Tuesday, April 28, 2015

Passion Before Fashion

       Comments   
Seperti yang kita ketahui jika streetwear masih merajai di kategori gaya busana remaja terbaik tahun ini, dengan gaya yang semakin beragam dan sporty. Untuk baju, tahun 2014 yang lalu mulai dimasuki ke fase ke-rok-rok-an, kaos gombrang ke bawah sampai menyerupai rok, kemeja flanel yang diikat di pinggang menyerupai rok kaya mau tur ke Pamanukan, bahkan ada cowok yang memakai rok beneran. Untuk celana, celana panjang model dilinting/dilipet masih ngetren dan sekarang mengarah ke sporty sepertinya, celana model training dengan karet di bawah pergelangan kaki mulai booming di tahun ini, istilah kerennya adalah Jogger Pants, memakai celana model ini agak riskan, kalau cocok ya keren, kalau enggak cocok ya jatohnya jadi kaya ibu-ibu senam pernapasan tiap Minggu pagi.
Gue pikir semua dimulai dari genre music yang sekarang makin marak didengarkan, ada yang benar suka, ada juga yang sekedar ikut-ikutan, yakni music local/indie seperti punk, hardcore, atau secara garis besar music metal, yang dalam liriknya kerap meneriakan soal idealisme, social, dan perlawanan, pada masa itu semuanya serba Fuck, pokonya asal memakai kata Fuck, udahlah keren, Fuck ini, Fuck itu, anti ini dan anti itu, salah satu yang dilawan mereka adalah kata ‘trend’ ya, mereka kerap mengatakan anti trendy, namun kebablasan jadi ngetrend beneran.

Gue merupakan satu dari banyak orang yang suka dengan genre local seperti itu, dengan vocal yang teriak-teriak nggak jelas, musik penuh semangat, alasan nya karena music seperti itu terbilang langka, dan yang langgka itu special. Semakin kesini aliran music terus bermetamorfosa, dari yang tadinya searah tapi sekarang seperti satu kendaraan untuk berbagai tujuan. Iya kali Primajasa. Enggak dipungkiri lagi EDM (Electronic Dance Music) adalah jawabannya. Karena EDM sudah menyentuh ranah pensi dari sekolah ke sekolah. EDM bisa juga disebut genre metal ‘masa kini’ dengan sentuhan synthesizer toet-toet yang nyelengking disempurnakan vocal tinggi yang nyaring. Di genre ini juga pernah ngetrend rambut kembung acak belah pinggir gondrong nanggung yang sempet diikuti Kevin Vierra, dan gue pun sempat ikutin, namun karena gue bukan kevin, alhasil jatohnya jadi kaya Rano Karno selesai wisuda. Mungkin sebentar lagi aliran ini akan muncul di tv, dan mungkin pula akan hilang kespesialan pada aliran ini.

Sebenarnya tak ada yang salah mengikuti trend-trend seperti itu, karena gue sendiri tergolong orang yang mengikuti arah suatu masa, kalau kata nyokap gue ‘Hirup mah kudu ngigelan jaman’ tetapi alangkah baiknya untuk mempelajari apa yang kita pakai bukan sekedar meniru atau ikut-ikutan yang penting gaya, agar kita nggak selalu disebut sebagai kaum latah. Kalau kata band H2O. Passion Before Fashion.

Thursday, April 16, 2015

Tai

       Comments   


Senja yang tenang, sebuah keadaan pengantar kesunyian, siatuasi dimana sang penguasa hari lekas pergi, tergantikan rembulan yang kembali datang seperti malam tadi. Berputar, terus berputar sampai saat dimana keduanya bertabrakan hebat dan aku, kamu, dia, juga mereka lebur. Tapi yasudahlah jangan bahas itu, aku belum siap. Sungguh belum siap.

