Saturday, May 30, 2015

Jangan Manja Untuk Hal Yang Biasa

       Comments   
Pernah mendengar kasus seorang pria bertatto di Bandung, yang menginjak sarana umum yang telah diperindah oleh pemerintah kota bandung. Kebetulan gue follow account twitter @Infobandung Bapak @ridwankamil dan sederet account twitter teman asal kota Bandung, walaupun sebenarnya gue bukan orang Bandung.

Kasus itu menjadi hits, sudah tentu di social media, karena disitulah yang menjadi awal tumbuhnya kasus itu. Netizen dengan puas dan berbondong-bondong menghujat orang itu, ada pula yang sekedar mengingatkan. Nah pria bertatto itupun jadi populer, pastinya dia malu dengan sikapnya, dia langsung meminta maaf dengan mengirim surat pada Bapak Ridwan Kamil, gue sempat melihat suratnya di instagram dan katanya dia pun mendapat hukuman ngepel Jalan Braga. Gue suka karena pemerintah kota bandung sangat tegas, membuat gue ingin sekali pindah kesana agar ngepel bareng pria yang gue lupa namanya siapa. Mau cari tau males, tapi waktu itu gue ikuti beritanya.

Itu satu kejadian dari banyaknya pelanggaran yang dipublikasikan ke media social dinegri ini dan bukan hanya di Bandung. Lalu kerap menjadi kabar populer. Tak salah sih, dan itu pantas, untuk membuat jera dengan rasa malu didepan mata publik. Namun gue pikir pantas jika kita disebut generasi latah, yang serba ikut-ikutan, sebab sejak kejadian itu, Netizen yang melihat pelanggaran berlomba-lomba memotretnya lalu melaporkan kepihak terkait. Gue rasa itu berlebihan jika ukuran pelanggaran masih bisa ditangani oleh rasa kemanusiaan. Entah tujuannya memang benar ingin melaporkan atau hanya sekedar axis dimedia social agar di retweet oleh pak Ridwan Kamil yang followernya banyak.

Menurut gue jika masih bisa ditegur atau dikasih tahu oleh diri sendiri, kenapa harus melaporkannya pada pihak yang lebih tinggi, jika memang sudah ditegur tetap ngeyel bahkan ngajak berantem, mungkin disitulah kita dapat mengadukannya. Toh kita nggak mau disebut tukang ngeluh, tukang ngadu yang dikit-dikit ngeshare photo. Phone capture everything itu ga selamanya bagus loh, sudah banyak korbannya. Tolong jangan manja untuk hal yang biasa.

Saturday, May 16, 2015

Sewajarnya Ekspektasi Dan Realita Manusia

       Comments   

Ekspektasi terkadang lebih keji dari kenyataan. Keji disini gue artikan sesuatu yang berlebihan. Yap, sebuah pengharapan memang mudah diciptakan, kita bisa berangan-angan seperti apapun dan bagaimanapun maunya kita. Waktu dan kesempatan ikut andil dalam membentuk sebuah harapan, mimpi atau angan-angan.

Gue sering mendengar ungkapan ‘Jangan terlalu berharap’ pertanyaan gue, memang ada alat ukur untuk membatasi harapan yang kita ciptakan. Tak muluk-muluk, kita manusia selalu ingin lebih dan lebih, dan itu tanpa disadari melayang layang dibenak, berhenti sejenak lalu direspon oleh pola pikir kita yang meng-iyakan. Dorrrr…!!! Harapan pun muncul, ketika harapan sebelumnya belum terpenuhi, kini bertambah lagi harapan baru, dan terus menggunung.

Puncak yang jadi masalah atau kegalau-an yang kerap dieluh-eluhkan adalah saat realita yang terjadi jauh dari apa yang diharapkan. Sakit? Tentu. Ingin marah? Tentu. Pasrah? Bisa. Semua campuraduk menjadi satu gumpalan nafsu didada. Mungkin kejadiannya tidak begitu mengerikan jika apa yang diharapkan adalah sebuah hal kecil. Namun beda lagi kasusnya jika harapan yang kita ciptakan adalah masalah pelik dan rumit dalam hidup atau bahkan yang selama ini kita impi-impikan, seperti;
  • Tidak diterima di Universitas yang diinginkan. Saat lo sudah yakin, dan telah mempersiapkan semua, bahkan membayangkan duduk bercanda dengan teman-teman baru dalam kampus itu.
  • Di tolak diperusahaan yang diimpikan. Saat lo telah menyimpan banyak rencana dengan gajih pertama diperusahaan itu.
  • Masalah pelik perasaan. Jleeebb jreng jreng..!! Bentar gue mau minum dulu agar nulisnya calm, okey. Ya, saat lo telah yakin dengan apa yang lo lakuin untuknya dengan segala macam problematika cinta, namun realita berkata lain, lo tak pernah dianggap ada.? Owhh… sabar ya bro.
Nah dititik itu semua menjadi terasa berantakan, ko jadi begini, ko jadi begitu, keadaan pun kerap disalahkan, atau bahkan tuhan yang telah menggenggam rencana lo kedepan jadi sasaran pertanyaan-pertanyaan dari keterpurukan lo.

‘Ya tuhaan, kenapa jadi begini? Kenapa kau uji aku seperti ini,? Ya tuhan jika dia bukan jodohku jauhkan dia. Ya, tuhan tak mungkin aku berhenti mencintainya, namun ijinkan aku untuk bisa hidup tanpanya’ syalalala…

Dan do’a ditulis dipesbuk, biar banyak yang nge-like. Taee kan.

Ada yang kaya gitu?

Sewajarnya manusia berharap itu pasti, mungkin kita tidak bisa menghentikan derasnya laju pengharapan dibenak, namun setidaknya kita telah siap dengan apa yang terjadi setelah itu. Bersyukur kita masih bisa membentuk sebuah pengharapan.
Karena yang paling pedih dalam hidup adalah, bergerak tapi tanpa tujuan, lebih dalam dari itu bernafas tapi tanpa punya harapan.
Tau orang gila? Nah itu.

© Fahri Prahira - All Right Reserved