Monday, October 19, 2015

Penyebab Terlalu Lama Sendiri

       Comments   
Sendiri memang tak melulu beraroma menyedihkan, ketika kesendirian menjadi kondisi untuk bisa focus pada satu tujuan. Namun apapun alasannya, sendiri tetaplah menjadi keadaan yang besifat abu-abu, karena pada dasarnya kodrat manusia ditakdirkan untuk berpasangan.

Biasanya yang ditanya orang-orang atau sodara yang sudah lama tak jumpa, bukan berapa banyak mobil yang dimiliki, melainkan;

Sama siapa sekarang?
Kapan nyusul nikah?


Dan kalau yang sudah berkeluarga.

Udah punya anak berapa sekarang?
Udah punya cucu lagi ya?


Dari situ terbukti jika nilai tertinggi sebuah keadaan manusia bukan terletak pada segi duniawi.

Sebab sebuah kepercumahan yang sangat percuma ialah ketika kesuksesan dinikmati sendirian. Dan orang kaya termiskin ialah ketika orang kaya tak punya buah hati untuk menjadi keturunannya.

Lantas kenapa sekarang banyak jomblo berkeliaran, mungkin ada banyak pasangan yang bukan cuma berdua, bisa bertiga, berempat atau berlima, tergantung kualitas atau daya jual manuasia itu sendiri. Bukan hal mustahil jika zaman sekangan selingkuh bisa dengan lima orang atau bahkan lebih.

Baiklah kita lupakan spesies orang serakah macam itu. Nah kenapa ada banyak orang yang begitu betah berlama-lama sendiri? Mungkin;

Terlalu lama sendiri, karena masih belum bisa membuka hati untuk yang baru. Move on memang tak segampang ngedipin mata, namun proses membuka hati akan lebih sulit jika membiarkan diri terus menutup dengan hal-hal baru.

Terlalu lama sendiri, karena menjadikan diri sebagai pemilih yang ribet. Memilih memang seharusnya, karena manusia selalu ingin hal yang lebih baik, namun jangan pasang kriteria yang membuat orang berpikir dua kali tentang sosok diri lo.

Terlalu lama sendiri, karena terus menempatkan diri sebagai penerima harapan, bukan penentu kepastian. Coba lupakan masalah gender, tanyakan dan pastikan, sudah banyak waktu yang terbuang cuma buat nunggu, dan ada banyak hati yang kembali pergi karena lo yang terus menunggu dia yang nggak pasti.

Terlalu lama sendiri, karena kekecewaan mendalam pada sebuah perasaan yang terus menurus dipatahkan saat berdua.

Terlalu lama sendiri karena saat jatuh cinta yang terus berupaya sendiri untuk mencintai bukan saling mencitai.


Nah yang manakah alasan lo memilih sendiri, atau mau ditambahkan juga bisa, silahkan curhat curat coret dikolom komentar.

Thursday, October 1, 2015

Selamat Dan Semangat

       Comments   
Waktu masih belajar di sebuah Pondok Pesantren di Tasikmalaya, gue sempat beberapa kali membawa pulang piala atau sekedar piagam penghargaan dari suatu lomba atau kompetisi, namun dengan mengatasnamakan Pondok, meski hadiahnya tak seberapa jika dilihat dari mata orang remaja saat itu, namun bagi anak berusia 10 tahun, itu hadiah yang sangat membanggakan, apalagi ketika teman-teman mengenal gue yang pernah juara, seperti pidato atau baca pusi. Nyokap gue doyan ngumpulin piagam atau tropi lomba yang gue ikuti, seperti ada kesenangan tersendiri saat lihat ekspresi nyokap kalau gue berhasil menang. Namun dalam perlombaan sudah menjadi hukum pasti untuk ada yang menang dan kalah, dari beberapa kali kemenangan ada banyak kekalahan yang gue akhiri dengan penuh kecewa, murung, kesal, namun nyokap dan semua guru pembimbimng gue waktu itu tak lelah mensupport, terus ngajarin gue lebih dan lebih baik lagi, walau hadiah yang kita dapatkan masih kalah sama waktu dan biaya yang telah kita buang selama latihan. Ya karena yang terpenting bagi kita saat itu adalah Nama Pondok yang gue bawa ke pusat kota untuk ditandingkan.