Ku tengok jarum jam ditangan, sesekali mengerutkan dahi karena waktu yang kuhabiskan didalam angkutan kota ini cukup lama. Macet penyebab utama, aku bisa apa, mereka juga bisa apa, kita semua bisa apa. Sabar adalah satu-satunya cara dengan sesekali bibir mengeluarkan keluhan setelah selesai melihat waktu di jam tangan untuk yang kesekian kalinya. Ahh.. Tai.

Tai adalah sesuatu yang harusnya dikeluarkan, namun jadi hal yang sering di utarakan. Aku belajar banyak dari dia, tentang bagaimana ikhlas setelah dibuang, dan bagaimana belajar melupakan seolah tak ada apa-apa, dia merelakan dirinya hanyut begitu saja, tanpa menuntut banyak akan kesalahan ku membuangnya. Thank Tai.

Monday, April 13, 2015

Polemik Kekinian

       Comments   
Sejak perkembangan internet masuk ke negri ini, lalu meyelusup ke pelosok-pelosok desa, disitulah perubahan dimulai, dampak dari itu, banyak hal negative ketibang hal positive. Kalian juga sudah tau dengan apa yang terjadi dikekinian.  Jika melihat tingkah pola anak sekarang bikin kita geleng-geleng kepala, anak baru lahir udah bisa pake motor, mobil, lalu nabrak puluhan orang sampai mati. Dan polisi tak bisa berbuat banyak karena hukum yang masih dikategorikan kenakalan anak dibawah umur. Masih bau minyak telon, udah bisa megang gadget, main game online sampe mampus, facebook-an, twitter-an, nonton bokep di youtube, dan lebih percaya nanya ke google ketibang nanya ke bokap nyokap atau guru.

Di zaman pra-internet, kalau mau kenalan sama cewek, hanya ada dua pilihan menyakitkan. Berani samperin lalu ajak kenalan, atau dibiarkan begitu saja, mengubur perasaan yang menerobos ke batin lalu tipes. Kalau nggak punya keberanian, siap-siap saja untuk jadi olok-olokan temen. Di zaman dulu tak ada yang namanya galau, susah move on, LDR, atau semacamnya. Karena segala hal yang dilakukan cuma memberi dua kepastian.
Bahagia atau kecewa.
Ya, sesimpel itu. Lebih cepat move-on setelah patah hati karena tak ada bentuk media apapun yang terus mengingatkan kita untuk berlama-lama patah hati. Ingat muslim yang baik tidak berlarut-larut dalam kesedihan dia percaya dengan segala ketentuan Tuhan, ehhm.. *Benerin Peci*

Sekarang adalah zaman instans, semua serba digital, dari mulai menanak nasi, bikin kopi, sampai boker juga patah hati. Kenalan tak harus pasang raut muka malu-malu, canggung, deg-degan, lutut gemeter, tapi tinggal pergi ke kolom chating, facebook, twitter, path, Bbm dan sekutunya, lalu ungkapkan apa yang mau di katakan, kalau merespons lanjutkan kalau tidak ya selesai, cari lagi nama lain di kolom chating, lakukan hal sperti itu lagi, dan terus, terus, terus seperti itu sampai beyonce buat album religi.

Akibatnya, banyak pelecehan, pencemaran nama baik, pembunuhan, penculikan, atau perselingkuh yang semua dimulai dari chating atau alat komunikasi digital, dengan bercanda yang berujung di jeruji penjara. Terang saja karena dengan hanya menatap photo dan biodata yang ditulis, kita sudah bisa mendeskripsikan seseorang. Dari situlah muncul istilah Pencitraan Media. Tak hanya deretan para aktris yang bisa buat sensasi, sekarang orang miris pun bisa buat sensasi, belaga bak selebriti.

