Thursday, July 30, 2015

Ingin/Mau

       Comments   
Stand up comedy adalah acara favorit saya, menurut saya itu acara anak muda banget, selain itu penontonya kebanyakan mahasiwa/mahasiswi cakep-cekep. Komika andalan saya, Soleh Solihun, Ernest Prakasa, Pandji, Sammy, juga si cupu Dodit. Stand up comedy di adakan memang untuk ditertawakan. Hidup ini singkat, so sangat disayangkan jika setiap detiknya harus dibuat murung. Namun walaupun itu komedi yang faktanya harus tertawa, adakalanya saya tidak ingin tertawa saat penonton lain dengan terbahak-bahak menikmati kelucuan materi sang komika.

Kalau kata Pandji tertawa itu refleks atau dengan istilah lain Involuntary response, jadi melarang orang untuk tertawa itu sulit, begitupun dengan menyuruh orang tertawa juga sulit.

Sekeras apapun orang dihadapan saya melucu, jika saya tidak mau tertawa, ya saya diam, dan ketika dengan hanya gerak sedikit saja orang dihadapan saya, jika saya ingin tertawa, maka saya akan tertawa. Oke tertawa itu refleks atau spontan, begitupun dengan saat saya menulis.

Ada sebagian orang yang menyebut saya sebagai penulis, saya suka namun kurang setuju, sebab yang saya tau penulis adalah mereka yang sudah punya buku, atau penulis adalah mereka yang memiliki pembaca yang loyal, dan saya pikir saya tidak punya kedua-duanya.

Pembaca saya masih orang-orang terdekat, teman dan keluarga saya saja, itupun karena saya paksa untuk baca, sambil saya ancam mereka, kalau tidak baca saya pastikan mereka tidak akan tahu saya nulis apa, kadang ada juga pembaca yang nyasar ke blog, dan ujung-jujungnya minta Visit back, padahal cara mempromosikan seperti itu saya pikir sudah terbelakang, kuno.

Selain itu ada pula yang mengenal saya sebagai blogger, sekali lagi saya suka tapi kurang setuju, sebab menurut saya blogger adalah ia yang sering memposting dengan konsisten. Dan saya pastikan saya tidak, bisa dilihat pada arsip blog ini, dalam sebulan saya bisa tak pernah memposting tulisan, namun ada juga yang hanya satu malam saya bisa memposting tiga artikel sekaligus.

Sering saya katakan, jangan berharap materi yang bermanfaat atau berbobot dalam tulisan saya, karena terkadang saya pun tidak paham tujuan atau maksud untuk apa yang saya tulis. Semua mengalir dengan apa adanya jemari saya menari. Banyak kutipan atau quote yang berhubungan dengan kegiatan menulis, jika menulis itu hal positif, jika menulis itu blablabla…. Persetan dengan semua kalimat bijak itu, demi Tuhan saya menulis karena mau, hanya karena ingin, tidak lebih dari itu, seperti halnya tertawa tadi. Sebayak atau sekeren apapun cerita hari ini, jika saya tidak ingin menulis, tidak akan saya lakukan, dan ketika satu menit saja saya punya ide, jika saya ingin menulis, pasti saat itu juga saya lakukan.

Makanya banyak catatan di handphone saya, ketibang di laptop, karena saya menulis dimanapun jika saya ingin lakukan. Lantas alasan apalagi yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu jika bukan atas dasar keinginan, seburuk apapun hal itu. Contoh; saat ini saya bekerja di tempat yang tidak saya inginkan, bukan job desk saya, tak sesuai dengan hobby saya. Pertanyaannya kenapa saya lakukan, karena saya ingin uang.

Hanya dengan modal keinginan, orang bisa berpikir lebih hebat, bergerak lebih cepat, bahkan bisa menjadi loyal dalam mengucap syukur. Jadi kalau kamu nggak punya keinginan, apa masih pantas untuk saya sebut manusia?

Karena manusia adalah mereka yang selalu ingin, mereka yang selalu mau.

Wednesday, July 29, 2015

Generasi Menolak Luka

       Comments   
Gue dan beberapa orang lainnya yang tumbuh dan berkembang di tahun 90an adalah termasuk kategori generasi X. Anak-anak digenerasi ini sangat akrab dengan rasa lelah, sebuah proses, pentingnya ketelitian, pukulan tangan, luka lebam, patah hati, dan patah tulang, dari semua hal itu, mereka juga dituntut untuk sabar yang benar-benar sabar, untuk balas dendam tanpa bawa banyak teman, menahan sakit tanpa harus merasa tersakiti, setangguh-tangguhnya mereka tak dibuat riya.

Dan para makhluk tuhan yang tumbuh setelah generasi X, disebut generasi Y dan Z. Generasi dimana semua bisa serba instan, tanpa harus mukul dengan tangan lawan bisa tewas dari kejauhan, ceroboh, asal itu suka sikat saja, jatuh hati sampai patah hati bisa diutarakan hanya dalam kolom chatting, balas dendam dan pulang bawa banyak teman, semua menjadi terasa kurang jika kepedihan dan kesedihan tak dibagi lewat kolom update.

Ketika generasi X yang haus akan sesuatu yang baru, generasi Y dan Z datang dengan berjuta kemudahan dan kelemahan mental. Semua kini menjadi terasa mudah, juga terasa manja. Sebagian generasi X meluapkan dahaga dengan apa yang ada di kekinian, dan melupakan teori-teori leluhur tentang ilmu cara melahap yang baik. Pada akhirnya mereka muntah. Kita tak bisa menyalahkan teknologi, sebab jika teknolgi ada di jaman empu gandring pun mereka juga akan pakai, mungkin ken arok dan ken dedes bisa jadian di facebook.

