Monday, March 23, 2015

Untuk Mu Yang Sedang Letih

       Comments   
Aku ingin tulisan ini dibaca dengan tenang, santai, pelan-pelan, dan nikmati. Intinya gunakan tanda baca pada fungsinya, seperti; berhenti sejenak jika ada koma, push-up dulu jika bertemu dengan titik.

Ditulisan kali ini sengaja memakai ungkapan ‘Aku-kamu’ Tidak seperti ditulisan sebelumnya memakai ‘Gue-Lo’ Semua biar kita terasa sudah kenal dekat, walau pun kita nggak saling kenal, nggak saling cubit, namun gue aku harap tulisan ini bisa menemani kegelisahan mu.

Oke, kita mulai. Boleh aku meminta mu untuk tarik nafas lalu perlahan keluarkan, lakukan itu sekali lagi. Terimakasih untuk mu yang sudah mengabulkan permintaan ku. Mari kita jauh memandang ke arah lain, ada yang sedang tersendat-sendat berusaha ingin bernafas seperti mu barusan, lebih dalam dari itu, mereka yang kini terkapar terbungkus kapan, aku yakin ingin seperti mu pula. Ya, ingin kembali hidup. Owhh..Lantas sesedarhana inikah hidup? Namun nyatanya hidup bukan hanya urusan kita bernafas, ada goresan takdir diantara helaan nafas yang kita hirup lalu kita buang.

Pernahkah kamu merasa lelah dengan apa yang telah kamu lakukan? Sampai semua hal indah tak lagi bisa kamu lihat indah, semua yang lucu tak dapat lagi membuat mu tertawa, semua yang ada dan terlihat tak lagi memberi gairah. Seolah semua hanya biasa-biasa saja, semuaaa.. !! Ya, semuaaaaa-nya. Bahkan barisan puisi-puisi Zarry Hendrik dengan kata yang amat menawan pun tak mampu kamu pahami. Sesekali kamu bertanya pada dirimu sendiri. Apa-apaan ini? Apa artinya semua ini? What the fuck it’s Slalalala…? Rasanya kamu ingin pergi ke puncak gunung, lalu berteriak sekaras mungkin, sampai serak, sampai tenggorokan mu sakit, atau bahkan sampai suara mu sudah tak terdengar oleh telinga mu sendiri. Harus sampai seperti itukah? Ya harus, karena satu hal yang kamu inginkan, persaan gondok, persaan yang seperti bola api yang terombang ambing tak jelas didadamu, bisa keluar.

Mungkin aku terdengar so’tau menjadi pengamat perasaan mu. Tapi terserah, itu hak mu, yang jelas aku pun pernah merasakan keletihan itu, keabu-abuan itu. Mungkin kita semua, pernah.

Kemarilah aku mau memberi penawar untuk itu; Dekap tubuhmu, karena tak semua orang bisa mengerti seperti kamu mengerti orang-orang itu, tak semua orang peduli, seperti halnya kamu mepedulikan orang-orang itu. Jangan bersedih untuk hal itu, toh kamu masih punya tuhan. Yang siap membantu selamanya dan kapan saja. Tak seperti manusia yang hanya siap dikesempatan pertama dan kedua, namun tidak untuk yang ketiga. Ya, Itulah manusia.

Aku yakin kamu pun sesekali kesal, saat orang-orang seolah tak punya waktu untuk mu berbagi, atau seolah tak peka dengan apa yang kamu rasakan. Tak seperti yang kamu lakukan untuknya, untuk mereka, untuk kita. Sabar, ingat sebaik-baiknya teman adalah yang tidak pernah perhitungan. Mungkin mereka tak tahu jika orang yang paling mengerti adalah orang yang sebenarnya butuh dimengerti.