Orang mulai berbondong-bondong membuat segala jenis akun social media tanpa mengerti cara pakai dan fungsinya. Update status sebijaksana mungkin, walau pun hasil copy paste dan tidak mencantumkan pembuatnya (Woy, creative itu susah) Update photo semewah mungkin, seakan segala sesuatu publik pun harus tahu, dari mulai makan, minum, tidur, sampai photo lagi dirumah sakit dengan infusan masih menempel. Segala bentuk cara modus ada, dari Test contact, Maaf bersihin contact, Broadcast Pin, masalah keyakinan, sampai broadcast bawa-bawa takdir tuhan.
Padahal hidupnya belum tentu sebahagia dan semewah dari apa yang biasa kita lihat di setiap update-annya.
Kita tak bisa menahan datangnya perkembangan internet yang masuk dengan begitu cepat, dan salah juga jika pura-pura tidak tahu, atau berusaha menutup mata dengan segala yang ada saat ini. Gue nulis begini, bukan berati gue anti social media. Justru karena gue sudah ngalamin segala hal negative akibat itu. Namun sampai saat ini situs social yang gue anggap perlu cuma Facebook (Yang hampir gue tinggalin), Twitter (Untuk pencitraan), Intagram (Untuk sombong), Youtube (Untuk video lah), dan blog (karena suka dengan kode pemograman). Selain itu berarti gue anggap fungsinya masih sama.

Kita tak bisa menyalahkan perkembangan internet, karena seperti yang pernah gue katakan segala sesuatu pasti ada nilai phositive yang dapat kita ambil. Banyak sekali hal-hal baik dalam internet, yang jauh lebih bermanfaat dari hanya sekedar bergalau ria (Jujur malah geli kalau lihat yang tiap menit galau, atau mencaci mantan) Gue saranin, kumpulin kisah patah hati kamu sampai 100 halaman Hvs lalu kirim ke penerbit. Tsahhhh.. hari itu kamu jadi penulis buku.

Menggunakan ewajarnya, itu lebih baik, karena mereka yang kamu kenal disana hanya peduli sebatas apa yang mereka lihat. Saat kamu meringis kesakitan, temen nyata yang jelek, idungnya pesek, muka nggak karuan lah, yang bakal jenguk dan do’ain kamu. Yang membuka telinganya untuk mendengarkan mu, memberikan pundaknya untuk mu bersandar lelah. Cintai dan berterimakasih lah padanya.

Sunday, April 12, 2015

Masalah Pelik Persahabatan Lawan Jenis

       Comments   
Postingan gue masih dalam segment persahabatan. Sebagai bentuk pembelaan diri seorang jomblo, apalagi kalau bukan riangnya pertemanan. Lebih mengerucut dari bahasan gue sebelumnya, kali ini gue akan membahas tentang ‘Peliknya Persahabatan Lawan Jenis’. Bukan pertemanan, tapi persahabatan, karena menurut gue teman dan sahabat itu beda, jika perlu penjelasan baca dulu tulisan gue yang ini.

Oke langsung aja, *pletekin jari jemari*

Seperti yang sering kita dengar, tak ada yang mustahil didunia ini, begitupun dengan sebuah persahabatan lawan jenis. Tak mustahil untuk benar-benar menjadi sahabat sampai tua dan mati, namun tak mustahil juga untuk jatuh cinta sampai mati.
Gue adalah orang yang nggak yakin persahabatan lawan jenis itu benar-benar ada, dengan nilai-nilai persabatan yang semestinya.
Sahabat menurut gue punya tempat istimewa, bahkan tahtanya sedikit lebih tinggi dari seorang pacar. Ingat yang gue sebut disitu pacar, beda lagi kasusnya kalau udah meried. Yakali, gue mau ngurusin sahabat terus. Gue merupakan salah satu orang yang sangat beruntung dimana hari-hari gue diwarnai oleh para sahabat.

