Thursday, December 24, 2015

Dan Itu Sama

       Comments   
Gue lahir di Tasikmalaya, yang sangat lekat dengan istilah kota santri. Dari kecil gue digembleng dengan pendidikan agama. Jarak dari rumah kepesantren sangat dekat, tapi emak gue lebih menganjurkan untuk gue tinggal dipondok, bareng dengan santri perantauan dari luar kota. Keluarga gue original muslim, kakek gue pun seorang Ustadz yang Allah memanggilnya saat ia berada dalam perjalanan untuk dakwah di kampung sebelah. Keluarga gue sangat kental dengan pengetahuan agamanya. So, mereka akan marah besar jika gue melenceng dari apa yang telah diajarkan keturunan dan agamanya. Namun terlepas dari itu semua keluarga gue pun mengajarkan tentang bagaimana toleransi

Jika kamu terlalu mencintai satu hal, maka tidak berarti kamu harus membenci hal lainnya.

Mungkin dulu gue ada dalam posisi aman, dimana gue berada dalam lingkungan yang satu keyakinan, satu kitab, satu tuntunan. Dan kini, gue berada dikota yang berbeda, dengan beragam penduduk, budaya, suku, bahkan keyakinan. Meskipun yang mayoritas disini adalah tetap keyakinan yang gue pegang.

Lantas bagaimana jika keyakinan yang lain merayakan dan berbahagia, apa gue boleh ikut berbahagia atau sekedar mengucapkan selamat? Gue nggak mau membahasnya kejauhan, bisa cari sendiri atau tanyakan pada orang yang lebih tepat. Disini gue hanya ingin meluapkan opini subyektip semampunya otak gue berpikir tentang hal ini.

Analoginya, Jika temen gue menikah dan berbahagia, apa nggak boleh untuk gue sekedar mengucapkan selamat? Apa dengan mengucapkan selamat gue juga harus ikut nikah? Nggak kan.

Menurut gue ini kembali pada individunya sendiri, jika gue yakin dengan apa yang gue pegang, apapun yang terjadi, nggak akan merubah apa yang telah gue yakini itu. Jika gue masih takut, itu berarti gue belum yakin dengan apa yang gue pegang. Gue yakin atas apa yang gue yakini ini benar, mereka pun yakin itu benar. Dimana polemiknya? Toh banyak kisah bagaimana Nabi Muhamad menghargai keyakinan yang lain. Dan gue umatnya, sangat harus untuk mengikuti apa yang dicontohnya. Dari hal itu gue jadi tau maksud emak gue dulu mengatakan ‘Awas ngajinya jangan kabur. Ngaji itu harus dari bismillah sampai hamdalah, biar kamu nggak salah paham’

Tapi, terlepas polemik kekinian itu, juga dari gerbang pemisah budaya, ras, suku dan bahkan agama, kitapun adalah manusia, bukan? Dan itu sama.

Oh iya, selamat natal, bagi semua temen gue didunia apapun yang sedang merayakan dan yakin.

© Fahri Prahira - All Right Reserved