Monday, November 23, 2015

Nanti Itu Misteri

       Comments   
Senin tadi, juga tadi pagi, pula pagi yang penuh kantuk. Senin yang dari 70% remaja alay mengeluhkan nama hari itu. Tidak lain karena tak mau melepas hari minggu kemarin, padahal minggu nanti pun masih ada. Bukan so’bijak, tapi jujur gue nggak terlalu memusingkan atau mengeluhkan hari senin, karena gue rasa hari senin itu terasa cepet banget, jarum jam dari angka ke angka berjalan tak terasa. Tapi sekali lagi ini menurut opini subyektif gue. Dan setelah gue survey lima teman kerja, ternyata tiga orang punya pikiran yang sama seperti gue.
Entah ini perasaan atau sugesti macam apa yang jelas setiap hari selalu punya caranya sendiri, atau ini cuma menurut gue doang atau juga ada beberapa orang yang punya pemikiran sama. Yang jelas;
  • Senin terasa cepet namun penuh dengan rasa kantuk
  • Selasa lama
  • Rabu lumayan
  • Kamis cepat
  • Jum’at lama banget tapi sedikit senang karena besoknya hari libur.
Untuk senin tadi cukup berbeda dari senin gue sebelumnya, senin tadi gue kesal karena pas kepala gue mau nengok jam dinding ditempat kerja, jamnya mati. Alhasil gue nggak bisa tau berapa lama lagi istirahat? Atau jam berapa sekarang? Ahirnya gue cuma bisa menebak-nebak dari cuaca dibalik jendela, namun karena sekarang musim hujan, gelap, mendung, dan cerah yang suka datang tiba-tiba, cuaca pun tak jadi penolong buat menentukan waktu. Sugesti tentang hari senin yang terasa cepat akhirnya hilang, karena gue yang nggak bisa tengokin jam berkali-kali.
Lamunan mulai terbuka, gue memikirkan hal lain dari kebiasaan gue sering melihat jam pas lagi kerja, hanya untuk mengetahui jarum jam berada di angka berapa, agar gue bisa tau berapa lama lagi istirahat untuk makan dan senang-senang, padahal jelas itu membuat gue tidak focus kerja.
Tiba-tiba muncul pertanyaan.
Bagaimana jika tuhan memberi tahu gue, atau gue yang mampu melihat, gue besok akan seperti apa? Akan bahagia atau nggak? Karir gue bagaimana? Jodoh gue siapa? Sukses apa nggak?
Belum sempat terjawab bel istirahat tiba-tiba bunyi, serentak pula gue senang, lebih dari rasa senang dihari senin sebelumnya yang gue selalu udah siap-siap pas beberapa menit lagi istirahat.
Gue berusaha cari jawaban ditengah jam istirahat, terbayang bagaimana membosankannya hari-hari gue, jika gue tau hidup gue akan seperti apa. Nggak semisteri ini, membuat gue menebak-nebak dan berusaha keras agar esok lebih baik.


image

Image: Disney via Tumblr
Dari bel istirahat tadi, gue mengambil kesimpulan jika akan banyak kejutan untuk gue dalam hidup, dan akan banyak polemik pula sekelumit masalah untuk gue dapat kejutan itu. Mungkin ini adalah cara tuhan mensucikan hari esok untuk pembenahan gue dari kesalahan-kesalahan hari ini.

Saturday, November 21, 2015

Gue? Open mic? Iya!

       Comments   
Dulu gue ngumpulin nyali buat lari-lari saat tauran atau adu jotos sama suporter lain, dan tadi malam gue membuka celengan nyali yang udah dicicil lama banget buat naik panggung dengan tujuan berusaha ngelucu depan orang-orang.

Bruhhh……!!! Akhirnya lutut gue kembali merasakan getaran lain selain dari getaran negatif karena sperma yang menumpuk ingin segera keluar. Gue kira open mic itu gampang, nggak men. Kadar cucuran keringat sama tingkat ketegangannya itu jauh lebih mengerikan dari saat gue dapet pukulan lawan. bayangin aja lu harus ngelucu depan orang-orang, dan itu dilakuin sendirian, tapi ini bukan uji nyali yang cuma diam di tempat sepi dan sebutin ada suara apa saja. Ini jauh lebih hebat dan menantang, yang pasti jauh lebih masuk akal dari acara tivi onohh –>>

Gue ambil kesimpulan, ternyata laki itu bukan yang kuat tahan pukulan, tapi yang tetap senyum walau dipermalukan, yang berani tanding walau tau lawan nggak sebanding, atau yang tetap tegar walau mantan udah punya lagi gebetan, berani melawan ketakutan. Kalau kata nyokap gue; Cowok harus punya mental tanding dalam segala hal, nggak perlu juara, yang penting berani tanding aja dulu.

Yah walaupun open mic pertama ini nggak pecah, tapi sumpah gue seneng, akhirnya gue punya hobby baru selain ngurusi pou di gadget.

Thank Stand Up Comedy Purwakarta udah ngasih tempat dan kesempatan buat passion gue. Seruuu..!

Friday, November 6, 2015

Sombong Songong

       Comments   
Menurut gue sombong itu boleh-boleh saja, namun harus jelas untuk apa dan hal apa yang mau disombongin. Mungkin bahasa sopannya sombong adalah rasa bangga yang diambang batas wajar, jadi kalau lo mau sombong, setidaknya diri lo harus punya nilai jual. Misalnya, lo cakep, kaya, atau pinter, tapi itupun harus pake banget, seperti cakep banget, kaya banget, atau pinter banget, kalau kadarnya biasa aja, nggak usah sombong dulu, setau gue yang biasa itu cenderung diabaikan.

Nah menjadi haram ketika lo nggak punya daya jual namun tetap bersikap sombong, itu sama seperti lo pamerin keset jelek didepan orang yang punya keset bertuliskan welcome.

Tapi apapun tujuannya sombong tetap bukan hal baik untuk lo dipadang hebat. Ada banyak cara membanggakan diri, salah satunya dengan tidak merasa bangga. Karena orang paling pintar adalah orang yang tetap merasa bodoh walau ia tak henti belajar.

Kalau mau menjadi kuat ya rajin olahraga, jika mau kaya ya harus kerja keras, gampang bukan? Yang sulit adalah ketika tetap menjadi hebat tanpa harus merasa hebat.

© Fahri Prahira - All Right Reserved