Sahabat adalah komedian tak berbayar, komentator tak teratur lebih dalam dari itu, sahabat adalah kebahagiaan yang tak berdinding, dimana semua terlihart transparan, semua dibuat se-apa adanya mungkin, tanpa terhalang oleh perasaan cinta atau ketertarikan seksual terhadap sahabat kita sendiri. Itulah yang gue berikan dan dapatkan ketika menempatkan diri gue dalam persahabatan. Pertanyaannya;
Apa iya, gue bisa berada didalam dunia seterbuka itu dengan lawan jenis. Yaitu perempuan?
Mengamati dari semua curhatan teman atau bahkan pengalaman gue sendiri. Faktanya ketika kita memposisikan diri dengan lawan jenis, selalu hadir perasaan lebih. Kalau nggak cewenya yang punya perasaan lebih, atau si-cowoknya, atau mungkin keduanya memiliki perasaan yang sama. Ada juga yang sampai pacaran, lalu putus. Apakah putusnya hubungan sebagai pacar, putus pula hubungan sebagai sahabat? Lalu apakan disitu cinta harus jadi sesuatu yang di kambing hitamkan, apakah disitu perasaan yang harus menjadi alasan atas segala kehancuran hubungan. Tentu tidak, kerena ketika putus. Ya, kembali lagi menjadi sahabat. Permasalahannya;
Tak banyak orang yang mampu mengembalikan situasi atau kedekatan persahabatan saat sebelum menjadi pacar dan setelah menjadi mantan pacar.
Kita tak bisa menyalahkan datangnya cinta dan perasaan yang lebih pada seorang sahabat lawan jenis. Karena yang gue tau, tak pernah ada sebuah tatak rama atau salam permisi untuk datangnya cinta. Seperti yang sudah kita ketahui selalu ada keganjalan yang indah dibalik persahabatan lawan jenis. Kenapa gue bilang indah.? Karena selalu ada rasa lebih dari sekedar peduli, kerap ada rindu dari sekedar ingin bertemu. Ada yang tersembunyi yang belum terungkap, dan akan terus menerus dikatakan ‘belum’ bila tidak ada keberanian mengungkap. Anak gaul biasa menyebutnya friendzone.
Kita semua tahu dibalik keberanian yang hanya segede upil pinokio, ada rasa yang lebih besar dari itu. Yaitu rasa takut kehilangan, rasa takut penolakan, rasa takut akan kedaan baru atau bahkan rasa takut menunjukan ketertarikan seksual.

Kesimpulannya. *anjrit berasa bikin makalah*.

Jadi semua kembali pada diri kita menanggapinya seperti apa. Memilih memendam perasaan atau bahasa keji nya terbunuh oleh cinta. Apa memilih mengutarakan dan menerima akan segala hal yang bakal terjadi setelah itu.
Karena menurut gue, banyak nilai plus yang kita dapat dari persahabatan menjadi cinta, kita akan lebih tau mendalam tentang orang yang kita cintai karena tak dibatasi gengsi. Dan gue selalu berharap pada suatu hari kelak, orang yang gue nikahi adalah kekasih yang juga bisa menempatkan dirinya sebagai sahabat gue sendiri. Percaya atau tidak gue pikir disitulah titik kebahagiaan relationship sesungguhnya. Josss..!

Saturday, April 11, 2015

Sampai Jumpa

       Comments   
Malam ini aku ingin bercerita, jadi mohon maaf jika aku membangunkan mu. Baiklah akan aku mulai ceritanya.

Namaku Maya Sugandi, anak tunggal dari Herman Sugandi, waktu itu usia ku 19 tahun yang kebetulan satu minggu lagi, tepatnya 20 Januari usiaku genap 20 tahun. Ayah ku seorang advokat/lawyer kondang, yang suka menangani kasus-kasus besar. Klien nya tak hanya di indonesia, banyak juga dari luar negri yang memintanya untuk menangani kasus mereka. Ibu ku, sama seperti ibu mu, wanita, juga suka ngegosip bareng ibu-ibu yang lain, ikut arisan atau shoping. Secara financial keluarga ku bisa dikatakan lebih dari cukup, apapun yang aku mau pasti aku dapatkan.

Oh iya, aku punya pacar namanya Rendi, dia tampan, baik, juga penyayang, aku mencintainya, begitu pun dia, aku tahu karena sikapnya menunjukan seperti itu, dan sejauh ini tak ada hal yang membuat ku kecewa padanya.