Rumit dan peliknya masalah selalu bikin gemes, mood rusak. Dunia memang tak selalu menyenangkan, begitu pun dengan penghuninya. Namun tak masalah. Toh kita tidak bisa memaksa mereka menjadi apa yang kita mau. Jadi daripada kita menunggu orang lain menghabiskan waktunya untuk membuat kita bahagia. Bagaimana jika kita bahagia dengan cara kita sendiri. Pertama; 
Bicaralah pada tuhan.
Karena kita beragama, tak harus nunggu hokinya ramalan bintang atau shio, atau semecam itu.

Lalu mendengarkan music.
Tuhan menciptakan dua tangan untuk sesekali menutup dua telinga kita dari cemoohan dan prasangka manusia lainnya. Jika sudah, lanjut dengan cara galaunya orang-orang berilmu/berkelas, yaitu;
Membaca dan menulis.
Tuangkan semua yang kamu rasakan, jika telinga manusia lain tak bisa menerima, ada pena dan keretas dengan kebisuannya akan sedikit membuat mu lega. Ya, aku yakin itu. Jika masih ada, coba keluar lihat langit, dan bayangkan langit di sudut lain, apakah sama? Jika butuh jawaban, maka;
Liburan lah.
Kalau kata anak sekarang ‘Mungkin kamu butuh piknik’ Senangkan tubuh mu sejenak dari himpitan rutinitas yang menekan mu seolah menjadi satu hal yang wajib. Berterimakasih pada tubuhmu, yang telah dengan kuat berjalan sampai sejauh ini. Sampai detik ini. Bahkan sampai kamu tak sadar bahwa kamu telah selesai membaca tulisan ini. Terimakasih.

Monday, March 16, 2015

Jadi Arang Atau Abu

       Comments   
Menurut gue ‘ide’ itu seperti butiran berlian didasaran bumi papua. Tidak akan datang jika gue terus menunggunya, karena dia bukan mantan yang datang dan pergi semaunya. Ide harus dicari atau digali, dan setelah didapat masalahnya belum selesai begitu saja, gue harus mengolahnya agar jadi santapan yang lejat. Seperti berlian yang saat mendapatkannya harus menggali ribuan meter perut bumi, tak berhenti sampai disana, bentuknya masih nggak jelas, walaupun orang sudah tau kalau itu adalah berlian, karena akan berpengaruh pada nilai jual itu sendiri, setalah didapat lo harus menggosoknya dan terus menggosoknya dengan penuh kehati-hatian, telaten dan tekun, sampai berlian itu mengkilat dan cantik saat dipakai, disitulah nilai jual akan meninggi. Bergitupun dengan ide.

Sering gue terdiam nggak jelas di depan leptop memerhatikan cursor yang berkedip dalam page kosong Microsoft word, kalau kata Radit hal itu disebut white paper syndrome.

Saat gue sudah mendapatkan ide untuk menulis tentang sesuatu, lalu menumpahkan nya ke blog ini, semua itu sudah gue pikirkan beberapakali. Serandom apapun postingan gue adalah hasil penyaringan dari sel-sel yang berpungsi di otak gue. Namun karena jam terbang gue masih sempit jadi gue selalu melatarbelakangi tulisan gue dengan kalimat;

Ini hanya tulisan biasa yang di buat dari orang yang kurang bisa, dengan argument yang bermodalkan kesotoyan dan rasa percaya diri yang tinggi, yang tak pernah berakar pada fakta, namun berharap masuk akal dan yang membaca tidak ikut gila. Karena sekali lagi, blog ini hanya sebagai tempat menulis apa yang mau gue tulis, namun apa yang gue tulis bukan berarti apa yang gue rasa, tak berharap menjadi apa yang mau lo baca. Namun gue ucapkan terimakasih, karena setidaknya lo telah sudi membacanya sampai kalimat ini.

Kita hidup dibumi yang tentunya tidak sendirian, karena kita adalah makhluk social. Kita bereaksi diantara ribua atau bahkan miliaran mulut dengan kepala yang sama bulat yang hampir lonjong menyerupai terlur, dengan berat rata-rata 1,4 kilogram, namun dengan isi yang berbeda-beda. Argumen, opini, ideology, prinsip, pola pikir atau apapun itu, semua ada di dalam segumpal daging yang beratnya setara 3 pound itu. Katanya.