Kini mau apa-apa tinggal tekan, tapi bukan berarti harus menjadi si-pengecut yang dengan sejuta progres tanpa ingin tau panjangnya proses. Tak harus menjadi riya, dengan menyebar kecewa pada jutaan mata halayak didunia maya. Sebelum bahagia, jatuh dan termentahkan begitulah selaknya kita. Bukankah kita dilahirkan dengan menangis dulu, bukan tertawa dulu. Meludahi dengan rela untuk diludahi, menekan dan sangat siap ditekan, lalu nikmatilah luka. Bukan merengek manja dengan apapun yang dirasa mereka wajib tau. Rasa itu punya kita, maka kendalikanlah oleh kita.

Thursday, July 23, 2015

We were born to be young forever

       Comments   
Tulisan ini sebenarnya gue buat dibulan puasa, namun baru sempat gue posting sekarang, karena sibuk banget, sibuk santai kalau kata sisurayah. Hehe.
Happy fuckin bornday bang! My Allah bless u always, gotta much better than the last. Makin bagus postingan nya, dikelilingi orang-orang tersayang, pertemanan kita awet juga ya bang, hehe
Pesan yang datang di pagi hari, setelah sahur, selasa 7 Juli, 2015. Dari pembaca blog gue, yang pasti teman dunia maya yang nggak pernah ketemu, yang gue tau dia mahasiswi IPB Bogor jurusan akutansi. Katanya, dalam percakapan singkat dengannya di beberapa waktu yang lalu

Siangnya, disusul ucapan dari teman-teman dekat, yang paling dekat, yang jelas yang ingat. Kerena tak ada bentuk tulisan atau pemberitahuan dari social media apapun milik gue, untuk berusaha mengingatkan kalau hari itu adalah hari dimana dulu gue turun kebumi dengan menjerit nangis, dari lobang perempuan manis, akibat ayah yang nakal terlalu bersenang-sengang diruangan sempit bersamanya waktu itu. Dan tanggal 7 Juli 2015 Tsahh… gue berumur 23 tahun, Ahh makin tua, makin menyebalkan. Segala bentuk ucapan sampai minta traktiran nongol di layar handphone gue hari itu.

Ditengah malam, saat gue asik main billiard bersama teman-teman yang tadi siang minta traktiran, gue kasih bola biliard biar cepat kenyang. Satu pesan masuk, ketika gue lagi duduk nunggu giliran nendang bola. kalau tidak salah, ya benar, pokonya yang gue ingat isi pesannya seperti ini:
23:23 masih tanggal 7 kan?, selamat ulang tahun ya, jadilah apa yang kamu mau, aku sengaja ngucapinnya sekarang biar jadi yang terakhir, hehe
Jujur kedua ucapan itu menjadi moodboster buat gue, adem banget bacanya. Sebenarnya sih kalimat biasa namun efek dari ucapannya yang gue suka.

Pesan yang pertama, gue suka, karena sudah lama banget gue nggak buka lepi untuk nulis, sampai udah berlumut berisi jombie, entahlah seperti kehilangan power di jari-jari gue. Banyak yang nyemangatin untuk terus nulis, tapi teman-teman dekat dan keluarga gue doang, bukan nggak mau, namun gue rasa mereka seperti itu, karena ingin gue rajin, atau kasihan sama gue yang nggak ada kerjaan, bukan atas dasar suka sama tulisan gue, ya walaupun kenyataannya nggak sperti itu, sebab itu hanya prasangka saja. Tapi sepertinya gue butuh yang lain, gue butuh orang lain, gue butuh yang nggak kenal gue, begitupun sebaliknya, gue butuh orang yang hanya kenal sama tulisan gue. Yups, tuhan ngasih apa yang gue mau secepatnya, dipesan pertama adalah jawabannya. Sedangkan dipesan kedua, gue sangat suka dengan cara penyampaiannya, unik dan tak sadar menarik bibir gue buat senyum lalu ketawa terbahak bahak, sendirian, lalu orang yang melihat pun bengong.

Sebenarnya gue nggak berharap ada yang spesial dihari itu. Alasannya, karena gue jomblo, yang nggak mungkin nunggu kado atau bahkan sekedar ucapan selamat dan do’a dari orang spesial. Tapi ternyata kebahagiaan ini lebih dari sebuah status seorang pacar. Niatnya gue ingin dihari selasa tanggal 7 itu biasa, gue hanya berdo’a dan selalu berharap untuk supaya segala kesemogaan gue jadi kepastian. Karena masih banyak yang ingin gue capai diluar akhir perjalan manusia yaitu, nikah, punya anak, hidup berkah dan mati khusnul khotimah.

Cuma dua cara sedehana yang gue tau untuk membalas suport mereka, tetap bersyukur dan terus berusaha. Kalau ada hal yang lebih tinggi dari ‘Terimakasih’, pasti sudah gue lakukan. Tapi ahh, sudahlah, pokonya terimakasih banyak untuk semua yang sudah mau-maunya ingat, untuk kue yang gue tiup lalu gue makan lilinnya, dan segala benda dibumi yang telah dikasih.

Gue sayang kalian, beruntung punya kalian, dari teman yang waras sampai yang benar-benar gila. Gue harap kita tetap senang-senang, dan selalu senang-senang, gue suka dengan cara kita saat bersenang-senang, saling menyenangkan begitulah kita seharusnya, bukan? Dampingi gue menjadi dewasa yang tau diri bukan menjadi si-tua yang menyebalkan dan tak berarti. We were born to be young forever.

© Fahri Prahira - All Right Reserved