Belakangan ini ayah dan ibu sering bertengkar, aku tidak tahu apa masalahnya. Ah, kupikir hanya masalah rumah tangga biasa. Ayah jadi sering pulang malam, begitu pun dengan Ibu, mereka sibuk dengan dunianya, begitu pun aku, kita masing-masing, pulang kerumah seperti pulang ke kosan. Rumah yang megah nan besar seolah menjadi sempit dengan semua sikap kita.

Satu ketika aku bertemu ayah yang baru pulang dan kebetulan aku belum tidur. Ku hampiri dia yang sedang duduk lemas dikursi ruang keluarga, ku bawakan teh hangat kesukaan nya, yang tidak mau jika terlalu manis. Aku memulai percakapan untuk meringankan lelahnya sambil ku pijat tangannya satu persatu.

‘Ayah ada masalah apa sama ibu’ Tanyaku santai.

‘Biasa ibu mu suka ikut campur dengan kasus yang sedang ditangani ayah. Oh ya, ibu mu sudah pulang.?’ Ucapnya menatapku penuh lelah.

‘Sudah ko, tadi sejam sebelum ayah pulang, sekarang ibu sudah tidur’

‘Syukur deh, padahal ayah seperti ini, untuk memenuhi kebutuhan kalian juga’

‘Iya, aku mengerti yah’

‘Emang kasus ayah kali ini berat, ko ibu sampai ikut campur’

‘Lumayan, karena lawan dari klien ayah yang terus bersikukuh tak mau kalah, begitu pun dengan klien ayah, kita sama-sama punya bukti sama-sama kuat, tapi ayah optimis untuk menuntaskan kasus ini, oh iya kamu masih pacaran sama Rendi?’ Ucapnya.

‘Masih yah’

‘Rendi serius nggak sama kamu?’

‘Sejauh ini sih, ku lihat dia serius, mungkin mau nyelesein dulu kuliahnya, begitu pun aku’

‘Oh bagus, kapan dong ajak main dia sama keluarganya kesini, buat makan malam bareng’

‘Ayah kan sibuk, dan katanya keluarganya juga masih sibuk, karena ayahnya juga sama seperti ayah, seorang pengacara. Tapi aku janji, pasti aku bawa keluarga Rendi kesini’

‘Yasudah, udah malam kamu tidur gih’ Ucapnya mengakhiri percakapan. Lantas aku pergi ke kamar tentunya untuk tidur.

Aku mau memberi tahu kamu tentang aku dan Rendi. Kita pacaran sudah hampir dua tahun dan selama itu pula, keluarga kami belum pernah satu kali pun bertemu. Ya, tidak lain karena sama-sama sibuk. Kadang aku iri dengan teman-teman ku, yang jika dihari libur, jalan bersama keluarga. Bukan, bukan aku tak mensyukuri hidup ku. Aku sangat bersyukur dengan kedaan ku ini, mungkin ini nilai plus buat ku sebagai pengganti kasih sayang yang hilang, dan kerap membuat teman-teman ku iri. Tapi asal kalian tahu wahay teman-teman ku, nilai kebahagiaan yang kalian punya lebih tinggi dari ku. Percayalah.
****

Suatu malam, tepatnya tanggal 19 januari, dan jam 12 malam nanti aku ulang tahun, Rendi janji untuk kerumah malam ini. Kita mau merayakan ulang tahun di rumah ku. Kali ini tak memberi kejutan, karena sudah sering kejutan-kejutan bahagia yang terjadi dalam hubungan kita, yang semakin membuat ku mencintainya, tak ingin kehilangannya.

Sambil menonton tipi sama ibu, aku menunggu kedatangan Rendi juga kehadiaran Ayah yang belum juga pulang. Tak lama handphone ku berbunyi, kulihat nama kontak dan ternyata itu telepon dari ayah.