Jika sudah mengerti hukum alam ini, harusnya kini lo bisa memahami betapa pentingnya sebuah kompromi. Iya, kompromi, bukan sarimi, indomie, parmini, atau pun popmie.

Lo perlu memperjuangkan prinsip dan keinginan lo. Oh itu jelas. Tapi lo juga akan selalu berhadapan dengan prinsip dan keinginan orang lain. Tentu, itu pun harus lo pahami. Jika lo memaksakan prinsip lo terus melaju tanpa rem dan kemudi, alhasil akan memicu tabrakan. Risikonya selalu tak berubah: lo akan jadi arang atau abu.

Rem dan kemudi itulah yang gue maksud sebagai kompromi. Bukankah jika lo mampu mengerem dan mengemudi dengan baik, akan selamat dan sampai tujuan? Ya, begitulah hidup, kawan.

Ada saatnya lo leluasa melaju cepat sekuat akselerasi SLK 250, ada kalanya lo harus melaju pelan sambil mengerem bak siput sakit pinggang, atau bahkan ada kalanya lo harus mengerem total dan menjauhkan kaki dari pedal gas bak batu kehabisan bensin.

Kompromi, ya rem dan kemudi tadi, sama sekali bukanlah sebuah kebodohan, apalagi kekalahan. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Bukankah lo tak akan bisa mengecap manisnya kehidupan jika dalam situasi bertabrakan? Bukankah ngemil tahu isi rumput jauh lebih nikmat saat ngedate dibanding makan steak sambil dibentak-bentak oleh pacarmu yang geje hasil kenalan di tweeter dan facebook itu?

Jadi, mari keluarkan opini, prinsip dan keinginan lo, jangan pernah tawan ideology lo dengan ketakutan saat orang mengkritik, karena orang pintar akan membuka mulutnya dengan lantang, sekaligus membuka telinga lebar-lebar dan mendengarkan ideology orang lain, untuk dipertimbangkan agar tidak terjadi tabrakan yang hanya akan menimbulkan dua pilihan yang sama buruknya. Jadi arang atau abu.?

Saturday, March 14, 2015

Opini Goblok

       Comments   
Certia pertama, ketika teman gue, sebut saja si-Titit, seorang remaja yang lahir dari keluarga biasa, kejebak pergaulan yang salah lalu menjadikan dia seorang pemake narkoba. Pada suatu hari yang mungkin dia sendiri nggak berharap hari itu ada dikalender, karena dihari itu dia harus menelan konsekuensi dari semua perbuatannya. Dia ke gep lagi make, ditahan polisi, lalu menjalani proses hukum yang panjang kali lebar kali tinggi kali alas. Lohh… Ok, singkat cerita dia ditahan selama 10 tahun, akibat perbuatannya itu. Tak ada pilihan lain selain itu, kecuali kalau dia punya duit mungkin bisa sedikit dirubah. Ya, mungkin. Dan selesai.

Di cerita kedua, gue mengarahkan pandangan ke jendela lain disebrang sana, Ada seorang remaja, sebut saja namanya Karyo, dengan gaya hidup yang berbanding terbalik dengan si-Titit. Karyo adalah remaja popular idaman semua perempuan, tampan kaya raya, dan sebagainya. Namun dengan permasalahn yang sama yaitu kejebak pergaulan yang salah, lalu menjadikan dia sebagai pecandu narkoba, namun sehebat apapun dia, yang namanya tuhan itu tetap maha adil. Karyo pun ke gep, lagi make, ditahan polisi juga, menjalani proses hukum juga, namun bedanya si-Karyo lebih dibuat rumit, sampai orang yang mendengar berita bingung dengan masalahnya, dengan suport lawyer kondang. Pasal hanyalah pasal, undang-undang pun dimainkan, karena dalam kasus ini duit si-Karyo mendukung untuk memainkan proses hukum. Proses tak berhenti sampai disana, tak dirasa ketika semua dibuat ribet, hukuman sitersangka pun terus mendapat remisi, lalu sampai pada titik kepastian, tidak ditahan hanya mendapatkan proses rehabilitasi. Orang tuanya terus berkoar-koar dimedia. “Anak saya bukan koruptor, bukan penjahat, jangan perlakukan dia seperti itu. Dia pantas mendapat rehabilitasi.” Jreeeenggg…. rehabilitasi pun dilakukan.

