Thursday, December 24, 2015

Dan Itu Sama

       Comments   
Gue lahir di Tasikmalaya, yang sangat lekat dengan istilah kota santri. Dari kecil gue digembleng dengan pendidikan agama. Jarak dari rumah kepesantren sangat dekat, tapi emak gue lebih menganjurkan untuk gue tinggal dipondok, bareng dengan santri perantauan dari luar kota. Keluarga gue original muslim, kakek gue pun seorang Ustadz yang Allah memanggilnya saat ia berada dalam perjalanan untuk dakwah di kampung sebelah. Keluarga gue sangat kental dengan pengetahuan agamanya. So, mereka akan marah besar jika gue melenceng dari apa yang telah diajarkan keturunan dan agamanya. Namun terlepas dari itu semua keluarga gue pun mengajarkan tentang bagaimana toleransi

Jika kamu terlalu mencintai satu hal, maka tidak berarti kamu harus membenci hal lainnya.

Mungkin dulu gue ada dalam posisi aman, dimana gue berada dalam lingkungan yang satu keyakinan, satu kitab, satu tuntunan. Dan kini, gue berada dikota yang berbeda, dengan beragam penduduk, budaya, suku, bahkan keyakinan. Meskipun yang mayoritas disini adalah tetap keyakinan yang gue pegang.

Lantas bagaimana jika keyakinan yang lain merayakan dan berbahagia, apa gue boleh ikut berbahagia atau sekedar mengucapkan selamat? Gue nggak mau membahasnya kejauhan, bisa cari sendiri atau tanyakan pada orang yang lebih tepat. Disini gue hanya ingin meluapkan opini subyektip semampunya otak gue berpikir tentang hal ini.

Analoginya, Jika temen gue menikah dan berbahagia, apa nggak boleh untuk gue sekedar mengucapkan selamat? Apa dengan mengucapkan selamat gue juga harus ikut nikah? Nggak kan.

Menurut gue ini kembali pada individunya sendiri, jika gue yakin dengan apa yang gue pegang, apapun yang terjadi, nggak akan merubah apa yang telah gue yakini itu. Jika gue masih takut, itu berarti gue belum yakin dengan apa yang gue pegang. Gue yakin atas apa yang gue yakini ini benar, mereka pun yakin itu benar. Dimana polemiknya? Toh banyak kisah bagaimana Nabi Muhamad menghargai keyakinan yang lain. Dan gue umatnya, sangat harus untuk mengikuti apa yang dicontohnya. Dari hal itu gue jadi tau maksud emak gue dulu mengatakan ‘Awas ngajinya jangan kabur. Ngaji itu harus dari bismillah sampai hamdalah, biar kamu nggak salah paham’

Tapi, terlepas polemik kekinian itu, juga dari gerbang pemisah budaya, ras, suku dan bahkan agama, kitapun adalah manusia, bukan? Dan itu sama.

Oh iya, selamat natal, bagi semua temen gue didunia apapun yang sedang merayakan dan yakin.

Monday, November 23, 2015

Nanti Itu Misteri

       Comments   
Senin tadi, juga tadi pagi, pula pagi yang penuh kantuk. Senin yang dari 70% remaja alay mengeluhkan nama hari itu. Tidak lain karena tak mau melepas hari minggu kemarin, padahal minggu nanti pun masih ada. Bukan so’bijak, tapi jujur gue nggak terlalu memusingkan atau mengeluhkan hari senin, karena gue rasa hari senin itu terasa cepet banget, jarum jam dari angka ke angka berjalan tak terasa. Tapi sekali lagi ini menurut opini subyektif gue. Dan setelah gue survey lima teman kerja, ternyata tiga orang punya pikiran yang sama seperti gue.
Entah ini perasaan atau sugesti macam apa yang jelas setiap hari selalu punya caranya sendiri, atau ini cuma menurut gue doang atau juga ada beberapa orang yang punya pemikiran sama. Yang jelas;
  • Senin terasa cepet namun penuh dengan rasa kantuk
  • Selasa lama
  • Rabu lumayan
  • Kamis cepat
  • Jum’at lama banget tapi sedikit senang karena besoknya hari libur.
Untuk senin tadi cukup berbeda dari senin gue sebelumnya, senin tadi gue kesal karena pas kepala gue mau nengok jam dinding ditempat kerja, jamnya mati. Alhasil gue nggak bisa tau berapa lama lagi istirahat? Atau jam berapa sekarang? Ahirnya gue cuma bisa menebak-nebak dari cuaca dibalik jendela, namun karena sekarang musim hujan, gelap, mendung, dan cerah yang suka datang tiba-tiba, cuaca pun tak jadi penolong buat menentukan waktu. Sugesti tentang hari senin yang terasa cepat akhirnya hilang, karena gue yang nggak bisa tengokin jam berkali-kali.
Lamunan mulai terbuka, gue memikirkan hal lain dari kebiasaan gue sering melihat jam pas lagi kerja, hanya untuk mengetahui jarum jam berada di angka berapa, agar gue bisa tau berapa lama lagi istirahat untuk makan dan senang-senang, padahal jelas itu membuat gue tidak focus kerja.
Tiba-tiba muncul pertanyaan.
Bagaimana jika tuhan memberi tahu gue, atau gue yang mampu melihat, gue besok akan seperti apa? Akan bahagia atau nggak? Karir gue bagaimana? Jodoh gue siapa? Sukses apa nggak?
Belum sempat terjawab bel istirahat tiba-tiba bunyi, serentak pula gue senang, lebih dari rasa senang dihari senin sebelumnya yang gue selalu udah siap-siap pas beberapa menit lagi istirahat.
Gue berusaha cari jawaban ditengah jam istirahat, terbayang bagaimana membosankannya hari-hari gue, jika gue tau hidup gue akan seperti apa. Nggak semisteri ini, membuat gue menebak-nebak dan berusaha keras agar esok lebih baik.


image

Image: Disney via Tumblr
Dari bel istirahat tadi, gue mengambil kesimpulan jika akan banyak kejutan untuk gue dalam hidup, dan akan banyak polemik pula sekelumit masalah untuk gue dapat kejutan itu. Mungkin ini adalah cara tuhan mensucikan hari esok untuk pembenahan gue dari kesalahan-kesalahan hari ini.

Saturday, November 21, 2015

Gue? Open mic? Iya!

       Comments   
Dulu gue ngumpulin nyali buat lari-lari saat tauran atau adu jotos sama suporter lain, dan tadi malam gue membuka celengan nyali yang udah dicicil lama banget buat naik panggung dengan tujuan berusaha ngelucu depan orang-orang.