‘Hello sayang, selamat ulang tahun ya, maaf ayah nggak bisa ikut merayakan bareng Rendi dan mamah, Ayah ada janji ketemu klien sebentar, kamu mau dibelikan apa sama ayah’

‘Oh iya nggak apa-apa yah, tidak usah makasih, ayah sudah ingat hari ulang tahun ku saja aku senang’

‘Ya, mana mungkin ayah lupa’ Jawabnya gurau.

‘Sekarang ayah dimana, mau ketemuan sama klien dimana? Hati-hati udah malam’

‘Ayah lagi dimobil, mau ke taman angrek yang dekat perumahan kita. Klien ngajak ketemunya disana.’ Jawab ayah.

‘Hah.. tumben bukan di restoran atau hotel, taman anggrek kalau malam kan sepi’

‘Iya nggak tau juga. Yasudah ayah pokus nyetir dulu, kalau udah beres ayah secepatnya pulang’

‘Iya ayah, hati-hati’ Ucapku lalu menutup teleponnya.

Kulihat ada satu pesan singkat di layar handphone, nama Rendi tertera disana. ‘Sayang bentar, aku lagi dijalan, menuju rumah, agak lama karena macet’ Isi pesannya dan ku jawab “iya sayang hati-hati’

Satu jam berlalu, namun Rendi tak kunjung datang, begitu pun dengan ayah. Entah kenapa, tiba-tiba ibu mengatakan kalau dia merasa tidak tenang, disusul dengan perasaan ku tiba-tiba merasa tidak nyaman, pikiran ku melayang bebas, berangan-angan tak jelas. Yang ada dibenak kami cuma dua orang laki-laki yang kami cintai dan kami tunggu malam ini.

‘Tuk, tuk, tuk..’ Suara pintu diketuk, namun tak memberi ucapan salam, aku pastikan itu Rendi atau Ayah. Aku pergi untuk membuka pintu. Ku buka dengan penuh kegembiraan.

‘Hall……..’ Ucapku setelah buka pintu, terbata-bata, tak ada yang bisa ku katakan, seketika aku diam, seperti ada petir yang tiba-tiba menghantam kepalaku.

‘Siapa Maya?’ Teriak ibu dari ruang tipi, namun bibir ku seolah mengumpulkan tenaga untuk menjawab semua tanya dimalam itu.

‘Ayahhhhhhhhhhh……..’ Aku menjerit histeris, aku melihat ayah berdiri didepan pintu dengan belati menancap diperut, mata melotot, dengan potongan tangan tergeletak di lantai.

Ibu langsung menghampiri ku, ibu tak kuat, ibu lepas kendali dan jatuh pingsan, tak lama muncul dua orang laki-laki dengan penutup kepala hitam dan jaket kulit berwarna hitam.

Dia menghantam kepala ku, dia injak perut ibu yang sudah tak berdaya, aku jelas menyaksikan itu, karena aku yang masih sadar waktu itu, mereka tak langsung mengeksekusi ku, mereka cabik-cabik tubuh ibu dengan belati, aku tak bisa teriak, bibirku terkunci oleh segumpal ketakutan di jiwa, aku tidak tahu mereka siapa. Saat mereka mengetahui aku masih sadar, dengan cepat, mereka tendang kepala ku, aku tak kuat menahan sakit lalu pingsan. Namun asal kamu tahu, aku dibunuh sama kejinya seperti ayah dan ibu ku, sebegitu kesalnya mereka sampai mencongkel kedua mata ku, semua isi perutku dikeluarkan.

Tak lama Rendi datang, dan mengetahui kejadian itu, Rendi memilih sembunyi, karena penyelamatan yang percuma jika dia datang melawan mereka. Rendi sembunyi sambil mencatat Plat nomor mobil zip yang digunakan mereka. Dia menghampiri ku, mengangkat tubuh ku, memeluk ku yang sudah tak bernyawa dan berwajah tak sempurna, kurasakan sakit yang Rendi rasakan saat itu, Rendi lantas melaporkan kejadian ini kepolisi, untuk selanjutnya mengurus jasad kami yang berantakan.