Terus bagaimana kabar si-Titit teman gue, apa dia sudah bangkotan. Sabar kawan, mengertilah dengan hukum dinegri kita, kalau dulu bisa memohon, gue akan minta buat dilahirkan di irak atau turki. Sekali keras, ya harus keras.

Dan tadi malam gue mendapat pertanyaan yang sebenarnya bukan kapasitas gue. Tapi seperti biasa, gue akan jawab menurut opini subjektif gue yang kadang terkesan semaunya.

Ri, lo setuju nggak dengan adanya hukuman mati.? Dan gue jawab. Tergantung jenis masalahnya apa. Namun sejauh ini gue selalu setuju dengan tindakan persiden baru kita. Tak menganut hukum yang abu-abu dan cemen. Walau pun kecil, cengengesan tapi jelas tegas dan memberi kepastian. Yang gue tau hukuman mati itu pantas dijatuhkan untuk koruptor, bandar narkoba, teroris dan tindakan pelecehan sex menyimpang, seperi mecabuli atau sodomi.

Gue sempat mendengar beberapa opini yang tidak menyetujui dengan adanya hukuman mati, dengan alasan hak manusia untuk hidup tidak bisa ditentukan oleh undang-undangan, dan alasan yang paling geli. Jika tindakan hukuman mati tidak memanusiakan manusia.

Helllooo.. Gue Tanya, apa tindakan sexual pada anak di bawah umur adalah prilaku manusia? Merampas hak-hak manusia lain, apakah tindakan seorang manusia? Membunuh secara keji, apa tindakan manusia? Binatang saja masih punya rasa sayang. Nah ini yang katanya manusia, satu makhluk yang tuhan ciptakan dengan sempurna dan mulia diantara mahluk lain. Dengan lo mengatakan seperti itu, sama halnya dengan lo telah memberikan hukuman manusia pada seorang binatang yang berparas memanusia.

Maaf bung, jika tulisan saya terkesan tengil, sotoy, dan bermodalkan percaya diri. Ini sekedar opini goblok, yang tak boleh dibaca serius, karena gue nulisnya juga sambil ngupil dipeperin ke remot tipi.

Friday, March 13, 2015

Kita Adalah Manusia

       Comments   
Tadi pagi saat gue sedang lari, gue melihat para pekerja dijalan, entah sebutan untuk jenis pekerjaannya itu apa, pokonya yang mereka lakukan dipekerjaannya itu adalah menggali tanah yang menjadi saluran pipa PLN, kurang lebih pukul 6 tadi pagi, mereka saling angkat-angkat pipa, seluruh tubuh sudah tertutup tanah merah yang lembab, yang gue tau pagi itu sangat dingin, gue ingin memotretnya untuk kebutuhan tulisan ini, namun karena takut mereka tersinggung, jadi gue urungkan. Lanjut lagi lari, lalu melihat truk pengangkut es batu yang gede, untuk dikirim kewarung-warung kecil, gue memperhatikan bapak tua yang mengangkat bongkahan es batu itu, sekali lagi gue katakan pagi ini sangat dingin. Pecahkan lamunan gue melanjutkan lari, dan berhenti dipedagang nasi uduk, gue beli nasinya, tentu untuk gue makan, tukang nasi uduk sudah sangat tua, semoga saja tidak pernah salah menaruh bumbu. Sambil nunggu nasi dihidangkan gue memulai percakapan pada ibu tua itu.