Bruhhh……!!! Akhirnya lutut gue kembali merasakan getaran lain selain dari getaran negatif karena sperma yang menumpuk ingin segera keluar. Gue kira open mic itu gampang, nggak men. Kadar cucuran keringat sama tingkat ketegangannya itu jauh lebih mengerikan dari saat gue dapet pukulan lawan. bayangin aja lu harus ngelucu depan orang-orang, dan itu dilakuin sendirian, tapi ini bukan uji nyali yang cuma diam di tempat sepi dan sebutin ada suara apa saja. Ini jauh lebih hebat dan menantang, yang pasti jauh lebih masuk akal dari acara tivi onohh –>>

Gue ambil kesimpulan, ternyata laki itu bukan yang kuat tahan pukulan, tapi yang tetap senyum walau dipermalukan, yang berani tanding walau tau lawan nggak sebanding, atau yang tetap tegar walau mantan udah punya lagi gebetan, berani melawan ketakutan. Kalau kata nyokap gue; Cowok harus punya mental tanding dalam segala hal, nggak perlu juara, yang penting berani tanding aja dulu.

Yah walaupun open mic pertama ini nggak pecah, tapi sumpah gue seneng, akhirnya gue punya hobby baru selain ngurusi pou di gadget.

Thank Stand Up Comedy Purwakarta udah ngasih tempat dan kesempatan buat passion gue. Seruuu..!

Friday, November 6, 2015

Sombong Songong

       Comments   
Menurut gue sombong itu boleh-boleh saja, namun harus jelas untuk apa dan hal apa yang mau disombongin. Mungkin bahasa sopannya sombong adalah rasa bangga yang diambang batas wajar, jadi kalau lo mau sombong, setidaknya diri lo harus punya nilai jual. Misalnya, lo cakep, kaya, atau pinter, tapi itupun harus pake banget, seperti cakep banget, kaya banget, atau pinter banget, kalau kadarnya biasa aja, nggak usah sombong dulu, setau gue yang biasa itu cenderung diabaikan.

Nah menjadi haram ketika lo nggak punya daya jual namun tetap bersikap sombong, itu sama seperti lo pamerin keset jelek didepan orang yang punya keset bertuliskan welcome.

Tapi apapun tujuannya sombong tetap bukan hal baik untuk lo dipadang hebat. Ada banyak cara membanggakan diri, salah satunya dengan tidak merasa bangga. Karena orang paling pintar adalah orang yang tetap merasa bodoh walau ia tak henti belajar.

Kalau mau menjadi kuat ya rajin olahraga, jika mau kaya ya harus kerja keras, gampang bukan? Yang sulit adalah ketika tetap menjadi hebat tanpa harus merasa hebat.

Monday, October 19, 2015

Penyebab Terlalu Lama Sendiri

       Comments   
Sendiri memang tak melulu beraroma menyedihkan, ketika kesendirian menjadi kondisi untuk bisa focus pada satu tujuan. Namun apapun alasannya, sendiri tetaplah menjadi keadaan yang besifat abu-abu, karena pada dasarnya kodrat manusia ditakdirkan untuk berpasangan.

Biasanya yang ditanya orang-orang atau sodara yang sudah lama tak jumpa, bukan berapa banyak mobil yang dimiliki, melainkan;

Sama siapa sekarang?
Kapan nyusul nikah?


Dan kalau yang sudah berkeluarga.

Udah punya anak berapa sekarang?
Udah punya cucu lagi ya?


Dari situ terbukti jika nilai tertinggi sebuah keadaan manusia bukan terletak pada segi duniawi.

Sebab sebuah kepercumahan yang sangat percuma ialah ketika kesuksesan dinikmati sendirian. Dan orang kaya termiskin ialah ketika orang kaya tak punya buah hati untuk menjadi keturunannya.

Lantas kenapa sekarang banyak jomblo berkeliaran, mungkin ada banyak pasangan yang bukan cuma berdua, bisa bertiga, berempat atau berlima, tergantung kualitas atau daya jual manuasia itu sendiri. Bukan hal mustahil jika zaman sekangan selingkuh bisa dengan lima orang atau bahkan lebih.

Baiklah kita lupakan spesies orang serakah macam itu. Nah kenapa ada banyak orang yang begitu betah berlama-lama sendiri? Mungkin;

Terlalu lama sendiri, karena masih belum bisa membuka hati untuk yang baru. Move on memang tak segampang ngedipin mata, namun proses membuka hati akan lebih sulit jika membiarkan diri terus menutup dengan hal-hal baru.

Terlalu lama sendiri, karena menjadikan diri sebagai pemilih yang ribet. Memilih memang seharusnya, karena manusia selalu ingin hal yang lebih baik, namun jangan pasang kriteria yang membuat orang berpikir dua kali tentang sosok diri lo.

Terlalu lama sendiri, karena terus menempatkan diri sebagai penerima harapan, bukan penentu kepastian. Coba lupakan masalah gender, tanyakan dan pastikan, sudah banyak waktu yang terbuang cuma buat nunggu, dan ada banyak hati yang kembali pergi karena lo yang terus menunggu dia yang nggak pasti.

Terlalu lama sendiri, karena kekecewaan mendalam pada sebuah perasaan yang terus menurus dipatahkan saat berdua.

Terlalu lama sendiri karena saat jatuh cinta yang terus berupaya sendiri untuk mencintai bukan saling mencitai.


Nah yang manakah alasan lo memilih sendiri, atau mau ditambahkan juga bisa, silahkan curhat curat coret dikolom komentar.

Thursday, October 1, 2015

Selamat Dan Semangat

       Comments   
Waktu masih belajar di sebuah Pondok Pesantren di Tasikmalaya, gue sempat beberapa kali membawa pulang piala atau sekedar piagam penghargaan dari suatu lomba atau kompetisi, namun dengan mengatasnamakan Pondok, meski hadiahnya tak seberapa jika dilihat dari mata orang remaja saat itu, namun bagi anak berusia 10 tahun, itu hadiah yang sangat membanggakan, apalagi ketika teman-teman mengenal gue yang pernah juara, seperti pidato atau baca pusi. Nyokap gue doyan ngumpulin piagam atau tropi lomba yang gue ikuti, seperti ada kesenangan tersendiri saat lihat ekspresi nyokap kalau gue berhasil menang. Namun dalam perlombaan sudah menjadi hukum pasti untuk ada yang menang dan kalah, dari beberapa kali kemenangan ada banyak kekalahan yang gue akhiri dengan penuh kecewa, murung, kesal, namun nyokap dan semua guru pembimbimng gue waktu itu tak lelah mensupport, terus ngajarin gue lebih dan lebih baik lagi, walau hadiah yang kita dapatkan masih kalah sama waktu dan biaya yang telah kita buang selama latihan. Ya karena yang terpenting bagi kita saat itu adalah Nama Pondok yang gue bawa ke pusat kota untuk ditandingkan.

Waktu mengantarkan gue pada perubahan, yang dimana gue lebih mengenal rumitnya pergaulan ketibang prestasi dalam perlombaan. Belakangan ini gue sempat merasa iri sama orang-orang yang memotret semua tropi atau piagamnya. Jujur gue lebih iri sama manusia jenis mereka ketibang sama jenis manusia yang memotret kebahagiaan dengan harta tanpa secuilpun kemampuan. Mereka seolah berbahagia dengan menunggu kesedihan, kebahagiaan mereka yang pasti akan direbut waktu kapanpun. Dan jika tak ada skill, kemampuan atau bekal dalam diri, bagaimana kita bisa bertahan dari ketiadaan itu.