Dan dari hasil Plat nomor mobil yang Rendi catat, polisi berhasil menemukan pelaku pembantaian keluarga ku. Mereka adalah orang suruhan musuh klien ayah. Mereka dendam karena ayah yang sulit dikalahkan. Dan asal kamu tahu, rival ayah ku adalah ayah Rendi. Kini semua sudah ditangkap, dan Rendi berada di rumah sakit jiwa, depresi yang cukup berat membuat nya diasingkan kesana.

Malam ini tolong kamu sampaikan salam ku pada Rendi, aku tak menyalahkan dia. Rendi tidak tahu apa-apa. Terimakasih Rendi, aku mencintai mu, sampai jumpa Rendi, sekali lagi aku mencintai mu. Kini aku tenang dengan aku sudah bercerita pada mu, karena waktu itu tak ada satu orang pun yang tahu.

Terimakasih juga untuk perempuan manis ini yang aku bangunkan tidurnya malam ini, untuk membantu ku menyampaikan tulisan ini, dia baik dan aku senang berada dalam tubuhnya, tapi sayang dia juga punya kehidupan. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa.

Thursday, April 9, 2015

Tanda Jika Dia Adalah Seorang Sahabat

       Comments   
Mengoreksi dari perjalanan hidup yang sudah gue tempuh sampai detik ini, banyak sekali hal yang membuat gue berpikir tentang orang-orang yang selama ini dekat, menjauh, lalu hilang. Beragam jenis dan karakter manusia telah gue pahami, dari jutaan orang yang gue temui setiap hari. Dan semua berbeda semua berwarna. Waktu yang terus mengajarkan gue untuk melangkah kedepan memberi tahu jika perjalanan paling jauh dan mustahil untuk ditempuh adalah masa lalu. So, tak ada alasan dari orang bijak manapun yang menghalalkan kita untuk sulit move on. Go..go.. temui orang-orang baru didetik selanjutnya.

Konsep pertemanan seperti yang gue tulis sebelumnya disini. Selamanya kita akan terus bertemu dengan wajah baru. Ada yang langsung pergi, ada pula yang menetap jadi kebiasaan sehari-hari, yang hakikatnya tetap akan dipisahkan oleh mati. Beragam jenis perkumpulan atau tongkrongan pernah gue coba, dengan beraneka karakter mahluk yang disebut manusia didalamnya. Dari yang membawa gue ke arah negative atau mengarahkan gue ke hal positive. Semua punya cerita, gue nggak pernah menutup hal-hal yang masuk dalam kehidupan gue, berusaha se-welcome mungkin, sekali pun itu adalah hal negative, karena gue yakin semuanya punya sisi manfaat tersendiri. Itulah yang disebut berwarna.

Sahabat. Setiap orang pasti punya orang terdekat yang biasa dikategorikan sebagai sahabat. Namun tidak semua orang bisa menjadi sahabat. Karena definisi sahabat menurut gue bukan hanya selalu dekat, tapi;
Dia yang mau mendengarkan 


Dia tak hanya setiap saat ada, tapi dia sanggup mendengarkan apa yang jadi keluhan lo walau pun dia tak punya solusi hebat untuk masalah lo. Dia yang siap menyisihkan waktunya hanya untuk mendengarkan cerita lo yang sebenarnya sangat membosankan.

Dia yang berani terbuka dan jujur


Saat dikedaan terbalik dia punya masalah rumit atau berita gembira giliran dia yang bicara dan lo menjadi pendengar. Selalu jujur bukan berarti selalu mengatakan apa yang dialami, melainkan selalu bertindak dan berucap apa adanya. Jika dia menginginkan privasi, maka dia akan mengatakannya dengan cara yang baik sehingga tidak menyakiti lo. Bahkan dia membuat lo mengerti bahwa tidak semua hal harus diucapkan kepada sahabat.

