeda (@SekalisInfo) menawarkan siapa saja yang mau naik di acara itu? Nggak ada paksaan atau tawaran. Ada banyak yang mau naik dan beberapa yang nggak. Awalnya gue ada dalam beberapa itu. Gue nggak berani naik ya karena belum ngerasa siap buat naik dipanggung show. Open mic aja masih bisa dihitung jari, itu pun ngeboom terus.

Sebenarnya gue ingin sekali ikut serta dalam acara itu bukan sebagai panitia tapi sebagai pengisi acara yaitu komik, namun melihat kemampuan gue yang belum seberapa gue bisa apa. Gue coba sharing sama temen-temen dikomunitas seperti Elnar, Tyo dan Bule, mereka ngasih pencerahan dan seketika semangat gue pun mulai naik. Akhirnya gue mutusin buat ikut di acara itu, dengan catatan sebelum hari-H gue harus lebih sering latihan, harus sering open mic. Dan itu benar-benar gue lakukan. Gue keliling openmic ke beberapa komunitas di Bandung. Nulis lagi, open mic lagi, nulis terus, open mic lagi dan yang terakhir yakin.

Bruhhhh.. Perasaan baru kemarin gue open mic dengan terbata-bata, gerogi, deg-degan, nervous, badan gemetar, dan sekarang udah ngerasin panggung mini show. Ini adalah show pertama gue dan gila seru banget.



Terimakasih Stand up comedy Purwakarta telah memberikan tempat dan kesempatan buat gue dan teman-teman yang lain.

Wilujeung tepang tahun Stand up Purwakarta, makin solid dan makin kritis, masalah lucu
itu bonus, bukan?

Ambil semua namun bukan berarti harus kau makan semua.

       Comments   

Nyokap gue pernah mengatakan, jika ilmu adalah hal yang paling berharga sekaligus berbahaya yang ada dalam diri manusia. Dan gue percaya jika ilmu bisa datang darimana pun juga didapatkan dari siapa pun, terlepas dari positif atau negatifnya ilmu tersebut.

Ilmu itu seperti makanan, banyak macam dan jenisnya dengan berbeda-beda manfaatnya, dengan kata lain baik dan buruknya. Seperti halnya makanan, sebanyak apapun makanan dimeja, baik itu hasil dari yang telah saya cari atau hasil dari pemberian orang, namun cara saya menghabiskannya tetaplah satu persatu dan memilih apa yang harus dimakan lebih dulu atau yang jangan dimakan sama sekali.

Mungkin disinilah pentingnya peran orang terdekat atau keluarga, untuk memberitahu, membatasi, menyuruh atau bahkan melarang saya memakan atau tidaknya apa yang telah gue dapatkan itu.

Masih ingat pesan Ibu ketika gue memutuskan buat merantau ‘Ambil semua yang diberikan semesta padamu, namun bukan berarti harus kamu makan semua’.

Ilmu, pengetahuan atau pendidikan adalah modal utama untuk jadi apa atau seperti apa manusia itu dimata mata manusia lainnya. Sebab gue yakin jika kemiskinan yang hakiki adalah kebodohan itu sendiri.

Memang benar jika kesuksesan tak berasal dari hebatnya kecerdasan atau tingginnya pendidikan seseorang, dengan beberapa pembuktian saat ini jika yang tak sekolah saja bisa sukses, namun itu bukan jadi alasan kuat untuk melemahkan yang namanya pendidikan.

Dalam diri manusia bukan hanya ada perut, tapi juga ada kepala yang tentunya memerlukan asupan juga. Pendidikan itu penting, sebab kepala yang berisi pengetahuanlah yang akan membawa seluruh tubuh kita harus berjalan kemana dan melangkah seperti apa.

Yang jadi kendala dikita adalah ketika pendidikan formal, pendidikan yang jelas pendidikan yang harusnya jadi hak semua orang malah jadi milik sebagian kalangan. Mungkin disini pula pentingnya peran keluarga, sodara, atau orang-orang terdekat. Ketika orang-orang yang kita harapkan tidak bisa diandalkan, orang terdekatlah yang mungkin bisa diharapkan.

Tujuan pendidikan adalah untuk mendapat pengetahuan, sedangkan tujuan pengetahuan adalah untuk kita tahu bukan untuk kita sukses. Karena menurut gue sukses itu relatif semua orang punya ukurannya. Dan sukses menurut kacamata gue adalah, ketika gue udah merasa cukup dengan apa yang gue punya dan mengerti dengan apa yang gue ketahui, dan gue mampu membaginya pada yang lain.