Setelah sekian lama gue dan nyokap haus akan sebuah prestasi, kemarin tepatnya, Minggu 27 September 2015 gue mendapat penghargaan yang menurut gue luar biasa. Gue yang sudah lama menggeluti dunia blogger untuk menyalurkan hobby menulis gue, yang lebih banyak di isi dengan curhatan ketibang hal-hal bermanfaat. Pada suatu ketika gue mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan Polda Metro Jaya, untuk memperingati HUT Ditlantas Polda Metro Jaya yang bertema “Apa harapan anda kepada kepolisian untuk mengatasi kemacetan”. Sebenarnya ini bukan lomba pertama yang gue pernah terdaftar jadi peserta, namun ini jadi sejarah pertama gue menang dalam lomba dengan jenis/hobby baru gue, yaitu menulis. Lomba dengan mengatasnakan instansi hukum dan bersipat nasional, sudah tentu yang mendaftar banyak, juga sudah tentu pula saingannya bukan lagi kelas amatiran seperti gue. Terus kenapa gue ikut? Ya karena mau saja, urusan hadiah menjadi no sekian, karena dari sekian banyak perlombaan menulis gue nggak pernah menang, jadi nggak berharap banyak, yang penting bisa menulis dan mengembangkan pemikiran gue sekaligus menambah jam terbang tulisan gue. Yang jadi juri diperlombaan ini adalah orang-orang hebat, entah khilaf atau apa, mereka bisa menobatkan tulisan gue menjadi tulisan yang masuk di 6 nominasi terpilih.
Alhamdulillah, itulah kata pertama yang harus keluar dari mulut gue, pada hari minggu pagi di panggung pinggiran Bunderan Hotel Indonesia Jakarta. Panitia memutuskan jika tulisan gue menjadi juara pertama, tulisan gue terpilih menjadi tulisan terbaik di antara ratusan naskah yang diikut sertakan. Tak menyangka, namun banyak kisah atau hikmah dari kejadian ini, dan mohon maaf nggak bisa gue ceritakan banyak disini, terlepas dari hadiahnya satu unit Laptop Toshiba satellite click 2 pro, dan selembar piagam penghargaan yang sudah nyokap gue nantikan.
 Terimakasih, karena karya gue bisa dinilai dengan harga yang begitu besar. Terimaksih untuk yang selalu meluangkan waktu buat baca tulisan-tulisan gue. Terimakasih untuk jamuan istimewa dari para kapolda, gue merasa dihargai untuk hari itu. Dan terimakasih untuk hadiahnya, yang kebetulan bulan kemarin leptop kesayangan gue yang dibeli bukan dengan cara gampang harus terpaksa dijual. Dengan adanya leptop baru yang gratis ini hasil dari sebuah karya gue yang terbilang alakadarnya, seperti ada bisikan tuhan yang datang melalui leptop ini
“Makin rajin nulisnya, tuh leptopnya udah dikasih lagi”
Dan selamat juga untuk pemenang yang lainnya, lain kali kita bertemu kembali dipanggung kemenangan yang lain. Amin! Gue cuma punya dua kata yang bisa mendeskripsikan semua ini. Selamat dan semangat.

Untuk melihat 6 tulisan yang terpilih bisa baca blognya Mas Achmad Fazri. Klik disini.

Friday, August 7, 2015

Media Mu Adalah Panggung Mu

       Comments   
Sebagai remaja yang hobby ngetik, melampiasakan sesuatu lewat tulisan. Sekarang menulis bukan hanya dibuku, banyak sekali media sebagai tempatnya. Oleh karena itu saya kerap disantroni komentar negatif. Yang kalau dipinta alasan atas komentarnya selalu tak berlandaskan logika, ya seperti lebay, so bijak, so puitis, dan so so menjijikan lainnya.

Apa saya kesal? Tentu.

Apa mereka salah? Tidak

Kembali kepada esensi sebuah media. Dijaman sekarang yang akrab dengan media tak hanya kalangan selebritis, pemerintahan, tokoh masyarakat atau orang-orang hebat. Kita para makhluk ignorant pun bisa akrab dengan media, sebut saja media digital dalam internet. Hanya dengan diam didepan komputer atau gadget, maka apa yang terjadi di negri sebrang bisa kita ketahui dengan cepat. Saya pikir sekarang untuk tahu semua, nggak perlu keliling dunia, cukup beli banyak kuota.

Balik lagi ke media. Pengertian media menurut pandangan saya sama halnya seperti panggung. Hukumnya sebuah panggung akan ada tempat untuk penonton. Siapa saja bisa naik panggung atau menjadi penonton, terlepas dari apa yang ditampilkan, hak penonton untuk tertawa, kagum atau jiji dengan apa yang ditampilkan itu pasti ada. Makanya hampir disemua jenis media, kolom postingan selalu hadir dengan kolom komentarnya pula.
Kalo ngomongin alay, saya jadi ingat dengan materi Stand Up Comedy bang Sammy, kalau nggak salah seperti ini.

“Ga ada yang salah dengan media, yang salah itu kontennya atau isinya, kalau lo cuma bisa update cumungut ya. Jelas lo alay. Tapi kalau lo nulis, argument lo, opini lo, kritikan lo, pemikiran lo. Itu bukan alay”

Jelas beda bukan? Kalimat itu menjadi tamparan buat yang doyan update kaya gitu, ya seperti agustuswish dan semacamnya.

Tapi seperti yang saya katakan, itulah media, itulah panggung, terserah kamu menampilkan apapun yang kamu mau, sama dengan bebasnya penonton untuk mencibir atau memuji penampilan mu. Tapi sebebas bebasnya bertingkah di atas panggung, ingat dalam panggung akan ada EO, Polisi, Panitia penyelenggara, atau bahkan aturan main. Begitupun dengan media, sekarang telah dibentuk undang-undang ITE.

Jangan sampai kamu diturunin paksa dari atas panggung selain memalukan juga bahaya, nanti kepleset. So, Bermainlah dengan media tapi jangan dimain-mainkan. Sebab media mu adalah pangung mu, apa yang ditampilkan sedikit banyak memperlihatkan jati diri mu, mendefinisikan siapa kamu? Si-tukang galau, si-prontal, si-sexy, si-murahan, si-lucu, si-puitis, atau silahkan isi sendiri.

Thursday, July 30, 2015

Ingin/Mau

       Comments   
Stand up comedy adalah acara favorit saya, menurut saya itu acara anak muda banget, selain itu penontonya kebanyakan mahasiwa/mahasiswi cakep-cekep. Komika andalan saya, Soleh Solihun, Ernest Prakasa, Pandji, Sammy, juga si cupu Dodit. Stand up comedy di adakan memang untuk ditertawakan. Hidup ini singkat, so sangat disayangkan jika setiap detiknya harus dibuat murung. Namun walaupun itu komedi yang faktanya harus tertawa, adakalanya saya tidak ingin tertawa saat penonton lain dengan terbahak-bahak menikmati kelucuan materi sang komika.