Dia yang rela membantu


Seperti yang pernah gue tulis disini. Jika sebaik-baiknya sahabat adalah dia yang tidak pernah perhitungan. Gue kurang setuju dengan meme/quote yang sering dilihat dimedia social yang berbunyi “Datang saat ada butuhnya doang, sahabat macam apa lo?” dan masih banyak lagi kalimat serupa. Jika boleh gue jawab “Katanya sahabat ko perhitungan”. Yap jika lo merasa kalau dia udah nggak fair. Yasudah tinggalin dengan cara baik-baik, sehingga amal lo yang sempat membantunya nggak musnah hanya karena terus di sebut-sebut.

Dia yang selalu mensuport


Sahabat yang baik tidak akan merasa bersaing dengan lo, melainkan akan mendukung dan berusaha agar bisa sama-sama maju. Jika lo punya kekurangan, dia akan berusaha membenahinya. Jika lo punya kelebihan, maka dia akan terus mendukung lo. Dia akan menjaga hal-hal yang menurut sahabatnya penting atau rahasia. Dia akan menutup lobang kekurangan lo didepan orang-orang.

Dia yang merasa nyaman dan bahagia saat bersama


Gue sering bertemu dengan orang yang kalau dekat dengan dia merasa nggak nyaman, jangankan buat ngobrol duduk nongkrong bareng pun ingin segera pergi. Jujur, gue pernah bertemu dengan orang seperti itu. Yang pasti gue akan membatasi komunikasi dengannya. Sedangkan sahabat yang baik akan bahagia jika lo bahagia, dan nyaman saat bersama, gila-gilaan, bercanda bareng, menegur bahkan tak segan menampar kalau lo salah arah.

Itulah ciri-ciri seorang sahabat hasil observasi gue selama ini mengenai dunia pertemanan dalam kehidupan. Jika ada pengamatan lain untuk ditambahkan silahkan tulis dikolom komentar.

Nah, apa lo sudah bertemu dengan orang seperti itu? Jika belum carilah. Jika sudah jaga dan sayangi dia layaknya dia menyayangi lo. Karena sahabat yang baik tau bagaimana cara balas budi tanpa harus diperhitungkan atau diminta.

Wednesday, April 8, 2015

Friendship

       Comments   
Waktu telah mengantarkan kita mengenal orang-orang baru, lingkungan baru dengan kedaan yang tentunya baru pula. Dari mulai orang yang hanya sepintas dihari itu tanpa saling tahu nama, sampai orang-orang yang sering kita temui ditengah sempirtnya rutinitas. Siklus hidup memang lucu, yang tak sadar mengantarkan kita sampai sejauh ini.

Konsep yang biasa terjadi;
Kenalan
Sering bertemu
Akrab
Menjadikannya teman biasa
Nyaman
Mulai saling terbuka
Menjadikannya orang terdekat
Sudah tidak canggung
Mulai gila-gilaan bareng
Merasa mendapat kemistri
Melekat dihati berpangkat sahabat.
Itu berlaku untuk semua gender, baik cowo, cewek atau bahkan bencong, gue pikir sama seperti itu.
Teman yang baik adalah teman yang selalu ada dalam keadaan apapun, namun ingat teman baik pun akan merasa bosan. Tak ada yang salah. Toh itu manusiawi.


Sebuah novel/film yang keren dilihat dari alur klimaks yang ada dalam cerita tersebut. Begitupun dalam dunia nyata, termasuk dalam hubungan pertemanan. Jadi dirasa wajar jika dalam pertemanan ada sebuah kerenggangan, keterasingan, bumbu-bumbu pertikaian jika setelah itu kita mampu saling menggenggam tangan erat, peluk rindu dari seorang sahabat yang sempat di acuhkan. Dan jika setelah itu membuat kita sadar, kebersamaan kita jauh lebih berharga dari menjadi masing-masing yang mempertahankan egonya.

 -Selamat malam-

© Fahri Prahira - All Right Reserved