‘Kalau hari libur rame banget ya bu’ Tanya gue. ‘Alhamdulillah Jang, lumayan lah buat jajan anak’ Jawabnya yang so tau, padahal nama gue bukan Jang. Padahal gue mau ajak kenalan namun karena kesotoyan nya itu, gue jadi minder. ‘Oh syukur atuh bu’.

Nasi uduk selesai, sambil melahap makanan, otak random gue mulai melayang-layang dengan kalimat “Lumayan lah buat jajan anak”

Gue flashback ke beberapa menit yang lalu, tentang tukan gali pipa saluran, dan pengantar es batu. Ok tanpa harus gue survey satu persatu, melihat dari bentuk tubuh mereka gue yakin mereka adalah para orang tua yang sedang memenuhi satu hal dalam hidup yaitu tanggung jawab. Tentunya untuk anak dan istri dengan kata lain keluarga. Anak, anak, anak dan anak. Yang selalu mereka prioritaskan setelah punya keluarga adalah anak, pasangan (istri/suami) jadi nomer dua. Itu bukan omong kosong, gue pernah tanya beberapa teman gue yang sudah berkeluarga dan punya anak. Rasa sayang ke istri/suami dilimpahkan ke anak, yang penting anak dulu makan, kalau ada lebih ayah dan ibu juga ikut makan.

Mari kita lupakan dulu orang-orang diatas. Beberapa hari yang lalu gue pernah baca berita di website Tempo.co tentang orang tua bernama Ibu Sutina yang dengan ikhlas memandikan mayat anaknya sendirian, jangan ditanya bentuk kesediahan dan kekecewaannya seperti apa. Yang lebih ngeri dari itu, tubuh anak yang dimandikannya adalah seorang begal yang dibakar warga. Ya, anaknya menjadi sorang begal. Mungkin saat itu yang dia rasakan adalah sebuah kekecewaan karena gagal mendidik anaknya.

Dari sejak dalam kandungan sampai dilahirkan hingga sudah besar, semua orang tua tentu menginginkan anaknya menjadi anak yang soleh, pinter, cekep, dan jadi anak yang bermanfaat, itu yang sering gue dengar dari mulut para orang tua, termasuk bibir kedua orang tua gue. Harapan mereka bukan sebuah harapan yang sekedar diucap dimulut dan dibayangkan dihati, namun direalisasikan dengan bentuk cinta, kasih sayang dan perjuangan yang mereka lakukan. Se-goblok goblok nya orang tua dia tak pernah mau anaknya ikut goblok seperti dirinya, dan gue yakin hal itu dirasakan pula oleh semua orang tua yang anaknya kini jadi sekelompok orang yang menjadi target oprasi pencarian polisi, yakni begal.

Gue yakin semua begal, perampok, atau sejenisnya, mereka pernah jadi balita, jadi anak yang menggemaskan, pernah main petak umpet, diledekin teman, pernah ngeledek teman, lari-larian sampe jatoh, pernah lucu, pernah manja, pernah nangis, pernah jawab pertanyaan guru saat disekola “Kalau gede mau jadi apa?” atau “Cita-cita kalian apa?” Dan gue yakin mereka tak pernah menjawab mau jadi begal.

Trus apa penyebabnya. Gue jawab dengan kesotoyan gue yang semoga saja menjadi benar karena rasa percaya diri yang tinggi.

Karena Iman, kedaan dan lingkugan. Ya, lemahnya iman menjadi factor utama seseorang bertindak semaunya, ketika kedaan memaksa untuk bebuat di luar nalar dan logika, lingkungan tak pernah mempedulikannya. Mereka semakin terhimpit oleh masalah pelik dalam hidup yang mereka pikir hanya mereka yang paling pedih. Mereka bukan tidak percaya adanya tuhan, gue yakin itu, mungkin mereka hanya meragukan ke agungan tuhan. Ketika semua nafsu sudah terkumpul, iman yang hanya segede tai cicak mulai tertutup oleh emosi yang semakin menyala-nyala. Kenapa gue sebut lingkungan, karena yang gue lihat orang-orang ini hidup disatu wilayah yang sama dan berkelompok. Jadi untuk lo yang sering dimarahin teman, tetangga atau orang sekitar saat berbuat salah, bersyukurlah karena lo masih dipedulikan.