Kalau kata Pandji tertawa itu refleks atau dengan istilah lain Involuntary response, jadi melarang orang untuk tertawa itu sulit, begitupun dengan menyuruh orang tertawa juga sulit.

Sekeras apapun orang dihadapan saya melucu, jika saya tidak mau tertawa, ya saya diam, dan ketika dengan hanya gerak sedikit saja orang dihadapan saya, jika saya ingin tertawa, maka saya akan tertawa. Oke tertawa itu refleks atau spontan, begitupun dengan saat saya menulis.

Ada sebagian orang yang menyebut saya sebagai penulis, saya suka namun kurang setuju, sebab yang saya tau penulis adalah mereka yang sudah punya buku, atau penulis adalah mereka yang memiliki pembaca yang loyal, dan saya pikir saya tidak punya kedua-duanya.

Pembaca saya masih orang-orang terdekat, teman dan keluarga saya saja, itupun karena saya paksa untuk baca, sambil saya ancam mereka, kalau tidak baca saya pastikan mereka tidak akan tahu saya nulis apa, kadang ada juga pembaca yang nyasar ke blog, dan ujung-jujungnya minta Visit back, padahal cara mempromosikan seperti itu saya pikir sudah terbelakang, kuno.

Selain itu ada pula yang mengenal saya sebagai blogger, sekali lagi saya suka tapi kurang setuju, sebab menurut saya blogger adalah ia yang sering memposting dengan konsisten. Dan saya pastikan saya tidak, bisa dilihat pada arsip blog ini, dalam sebulan saya bisa tak pernah memposting tulisan, namun ada juga yang hanya satu malam saya bisa memposting tiga artikel sekaligus.

Sering saya katakan, jangan berharap materi yang bermanfaat atau berbobot dalam tulisan saya, karena terkadang saya pun tidak paham tujuan atau maksud untuk apa yang saya tulis. Semua mengalir dengan apa adanya jemari saya menari. Banyak kutipan atau quote yang berhubungan dengan kegiatan menulis, jika menulis itu hal positif, jika menulis itu blablabla…. Persetan dengan semua kalimat bijak itu, demi Tuhan saya menulis karena mau, hanya karena ingin, tidak lebih dari itu, seperti halnya tertawa tadi. Sebayak atau sekeren apapun cerita hari ini, jika saya tidak ingin menulis, tidak akan saya lakukan, dan ketika satu menit saja saya punya ide, jika saya ingin menulis, pasti saat itu juga saya lakukan.

Makanya banyak catatan di handphone saya, ketibang di laptop, karena saya menulis dimanapun jika saya ingin lakukan. Lantas alasan apalagi yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu jika bukan atas dasar keinginan, seburuk apapun hal itu. Contoh; saat ini saya bekerja di tempat yang tidak saya inginkan, bukan job desk saya, tak sesuai dengan hobby saya. Pertanyaannya kenapa saya lakukan, karena saya ingin uang.

Hanya dengan modal keinginan, orang bisa berpikir lebih hebat, bergerak lebih cepat, bahkan bisa menjadi loyal dalam mengucap syukur. Jadi kalau kamu nggak punya keinginan, apa masih pantas untuk saya sebut manusia?

Karena manusia adalah mereka yang selalu ingin, mereka yang selalu mau.

Wednesday, July 29, 2015

Generasi Menolak Luka

       Comments   
Gue dan beberapa orang lainnya yang tumbuh dan berkembang di tahun 90an adalah termasuk kategori generasi X. Anak-anak digenerasi ini sangat akrab dengan rasa lelah, sebuah proses, pentingnya ketelitian, pukulan tangan, luka lebam, patah hati, dan patah tulang, dari semua hal itu, mereka juga dituntut untuk sabar yang benar-benar sabar, untuk balas dendam tanpa bawa banyak teman, menahan sakit tanpa harus merasa tersakiti, setangguh-tangguhnya mereka tak dibuat riya.

Dan para makhluk tuhan yang tumbuh setelah generasi X, disebut generasi Y dan Z. Generasi dimana semua bisa serba instan, tanpa harus mukul dengan tangan lawan bisa tewas dari kejauhan, ceroboh, asal itu suka sikat saja, jatuh hati sampai patah hati bisa diutarakan hanya dalam kolom chatting, balas dendam dan pulang bawa banyak teman, semua menjadi terasa kurang jika kepedihan dan kesedihan tak dibagi lewat kolom update.

Ketika generasi X yang haus akan sesuatu yang baru, generasi Y dan Z datang dengan berjuta kemudahan dan kelemahan mental. Semua kini menjadi terasa mudah, juga terasa manja. Sebagian generasi X meluapkan dahaga dengan apa yang ada di kekinian, dan melupakan teori-teori leluhur tentang ilmu cara melahap yang baik. Pada akhirnya mereka muntah. Kita tak bisa menyalahkan teknologi, sebab jika teknolgi ada di jaman empu gandring pun mereka juga akan pakai, mungkin ken arok dan ken dedes bisa jadian di facebook.

Kini mau apa-apa tinggal tekan, tapi bukan berarti harus menjadi si-pengecut yang dengan sejuta progres tanpa ingin tau panjangnya proses. Tak harus menjadi riya, dengan menyebar kecewa pada jutaan mata halayak didunia maya. Sebelum bahagia, jatuh dan termentahkan begitulah selaknya kita. Bukankah kita dilahirkan dengan menangis dulu, bukan tertawa dulu. Meludahi dengan rela untuk diludahi, menekan dan sangat siap ditekan, lalu nikmatilah luka. Bukan merengek manja dengan apapun yang dirasa mereka wajib tau. Rasa itu punya kita, maka kendalikanlah oleh kita.

Thursday, July 23, 2015

We were born to be young forever

       Comments   
Tulisan ini sebenarnya gue buat dibulan puasa, namun baru sempat gue posting sekarang, karena sibuk banget, sibuk santai kalau kata sisurayah. Hehe.
Happy fuckin bornday bang! My Allah bless u always, gotta much better than the last. Makin bagus postingan nya, dikelilingi orang-orang tersayang, pertemanan kita awet juga ya bang, hehe
Pesan yang datang di pagi hari, setelah sahur, selasa 7 Juli, 2015. Dari pembaca blog gue, yang pasti teman dunia maya yang nggak pernah ketemu, yang gue tau dia mahasiswi IPB Bogor jurusan akutansi. Katanya, dalam percakapan singkat dengannya di beberapa waktu yang lalu

Siangnya, disusul ucapan dari teman-teman dekat, yang paling dekat, yang jelas yang ingat. Kerena tak ada bentuk tulisan atau pemberitahuan dari social media apapun milik gue, untuk berusaha mengingatkan kalau hari itu adalah hari dimana dulu gue turun kebumi dengan menjerit nangis, dari lobang perempuan manis, akibat ayah yang nakal terlalu bersenang-sengang diruangan sempit bersamanya waktu itu. Dan tanggal 7 Juli 2015 Tsahh… gue berumur 23 tahun, Ahh makin tua, makin menyebalkan. Segala bentuk ucapan sampai minta traktiran nongol di layar handphone gue hari itu.