Thursday, April 14, 2016

Cinta dan Peran Kepercayaan

       Comments   
Setiap orang memiliki kesenangannya masing-masing. Kesenangan yang berawal dari rasa cinta atau suka, berikut dengan alasan kenapa ia harus mencintainya atau menyukainya. Seperti yang kita ketahui jika pengertian cinta itu luas. Cinta yang hakiki kepada tuhan, kepada seseorang atau cinta kepada benda mati. Cinta kepada benda mati mungkin jadi jawaban sederhana ‘Kenapa cinta tak harus berbalas’ Sebab seluas-luasnya pengertian cinta, ia tetap bersipat individual, hanya diri kita sendiri yang tahu dan merasakan sedalam apa rasa cinta kita, sedangkan mereka hanya sampai dititik menerka-nerka dengan melihat apa saja yang telah kita lakukan untuk apa yang kita cintai itu, atau yang biasa disebut pembuktian.

Jadi ketika ada orang yang mengatakan “Aku mencintaimu sepenuh hati” Satu-satunya cara untuk merasa tenang dan bahagia adalah dengan lo percaya tentang apa yang dia katakan, karena yang gue tau sampai sejauh ini jarak yang paling dalam yang tak bisa dijangkau manusia adalah hati. Dan kepercayaan tetap jadi yang paling mahal dalam diri manusia dimata manusia lainnya.

Semoga kecintaan kita kepada apa yang kita cintai, tak sampai mengubur kecintaan kita kepada pemilik hakiki cinta itu sendiri.

Sunday, January 17, 2016

Muda, Ya mestinya beda

       Comments   

Kadang kesel juga sih kalo tau itu tweet/meme bikinan
temen gue sendiri tapi pas beredar di lintas medsos watermark username
dia udah di crop
.

Tolonglah, bisa kali menghargai karya orang lain sekecil apapun itu.

Dua kalimat itu gue kutip dari tweetnya @adelladellide.

Dulu Ernest prakasa, Dara prayoga dan yang lainnya, sempat membombardir akun Dagelan, karena banyak sekali meme, kata-kata atau quote yang diposting oleh Dagelan adalah karya orang lain TANPA mencantumkan sumber atau  sang penciptanya.

Oke kita lupakan para admin Dagelan yang memang sudah bukan rahasia lagi, jika mereka doyan menjiplak hanya untuk, kelangsungan dan perkembangan jumlah follower, karena selain Dagelan,  diluar sana juga ada banyak selebtweet yang melakukan itu.

Gue yakin jika pengguna social media di Indonesia didominasi sama remaja, berusia 17 sampai 25tahun. Dan setelah gue googling “Kepala Humas Kominfo Ismail Cawidu mengatakan, pengguna Internet di Indonesia saat ini mencapai sedikitnya 73 juta atau sekitar 29 persen dari total populasi. Dari jumlah pengguna internet itu sekitar 58,4 persen  rata-rata di usia 12 hingga 34 tahun,“

Beda dikit sama observasi gue :D. Oke intinya rata-rata pengguna social media dikita  adalah anak muda. Anak Muda. Anak Muda. Anak Muda. Sekali lagi ya, anak  muda. Kayanya kalau Bapak Soekarno masih idup, gue yakin dia akan  cabut ucapannya “Beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia” Ya,  apa yang bisa diandalkan dari pemuda-pemudi bermental copy paste, tuna  kreatifitas.

Sebenernya yang dijiplak itu hal-hal yang sederhana. Apa begitu sulitnya nyari  keresahan pada diri sendiri yang bisa dinikmati orang banyak? Yang gue tau sampai sejauh ini kata-kata dan ide itu gratis. Yu, mikir.

Dulu gue pikir, hal seperti ini biasa saja, namun setelah gue rasain sendiri ternyata nyesek juga loh. Gue sempat merasakan bagaimana rasanya ketika ‘kata-kata’ gue melayang bebas di timline, beranda atau personal  messenger. Dengan seenaknya ditulis ulang, ya minimal ada basa-basi ke  gue. ‘Ri gue copas ya’ pasti ko gue bolehin. Yailah.. lagian follower  gue cuma seribu, buat beli permen aja cuma dapet empat biji. Ya hargain  dong mblo. Untuk membuat yang beda itu kita mikir loh.

Masasih anak muda cuma mampu nulis ‘Cemungut ya’ atau ‘Januari Wish’. Atau  serentak juga secara serempak nyebarin broadcast ‘Tagar mempengaruhi  nilai rupiah’ lalu masang poto korban tanpa disensor. Ada juga yang  nitip nasib pada gagasan dan opini orang.

Gue yakin dikepala kita ada banyak gagasan dan opini liar, lebih hebat dari sekedar  berkomentar ‘Ya’ atau ‘Setuju’. Kalau nggak bisa melakukan hal besar,  banyak ko langkah kecil yang mampu dinilai besar. Meperin upil dipacar  baru mantan misalnya.

Oke sekian. Terimakasih, dan jangan telan bulat-bulat tulisan diatas, karena sampai sejauh ini makanan pokok untuk negara kita adalah beras, bukan kata-kata. Bye.

© Fahri Prahira - All Right Reserved