Untuk apa mereka berbuat seperti itu. Alasan yang sering gue dengar adalah untuk membelikan anaknya susu, dengan kata lain untuk keluarga. Senista itukah?? Oke, itu semua kembali pada dasar ke imanan kita. Gue pikir semakin orang beriman, semakin dia takut sama tuhan. Owhhh.. Ahsudahlah, Gue nggak mau membahas ini semakin dalam. karena iman pada diri gue pun masih lemah, namun gue beruntung memliki lingkungan yang siap sentil kuping gue saat berbuat salah, yang terus meyakinkan gue untuk berdo'a dan berusaha karena tuhan adalah pembuat ketidak mungkinan menjadi mungkin.

Lo yang sekarang jadi anak, bakal menjadi orang tua, dan lo yang sekarang jadi orang tua, bakal punya anak atau pasangan hidup, teman hidup yang akan menemani lo sampai mati. Kita beragama, kita bertuhan kita punya aturan, dan kita manusia, ingat kita adalah manusia. Bersikaplah seperti manusia.

Monday, March 9, 2015

Sepele Tapi Berbahaya

       Comments   
Gue jenuh mengikuti kabar panas yang nggak jelas dan sepertinya nggak penting untuk gue bahas. Tapi itulah kaum kita, selalu senang membicarakan orang. Karena gue sendiri yang mengaku sebagai manusia menyadari jika membicarakan kejelekan orang lain itu ringan gampang dan enak, hal seperti itu sepele tapi berbahaya. Contoh masalah yang lagi marak saat ini adalah hastag #SaveHajiLulung. Netizen benar-benar sukses mengolok-olok dan membuatnya popular seketika. Orang Indonesia memang pintar membuat tranding topic dunia. Yang gue anggap berbahaya disini adalah unkapan Haji, Haji, Haji, Hey beliau Haji loh. Catat, Haji. Maaf, tanpa bermaksud menceramahi, atau bukan saya membela Haji Lulung. Lagian siapa dia? Kenal juga kaga. Gue cuma ingin menegaskan bahwa penghina haji sama dengan penista Islam. Nah loh. Ok kita kembalikan lagi ke alasan picik “Wajarlah kita kan manusia”.

Fahri, tadi katanya nggak mau bahsa itu.!! Sory kelabasan ngetik.

Tulisan diatas hanya pembuka, dan nggak ada hubungannya dengan apa yang mau gue bahas saat ini. Jadi daripada gue bercerita tentang, Save Haji Lulung, video bugil Chelsea Island atau ngikutin nyokap gue yang greget sama Saipul Jamil. Mari kita singkirkan dulu semua berita itu, karena kali ini gue mau bahas masalah ‘Perasaan’. Bukan, bukan perasaan Haji Lulung. Namun gue akan bahas masalah perasaan kita. Duhh, rasanya berat banget memakai ungkapan kita untuk kalimat barusan.

Perasaan, berbahagialah kalian yang mempunyai perasaan, karena setidaknya itu adalah bukti kemanusiaan kalian. Sepele namun berbahaya, itulah perasaan. Yang kita mau sebenarnya sederhana yaitu;
Perasaan yang sebanding.

Yaapp, perasaan yang lo kasih sama seperti perasaan yang pasangan lo kasih. Terus bagaimana jika tidak sama, simpel saja, berarti hubungan lo bermasalah. Kecewa, sedih itu pasti ketika lo tau jika perasaan yang dia kasih tak sehebat yang lo beri. Tentu saja akan merasa dirugikan, karena loyalnya perasaan sama dengan loyalnya sikap atau perhatian yang dia lakukan. Jika perasaan nya biasa tentu saja perhatian yang dia berikan juga biasa. Lo tak bisa memaksa karena jika bisa pun, itu karena dia terpaksa. Hal yang dipaksakan itu tak enak. Jika lo bertanya ‘Bukankah kita harus berusaha?’. Hey, Memaksa dan berusaha itu beda.