Ditengah malam, saat gue asik main billiard bersama teman-teman yang tadi siang minta traktiran, gue kasih bola biliard biar cepat kenyang. Satu pesan masuk, ketika gue lagi duduk nunggu giliran nendang bola. kalau tidak salah, ya benar, pokonya yang gue ingat isi pesannya seperti ini:
23:23 masih tanggal 7 kan?, selamat ulang tahun ya, jadilah apa yang kamu mau, aku sengaja ngucapinnya sekarang biar jadi yang terakhir, hehe
Jujur kedua ucapan itu menjadi moodboster buat gue, adem banget bacanya. Sebenarnya sih kalimat biasa namun efek dari ucapannya yang gue suka.

Pesan yang pertama, gue suka, karena sudah lama banget gue nggak buka lepi untuk nulis, sampai udah berlumut berisi jombie, entahlah seperti kehilangan power di jari-jari gue. Banyak yang nyemangatin untuk terus nulis, tapi teman-teman dekat dan keluarga gue doang, bukan nggak mau, namun gue rasa mereka seperti itu, karena ingin gue rajin, atau kasihan sama gue yang nggak ada kerjaan, bukan atas dasar suka sama tulisan gue, ya walaupun kenyataannya nggak sperti itu, sebab itu hanya prasangka saja. Tapi sepertinya gue butuh yang lain, gue butuh orang lain, gue butuh yang nggak kenal gue, begitupun sebaliknya, gue butuh orang yang hanya kenal sama tulisan gue. Yups, tuhan ngasih apa yang gue mau secepatnya, dipesan pertama adalah jawabannya. Sedangkan dipesan kedua, gue sangat suka dengan cara penyampaiannya, unik dan tak sadar menarik bibir gue buat senyum lalu ketawa terbahak bahak, sendirian, lalu orang yang melihat pun bengong.

Sebenarnya gue nggak berharap ada yang spesial dihari itu. Alasannya, karena gue jomblo, yang nggak mungkin nunggu kado atau bahkan sekedar ucapan selamat dan do’a dari orang spesial. Tapi ternyata kebahagiaan ini lebih dari sebuah status seorang pacar. Niatnya gue ingin dihari selasa tanggal 7 itu biasa, gue hanya berdo’a dan selalu berharap untuk supaya segala kesemogaan gue jadi kepastian. Karena masih banyak yang ingin gue capai diluar akhir perjalan manusia yaitu, nikah, punya anak, hidup berkah dan mati khusnul khotimah.

Cuma dua cara sedehana yang gue tau untuk membalas suport mereka, tetap bersyukur dan terus berusaha. Kalau ada hal yang lebih tinggi dari ‘Terimakasih’, pasti sudah gue lakukan. Tapi ahh, sudahlah, pokonya terimakasih banyak untuk semua yang sudah mau-maunya ingat, untuk kue yang gue tiup lalu gue makan lilinnya, dan segala benda dibumi yang telah dikasih.

Gue sayang kalian, beruntung punya kalian, dari teman yang waras sampai yang benar-benar gila. Gue harap kita tetap senang-senang, dan selalu senang-senang, gue suka dengan cara kita saat bersenang-senang, saling menyenangkan begitulah kita seharusnya, bukan? Dampingi gue menjadi dewasa yang tau diri bukan menjadi si-tua yang menyebalkan dan tak berarti. We were born to be young forever.

Thursday, June 18, 2015

Cewek Itu Ribet

       Comments   
Yang gue tau tentang cewek, cuma bisa gue jelaskan dengan melihat apa yang dilakukan nyokap gue. Cewek itu cerewed, cengeng, manja dan ribet. Bayangkan dibumi ada mahluk dengan logika seperti cewek.

Cewek yang suka bergaya peminim, tapi giliran ada yang merhatiin, ngamuk. Cewek yang suka pake baju sexi, pake rok diatas lutut, pas duduk bareng lawan jenis atau bahkan satu spesies dengannya, berusaha nutup-nutupin pake bantal kursi atau tasnya yang branded. Ya, cewek itu ribet.

Suka, tapi nggak pernah sudi buat memulai chat. Giliran di chat duluan, narik ulur perasaan. Giliran ga di chat duluan, curigaan. Kalau bersikap bijaksana dengan ngebabasinnya melakukan apa yang dia mau tanpa membatasi dengan segala pertanyaan, si-cowok dikira nggak cemburu, kalau udah dikira nggak cemburu, mulai sikapnya aneh.

Kadang gue berpikir ternyata jadi cowok itu lebih ribet. Ya, cowok ribet mikirin bagaimana bersikap untuk cewek yang pada dasarnya emang ribet. Tak jauh dari nyokap gue, yang kalau apa-apa mesti dia yang menang, kalau diposisi kalah, dia menggunakan standar keperempuanannya dan alasan keibuannya dalam menyanggah ucapan gue. Ya tuhan, cewek itu ya.

Ah sudahlah, karena yang gue tau, seribet-ribetnya cewek mereka cuma butuh cinta yang sederhana, sesederhana do'a ibu pada anaknya. Seegois-egoisnya cewek mereka hanya butuh teman hidup bernama cowok. Ya, semoga saja itu kamu, atau gue juga boleh ko.

Thursday, June 4, 2015

Berubah Atau Kalah

       Comments   
Gue baru sadar kalau gue hidup di jaman, dimana notifikasi menjadi hal yang pertama dinanti setiap bangun pagi. Jaman dimana kolom status, bisa menjadi wadah untuk setiap do’a. Seakan kalimat ‘Apa yang anda pikirkan?’ adalah pertanyaan dari Tuhan.

Tadi siang gue iseng scroll facebook gue sampai ke tahun 2012. Keliatan nggak ada kerjaan sih, biarlah itu urusan gue dengan jam dinding. Setelah pantat berakar gue ketemu dengan poto-poto aneh, juga status-status konyol gue jaman dulu. Jujur gue geli, melihat apa yang dulu gue update difacebook. Dan dulu itu semua gue anggap keren, namun pada fase tertentu itupun gue anggap norak. Adil sih, gue yang buat, gue juga yang menilai, dan gue juga yang sekarang akan mengkritik. Jadi sekeren apapun hal itu, percayalah akan ada saat dimana lo berkata ‘Ko gitu banget ya’ Gue scroll lagi ke atas, menengok ke beranda, ternyata gue masih beruntung menjadi orang yang mampu berubah pada fase yang semestinya, karena masih ada orang-orang yang berkecamuk dalam dimensi masa lalu gue dan itu mereka anggap sebagai tingkah polah masa kini. Sudah pantaskah kalau gue teriak ‘Woy, kemarin kemana aje?’ Daripada gue terkesan menggurui, jadi gue akan bahas keburukan gue sendiri ditempo dulu. Ini adalah hal-hal norak yang dulu gue lakuin dan gue anggap keren, seperti;
Upload screen capture saldo rekening.
Hal yang sebenarnya tak bisa mengubah cara pandang orang yang gue kenal nyata tentang diri gue sebenarnya.
Upload poto sedang tidur.
Sebuah poto yang gue buat saat sedang pura-pura tidur, hanya untuk memberitahu kalau gue mau tidur. Seribet itu kah untuk tidur.
Nyantumin nama pacar distatus/bio twitter.
Prilaku yang jika dipikir buat apa? toh itu tak pernah menutup celah gue atau bahkan pasangan gue untuk selingkuh. Itu adalah kelakuan bocah yang untungnya gue lakuin waktu masih menjadi bocah.
Marah-marah/ngehina mantan.
Cara bego untuk melampiaskan emosi dalam diri, dengan berkata kasar disocial media dengan terang-tengan menyebut namanya. Padahal hal itu tak pernah merubah kedaan dimana semua memang harus berpisah, melainkan telah membuat penilaian baru dari pandangan orang tentang senista itukah sosok gue sebenarnya. Lebih dari itu, sejelek-jelenya dia adalah mantan, yang sempat dan pernah dengan sangat diinginkan.