Waktu mengantarkan gue pada perubahan, yang dimana gue lebih mengenal rumitnya pergaulan ketibang prestasi dalam perlombaan. Belakangan ini gue sempat merasa iri sama orang-orang yang memotret semua tropi atau piagamnya. Jujur gue lebih iri sama manusia jenis mereka ketibang sama jenis manusia yang memotret kebahagiaan dengan harta tanpa secuilpun kemampuan. Mereka seolah berbahagia dengan menunggu kesedihan, kebahagiaan mereka yang pasti akan direbut waktu kapanpun. Dan jika tak ada skill, kemampuan atau bekal dalam diri, bagaimana kita bisa bertahan dari ketiadaan itu.

Setelah sekian lama gue dan nyokap haus akan sebuah prestasi, kemarin tepatnya, Minggu 27 September 2015 gue mendapat penghargaan yang menurut gue luar biasa. Gue yang sudah lama menggeluti dunia blogger untuk menyalurkan hobby menulis gue, yang lebih banyak di isi dengan curhatan ketibang hal-hal bermanfaat. Pada suatu ketika gue mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan Polda Metro Jaya, untuk memperingati HUT Ditlantas Polda Metro Jaya yang bertema “Apa harapan anda kepada kepolisian untuk mengatasi kemacetan”. Sebenarnya ini bukan lomba pertama yang gue pernah terdaftar jadi peserta, namun ini jadi sejarah pertama gue menang dalam lomba dengan jenis/hobby baru gue, yaitu menulis. Lomba dengan mengatasnakan instansi hukum dan bersipat nasional, sudah tentu yang mendaftar banyak, juga sudah tentu pula saingannya bukan lagi kelas amatiran seperti gue. Terus kenapa gue ikut? Ya karena mau saja, urusan hadiah menjadi no sekian, karena dari sekian banyak perlombaan menulis gue nggak pernah menang, jadi nggak berharap banyak, yang penting bisa menulis dan mengembangkan pemikiran gue sekaligus menambah jam terbang tulisan gue. Yang jadi juri diperlombaan ini adalah orang-orang hebat, entah khilaf atau apa, mereka bisa menobatkan tulisan gue menjadi tulisan yang masuk di 6 nominasi terpilih.
Alhamdulillah, itulah kata pertama yang harus keluar dari mulut gue, pada hari minggu pagi di panggung pinggiran Bunderan Hotel Indonesia Jakarta. Panitia memutuskan jika tulisan gue menjadi juara pertama, tulisan gue terpilih menjadi tulisan terbaik di antara ratusan naskah yang diikut sertakan. Tak menyangka, namun banyak kisah atau hikmah dari kejadian ini, dan mohon maaf nggak bisa gue ceritakan banyak disini, terlepas dari hadiahnya satu unit Laptop Toshiba satellite click 2 pro, dan selembar piagam penghargaan yang sudah nyokap gue nantikan.
 Terimakasih, karena karya gue bisa dinilai dengan harga yang begitu besar. Terimaksih untuk yang selalu meluangkan waktu buat baca tulisan-tulisan gue. Terimakasih untuk jamuan istimewa dari para kapolda, gue merasa dihargai untuk hari itu. Dan terimakasih untuk hadiahnya, yang kebetulan bulan kemarin leptop kesayangan gue yang dibeli bukan dengan cara gampang harus terpaksa dijual. Dengan adanya leptop baru yang gratis ini hasil dari sebuah karya gue yang terbilang alakadarnya, seperti ada bisikan tuhan yang datang melalui leptop ini
“Makin rajin nulisnya, tuh leptopnya udah dikasih lagi”
Dan selamat juga untuk pemenang yang lainnya, lain kali kita bertemu kembali dipanggung kemenangan yang lain. Amin! Gue cuma punya dua kata yang bisa mendeskripsikan semua ini. Selamat dan semangat.

Untuk melihat 6 tulisan yang terpilih bisa baca blognya Mas Achmad Fazri. Klik disini.

© Fahri Prahira - All Right Reserved