Kembali ke pertanyaan di atas. Bagaimana jika perasaan tak sebanding?

Hal pertama yang harus lo lakuin adalah kaji dulu duduk permasalahan kenapa pasangan lo seperti itu. Kasus yang sering terjadi adalah karena faktor belum move on dari mantan pacarnya atau mantan gebetannya.

Sepele tapi berbahaya;

Sepertinya masalah ini simple, tapi dampaknya besar. Mungkin alasan pasangan lo belum bisa move on, karena putus dengan alasan kedaan; bisa beda keyakinan, jarak, orang tua, intinya putus bukan karena factor selingkuh, penghianatan, posesif, dan sejenisnya.

Putus bukan karena udah enggak sayang lagi, tapi karena keadaan, akan menyisakan suatu fase yang dinamakan “unfinished business”. Jreeeeeng…! Urusan yang belom kelar menimbulkan rasa penasaran melebihi arwah di dunia manapun, apapun yang lo lakuin untuk bisa menghangatkan kualitas hubungan lo dengan pasangan baru, akan terganggu hanya karena sesuatu yang simple.

Sepele tapi berbahaya;

Misalnya, saat lo lagi jalan berdua tiba-tiba ketemu sama orang yang mirip dengan matan lo, pergi ke taman sama gebetan baru, lo lihat bangku taman langsung ingat matan lo, makan di restoran lihat tisu seketika ingat waktu dia lap ingus depan lo. Dan terus seperti itu sampai kiamat. Alhasil lo menjadi parno dengan hal-hal yang lama pernah ada, pernah indah, pernah nyaman, pernah dan pernah terjadi. Tapi ingat, sehebat apapun itu, jika sudah memakai ungkapan ‘pernah’ itu jadi hal yang percuma. Nah, hal-hal kaya gitu dinamakan ‘Distraksi’. Untuk kebutuhan tulisan ini, gue akan sebut itu ‘Distraksi hati’. Wedaaan… *Colek idung*

Sepele tapi berbahaya;

Kenapa gue bisa bilang bahaya, menurut Collins English Dictionary, yang gue kutip dari Ariesadhar dan Gofar Hilman, distraksi memiliki 4 makna yaitu:
  • Tindakan mengganggu dan turunannya atau keadaan menjadi terganggu,
  • Sesuatu yang berfungsi sebagai pengalihan atau hiburan,
  • Interupsi, suatu hambatan berkonsentrasi, dan
  • Gejolak jiwa atau kegilaan.
Ok, udah jelas kan kenapa bahaya? Sebenarnya distraksi itu ada karena manusia membiarkan otaknya untuk memberikan tempat pada distraksi itu sendiri, jadi sebenarnya balik lagi, gimana cara bersikap aja sih. Bersikap menjadikan masa lalu hanyalah sekedar masa lalu, karena hidup ibarat sebuah novel, banyak lembaran yang harus di tulis, banyak bab yang harus diselesaikan, karena kalau kita stuck dalam satu bab saja, tentu saja mustahil untuk lanjut nulis ke halaman berikutnya, biarkan masing-masing bab mempunyai keunikan ceritanya sendiri, dengan begitu novel lo bakalan keren.

Tapi memang pada kenyataannya praktek melupakan tak semudah terorinya, semua tergantung gimana lo menyikapinya. Kalau memang sama sekali belum bisa melupakan orang di masa lalu, mari bersikap fair, jangan memulai hubungan baru, selesaikan yang harus diselesaikan, jangan menulis judul baru, dimana cerita di judul yang lama belum kelar, karena semua itu akan jadi hal yang percuma, sampai kapan pun lo nggak akan bisa menikmati apa yang lo tulis.