Nah itulah hal-hal norak yang dulu gue anggap keren, dulu sekali. Dan sekali lagi gue termasuk beruntung diantara mereka yang kini masih melakukan hal kaya gitu. Gue kira waktulah yang telah merubah gue, ternyata tidak. Sebab ini permasalahan apakah gue bisa mengikuti dan berjalan beriringan dengan sebuah tempo. Karena yang gue lihat masih banyak orang seusia gue yang tetap berjalan dengan sikap dimana itu gue anggap sebagai masa lalu. Jadi sebelum lo semakin ketinggalan jauh oleh waktu yang sebenarnya berjalan lambat, namun terasa sangat cepat jika lo terus diam ditempat. Pilih berubah atau lo akan kalah.

Wednesday, June 3, 2015

Hal Sederhana Yang Membuat Kita Merasa Sangat Berharga

       Comments   
Dulu. Dulu banget, gue sempat berpikir untuk apa semua yang pernah dan ingin gue lakukan, sekolah, ngaji, lalu kerja kalau pada akhirnya di ambil lagi dan mati. Yah, mungkin definisi hidup akan sesimpel itu jika yang gue lihat hanya tentang seberapa kuat gue bernafas, tidur, makan, minum, dan boker.

Siklus yang tak pernah menentu, baik masalah cuaca, keadaan, keuangan, bahkan perasaan, memikirkan tentang bagaimana esok pagi, dan itu semua berkecamuk menyibukan hari. Harapan dan do’a terus tercipta tatkala mata kita belum terpejam. Bahagia, bahagia, dan bahagia. Satu hal dari banyaknya harapan dan pencapaian akan esok hari. Sebagian orang berpendapat jika bahagia tak harus dibeli, namun pada faktanya, dengan banyak materi kita bisa menjadi bahagia. Jika bahagia adalah faktor materi, lantas bagaimana urusannya dengan orang yang tidak punya materi. Apa bahagia itu adalah mereka yang bisa pergi ke Paris, mereka yang bisa makan siang di MCD, mereka yang bisa diantar jemput pakai supir pribadi, atau mereka yang tiap hari shoping. Kalau tolak ukur kebahagiaan seperti itu, berarti sipat Tuhan yang maha adil, itu bohong. Oke, kayanya pembahasan gue mulai kejauhan.

Teringat salah satu quote penulis idola gue si-Surayah (@Pidibaiq) yang katanya “Bahagia itu kamu yang nentuin” Yap, gue setuju. Ini tentang skenario yang telah Tuhan tuliskan, bagaimana atau seperti apa kita menanggapi kesenangan atau kekecewaan yang akan datang diesok hari. Berserah diri atau mengutuk diri.

Mereka yang bergelimangan harta, menampilkan berjuta rasa iri pada diri kita, tentang bagaimana bahagia menurut versi mereka. Padahal kita punya cara sendiri, dengan kadar bahagia melebihi dari yang mereka rasakan dan biaya yang jauh lebih irit dari yang mereka keluarkan. Yaitu, yang pertama;
Keluarga.
Satu hal yang dirasa simple tapi berharga adalah keluarga. Dalam ruang kecil, yang sempit dengan beragam polemik hidup, kita bisa merasa lapang saat kumpul dengan keluarga. Hal yang selalu gue lakukan tiap hari adalah bercanda bersama nyokap dan ade gue setelah magrib. Kalau ada satu saja jagoannya yang belum pulang pas adzan berkumandang, nyokap akan terus hubungi gue atau ade gue. Agak risih, apalagi jika gue lagi asik kumpul, nongkrong sama teman. Namun hal itu gue rasakan berarti, saat nyokap gue mulai marah, dan tak satu pesan pun masuk ke Hp, disitu gue merasa kehilangan untuk sesuatu yang sebagian orang inginkan. Mereka yang tidak punya keluarga, mereka yang punya tapi nggak dipedulikan keluarga. Percayalah, sekaya apapun mereka tetap merasa miskin. Apa lo mau menukar keluarga lo dengan uang segunung? Hanya demi kebahagiaan yang seperti mereka pertontonkan. Hal simpel yang membuat bahagia selanjutnya adalah,
Sahabat.
Cuma dengan sipat dan sikap baik, kita bisa mendapat seorang sahabat, hanya dengan berusaha fair kita bisa punya banyak sahabat. Orang kedua yang selalu ada tanpa disebut pernah ada, karena mereka bukan mantan. Pendengar hanya dengan solusi sabar, mereka ada untuk kita baikin, jahilin, ceramahin, dan bahagia’in. Saat gue merasa bosan dengan keseharian, kelelahan dengan prioritas hidup, disitulah waktu dimana gue harus menghampiri mereka, berbicara tanpa ada tembok penghalang sebuah kata merasa tidak enak. Satu gelas kopi yang kerap diminum oleh lebih dari tiga bibir berbeda dan kita paling tidak mau kalau dihidangkan satu gelas persatu orang, entahlah alasan ilmiahnya apa. Tapi persetan dengan segala alasan ilmiah, kita bahagia tanpa alasan.

Oke, gue rasa cukup, untuk gue menulis hal simpel yang membuat kita merasa bahagia sekaligus berharga. Lebih dari apa yang gue tulis diatas kebahagiaan adalah rasa syukur. Seperti halnya gue bersyukur telah hidup, tumbuh dan berkembang diantara orang-orang seperti mereka. Juga kamu yang sekarang telah selesai membaca tulisan ini. Terimakasih.

Tuesday, June 2, 2015

Karena Balas Dendam Itu Tidak Baik, Jadi Sebut Saja Itu Pelajaran Baik

       Comments   
Dulu kalau kita mengirim pesan atau dengan bahasa lumrahnya SMS, nggak pernah ada tanda pesan itu dibaca atau tidak. Makanya paham tentang ‘Tak semua pesan harus berbalas’ benar-benar berlaku. Mengirim pesan, tugasnya ya hanya mengirim, tak ada pikiran apa-apa selain prasangka ‘mungkin pulsanya habis’ atau ‘Mungkin dia lagi sibuk’. Menanganinya dengan cara langsung ditelepon. Dan urusan pun beres ketika mendengar alasannya kenapa nggak balas pesan.

Teknologi semakin berkembang dan maju, membawa kita pada era dimana paham tadi menjadi sebuah paham yang kerap memicu sebuah perselisihan. Teknologi yang dibuat salah kaprah, malah menjadi boomerang untuk sipengguna itu sendiri.

Gue sering melihat perselisihan sepasang kekasih, bahkan teman gue sendiri yang di akibatkan hanya karena sebuah pesan. Keseringan terjadi pada aplikasi Blackberry Mesenger. Karena disitu ada metode tanda pengiriman seperi; ceklis, silang, delivery, dan read. Tak berhenti disitu, BBM juga menyediakan pesan siaran atau Broadcast. Dulu waktu gue masih pake Blackberry, gue rasa wajar kalau broadcast hal konyol, sebab pengguna masih pada baru semua, masih mau berobservasi dengan kecangihan teknologi, tapi ternyata sampai sekarang BBM udah di Android, orang-orang norak yang doyan broadcast tidak penting masih pada hidup. Jujur sebenarnya gue enggan pake aplikasi BBM itu, sempat juga gue hapus, gue lebih Pro sama WhatsApp, namun popularitas orang axis masih banyak, dan teman-teman gue kebanyakan pake aplikasi itu, alhasil ketika gue hapus BBM gue kelimpungan untuk melakukan komunikasi dengan mereka. Dan gue pikir pengguna BBM sekarang sulit mendapat kepuasan dan cenderung labil. Seperti yang gue lihat pada tren update Personal Mesenger di BBM yang kaya gini.
  • NONA
    Otw afarika :) | Ih kamu berubah :( | Makasih mamah untuk kue nya | Save Muslim Rohingya |Hari ini panas banget -___-.
Pernah lihat kan yang kaya gitu?

Ceklis dan silang biasanya nggak begitu menjadi prasangka pribadi untuk kedua pengguna, hal itu biasanya ditangani dengan cara membuat Personal Mesenger (PM) untuk memberitahu kalau pesan yang dia sampaikan ceklis atau silang. Nah, notif PM pun dipenuhi oleh percakapan mereka berdua.
  • LOLA
    Iya bebez, nggak apa-apa. Ceklis bebz
  • LILI
    Iya bebz, aku mau kesana ko tapi nanti. Iya ceklis bebz
Okeh, kita abaikan dua sejoli yang sedang kasmaran itu. Lanjut ke tanda (D) & ® atau Delivery dan Read. Masalah Delivery dan Read, sering menjadi prasangka negatif, karena itu bukan kesalahan dari koneksi atau gadget itu sendiri, itu ulah dari sipengguna. Kalau terus-terusan (D) Berarti pesan nggak dibuka, kalau ® Berarti pesan telah dibaca. Terus kalau kita jadi pihak yang mengirim pesan, enak di ® atau (D).? Lalu saat kita jadi pihak yang dikirimi pesan enak (D) atau ®.?

Gue pernah melihat Handphone teman, yang di home layar Handphone nya, banyak notifikasi yang belum dibuka, udah seperti megang hp artis hollywood yang banyak job sana sini, namun sibuk belum bisa buka pesan yang masuk. Padahal kerjaanya cuma tidur, lantas gue tanya ‘kenapa nggak dibuka?’ ‘Udah biarin’, jawabnya so cakep. Setelah gue survey dan tapa bareng Kelin Quen, alasan yang sering terjadi adalah;

-Biar pas di capture, tampilannya cakep dengan puluhan notifikasi. Atau
-Biar pas dipinjem orang handphone nya di anggap laku.

Padahal kalau dilihat dari kacamata orang waras, hal kaya gitu bisa dikatakan norak, dan menurut gue tipikal orang yang seperti ini adalah tipikal orang yang nggak mau damai sama keadaan. Dia nggak tau kalau orang yang mengirim pesan, menunggu kepastian atau ketenangan kalau pesannya sudah dibaca, walaupun nggak dibalas. Jadi menurut lo, mending ® atau terus-terusan (D) sampai mampus? Sampai dia kelak butuh kita lalu chat ke kita, dan kita diemin seperti halnya yang dilakuin dia ke pesan kita. Karena balas dendam itu tidak baik, jadi sebut saja itu pelajaran baik.

Monday, June 1, 2015

Jenis Cewek Yang Nggak Boleh Dijadikan Pacar

       Comments   

Cewek itu……?

Ah, bakalan panjang banget, kalau mendeskripsikan siapa itu cewek atau dalam bahasa sopannya perempuan. Singkat saja, menurut gue perempuan itu yang berlobang, dan pria yang berburung. Dijaman sekarang tak ada banyak perbedaan antara pria dan perempuan, dalam segi karir, pendidikan atau bahkan sikap, semua hampir serupa. Gue nggak setuju kalau perempuan disebut makhluk yang lemah, menurut gue dia kuat bahkan jauh lebih hebat dari pria. Karena hanya perempuan yang mampu mengangkat barang pria tanpa harus disentuh *MikiKeras*

Sebagai manusia sejati yang tak bosan untuk patah hati tentunya kita harus punya pasangan atau tambatan hati untuk kita jadikan teman hidup dan menghabiskan hidup. Mengutip kalimat dari orang bijak;
Cari yang terbaik, sebelum menikah, dan terima apa adanya setelah menikah.
Namun kebanyak dari kita itu sebaliknya. Saat masih pacaran dengan penuh romantica asmara kita bilang ‘Sayang aku nggak punya apa-apa, aku hanya punya cinta yang siap membuatmu merasa punya segalanya’
Lalu sicewek pun menjawab ‘Tak ada yang lebih berharga didunia ini selain kamu, aku cinta kamu, aku terima kamu apa adanya bebebz’ Setahun setelah menikah, piring, gelas melayang, karena nggak dikasih uang dapur berbulan-bulan. Uooooooo.. taee ya.
Saran gue kalau lo masih pacaran tuntut pasangan lo untuk menjadi hebat. Ingat tuntutan yang logis dan manusiawi. Jika dia tidak bekerja, bantu. Jika dia sedang bekerja, dukung. Dan jika dia nggak mau bekerja, tinggalkan.