Dengan gue nulis begini bukan berarti kita harus mendikte kehidupan pasangan kita, karena kehidupan pasangan kita sudah jauh dan lama terbentuk sebelum kita datang dan mengenalnya, kita enggak berhak, sama enggak berhaknya dengan masa lalu pasangan kita mengintervensi kehidupan baru kita, tapi jikalau distraksi itu tetap ada bahkan sampai menguat, menangkan diri lo, buat diri lo menjadi juara, karena di kamus gue enggak ada tuh mengalah untuk menang, menang adalah mutlak, tapi kalau lo merasa kapasitas lo enggak cukup untuk menang, satu jawabannya, jangan ikut pertandingan. Sepele kan? Ya, kalau lo mau yang biasa, lakukan hal-hal sepele, dengan hasil yang tentu akan sederhana juga, begitupun sebaliknya. Pilihlah cara sulit, buat diri lo bangga saat mampu menalukannya.

Saturday, March 7, 2015

Mau Tidak Mau Sampai Mati

       Comments   
Gue setuju dengan pernyataan ‘Hidup itu misteri’ atau ‘Hidup itu teka-teki’. Memang kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di menit selanjutnya, dijam berikutnya, atau dihari esok. Namun layaknya manusia yang merupakan sosok makhluk perencana yang sempurna, kita telah merangkai apa yang harus kita lakukan kedepan. Membayangkan, berangan-angan, atau yang belih luas dari itu bermimpi dan bercita-cita. But, what is the meaning of it all, without an effort.
Semua yang kita lakukan kini adalah rangkaian step by step yang akan mengantarkan kita kepada apa yang kita mau. Tapi ingat kita hanyalah makhluk, kita mampu menjadi seorang perencana, namun sampai kapanpun kita tak bisa menjadi penentu.

Seringkali kita dipusingkan dengan langkah yang kita buat sendiri, kejadian-kejadian diluar rencana terjadi, mungkin itulah yang disebut klimaks dalam hidup. Terhalang dan jatuh. Hebatnya sebuah cerita, novel, atau film tergantung hebatnya klimaks yang ada didalamnya. Banyak loh, diantara kita yang merasa jengah dengan keadaan yang seolah, gitu-gitu saja. Padahal jika dilihat apalagi yang harus dipusingkan mereka. Kerja, duit banyak, kuliah, dan yang kita tau, mereka terlihat sempurna. Seperti yang pernah gue katakan, kita selalu melihat seseorang hanya dari mainstage nya, kita tak pernah mau menengok backstage mereka seperti apa. Padahal disitulah titik dimana kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki.

Menurut gue hidup seperti main game point blank di warnet. Gue tembak semua musuh, mencari jalan keluar, mendapatkan poin, tembak lagi musuh, bantu teman yang sedang nembak, sesekali ketembak dan berdarah, berjalan lagi, terus berjalan sambil membawa senjata, terus berjalan, terus, teru dan terus, sampai durasi paket main game habis.

Kita memulai, berjalan mengikuti arah, kadang lelah, namun tak henti berjalan, karena apa? Karena kita tau untuk bunuh diri itu konyol. Kembali berjalan, sesekali dapat kejutan, sesekali melemah dengan cobaan yang ada, apa kita meyerah? Tidak, kita tetap melanjutkan detik yang masih bisa kita lihat, dengan sisa semangat yang ada kita kembali melangkah, sampai satu keadaan datang, keadaan yang tak peduli, saat kita berada dibawah dan melemah, atau berada diatas dengan stumpuk rasa puas, tuhan dengan takdirnya menyuruh kita berhenti dan pulang.

So, sebagai perencana, apalagi tugas kita selain berencana, berdo’a dan berusaha, untuk keputusan baik atau tidaknya rencana kita, itu urusan hakiki sang penentu. Tetap semangat sampai mati dikedaan yang baik.

© Fahri Prahira - All Right Reserved