Nah, terasa nggak adil kalau gue lihat dari sudut perempaun saja. Untuk para pujangga, kali ini gue bakal beritahu lo jenis-jenis perempuan yang nggak boleh lo jadiin gebetan, pacar atau bahkan ibu dari anak-anak lo. Diam dan perhatikan, ini serius.
Kencing berdiri.
Sebelum terjebak dalam hubungan yang lebih jauh, gue saranin lo selidiki kebiasaan cewek lo dalam hal intim perempuan. Tapi jangan sampai lo cari kesempatan yang tidak-tidak, inget bukan mukhrim. Lo bisa suruh teman perempuan lo buat ikutin dia ketoilet, dikhawatirkan dia kencing berdiri sambil geleng-geleng kepala mata sedikit dimeremin. Kalau ketahuan gitu, keluar dari toilet, cepat putusin. Please gue mohon putusin, gue sayang sama lo bro.
Sendal dicopot.
Ini masalah harga diri lo sebagai laki-laki dimata publik. Lo coba ajak cewek lo jalan ke mall atau alfamart, kalau sendalnya dicopot, sebaiknya lo tanya
‘Sayang kamu keturunan tarzan dari hutan mana?’
Intinya perempuan yang lo pacarin harus seperti bunglon, yang pintar menyesuaikan dimana posisinya berada baik dalam hal berkomunikasi atau bergaya.
Marahnya aneh.
Dalam hubungan tentu akan ada perselisihan yang biasanya bermula dari beda kelamin pendapat. Menurut gue cewe itu lucu kalau udah ngambek, melihat bibirnya dimanyunin, lihat dia merengek manja, itu membuat gue merasa jika dia percaya gue adalah orang yang pantas untuk dia andalkan, membuat gue benar-benar jadi cowok. Cowok tanpa tuntutan, lah cowok macam apa? Cewek ngambek itu lumrah, bahkan gue pikir sudah menjadi budaya yang harusnya diterapkan pada urutan UUD Pancasila. Kalau cewek lo ngambek namun ngambeknya beda dengan cewek pada umumnya, seperti;
  • Berkali-kali bilang ‘Turunin aku disini sekarang’ padahal mobil belum jalan. Atau,
  • Langsung update status di Bbm ‘Ga apa-apa’ padahal handphonenya Esia Hidayah. Atau,
  • Kalau di ajak jalan, bilangnya jalan sedang diperbaiki. Atau,
  • Kalau main kerumah nya, tulisan ‘Welcome’ dikeset diganti jadi ‘Ngapain kesini’ Atau,
  • Kalau di ajak makan bakso, mangkuknya dimakan, baksonya dibalikin. Atau,
  • Kalau ngupil pake kaki, lalu dipeprin ke jidat. Atau,
  • Kalau melotot, dedaunan langsung gugur.
Marah yang berlebihan atau tidak wajar akan membuat lo tersiksa sepanjang hayat. Jadi sebelum cinta semakin mendalam, dan hubungan mengarah ke tahap yang serius, perhatikan sikap dan ucapannya kalau dia sedang marah. Semarah-marahnya manusia, attitude itu tetap ada.

Itulah jenis-jenis cewek yang nggak boleh lo jadiin pacar. Masuk akal atau tidak itu nggak masalah, asal jangan sampai, setelah selesai baca lo masuk rumah sakit, masuk penjara, atau masuki alam bawah sadar.

Thank, bye.

Saturday, May 30, 2015

Jangan Manja Untuk Hal Yang Biasa

       Comments   
Pernah mendengar kasus seorang pria bertatto di Bandung, yang menginjak sarana umum yang telah diperindah oleh pemerintah kota bandung. Kebetulan gue follow account twitter @Infobandung Bapak @ridwankamil dan sederet account twitter teman asal kota Bandung, walaupun sebenarnya gue bukan orang Bandung.

Kasus itu menjadi hits, sudah tentu di social media, karena disitulah yang menjadi awal tumbuhnya kasus itu. Netizen dengan puas dan berbondong-bondong menghujat orang itu, ada pula yang sekedar mengingatkan. Nah pria bertatto itupun jadi populer, pastinya dia malu dengan sikapnya, dia langsung meminta maaf dengan mengirim surat pada Bapak Ridwan Kamil, gue sempat melihat suratnya di instagram dan katanya dia pun mendapat hukuman ngepel Jalan Braga. Gue suka karena pemerintah kota bandung sangat tegas, membuat gue ingin sekali pindah kesana agar ngepel bareng pria yang gue lupa namanya siapa. Mau cari tau males, tapi waktu itu gue ikuti beritanya.

Itu satu kejadian dari banyaknya pelanggaran yang dipublikasikan ke media social dinegri ini dan bukan hanya di Bandung. Lalu kerap menjadi kabar populer. Tak salah sih, dan itu pantas, untuk membuat jera dengan rasa malu didepan mata publik. Namun gue pikir pantas jika kita disebut generasi latah, yang serba ikut-ikutan, sebab sejak kejadian itu, Netizen yang melihat pelanggaran berlomba-lomba memotretnya lalu melaporkan kepihak terkait. Gue rasa itu berlebihan jika ukuran pelanggaran masih bisa ditangani oleh rasa kemanusiaan. Entah tujuannya memang benar ingin melaporkan atau hanya sekedar axis dimedia social agar di retweet oleh pak Ridwan Kamil yang followernya banyak.

Menurut gue jika masih bisa ditegur atau dikasih tahu oleh diri sendiri, kenapa harus melaporkannya pada pihak yang lebih tinggi, jika memang sudah ditegur tetap ngeyel bahkan ngajak berantem, mungkin disitulah kita dapat mengadukannya. Toh kita nggak mau disebut tukang ngeluh, tukang ngadu yang dikit-dikit ngeshare photo. Phone capture everything itu ga selamanya bagus loh, sudah banyak korbannya. Tolong jangan manja untuk hal yang biasa.

Saturday, May 16, 2015

Sewajarnya Ekspektasi Dan Realita Manusia

       Comments   

Ekspektasi terkadang lebih keji dari kenyataan. Keji disini gue artikan sesuatu yang berlebihan. Yap, sebuah pengharapan memang mudah diciptakan, kita bisa berangan-angan seperti apapun dan bagaimanapun maunya kita. Waktu dan kesempatan ikut andil dalam membentuk sebuah harapan, mimpi atau angan-angan.

Gue sering mendengar ungkapan ‘Jangan terlalu berharap’ pertanyaan gue, memang ada alat ukur untuk membatasi harapan yang kita ciptakan. Tak muluk-muluk, kita manusia selalu ingin lebih dan lebih, dan itu tanpa disadari melayang layang dibenak, berhenti sejenak lalu direspon oleh pola pikir kita yang meng-iyakan. Dorrrr…!!! Harapan pun muncul, ketika harapan sebelumnya belum terpenuhi, kini bertambah lagi harapan baru, dan terus menggunung.

Puncak yang jadi masalah atau kegalau-an yang kerap dieluh-eluhkan adalah saat realita yang terjadi jauh dari apa yang diharapkan. Sakit? Tentu. Ingin marah? Tentu. Pasrah? Bisa. Semua campuraduk menjadi satu gumpalan nafsu didada. Mungkin kejadiannya tidak begitu mengerikan jika apa yang diharapkan adalah sebuah hal kecil. Namun beda lagi kasusnya jika harapan yang kita ciptakan adalah masalah pelik dan rumit dalam hidup atau bahkan yang selama ini kita impi-impikan, seperti;
  • Tidak diterima di Universitas yang diinginkan. Saat lo sudah yakin, dan telah mempersiapkan semua, bahkan membayangkan duduk bercanda dengan teman-teman baru dalam kampus itu.
  • Di tolak diperusahaan yang diimpikan. Saat lo telah menyimpan banyak rencana dengan gajih pertama diperusahaan itu.
  • Masalah pelik perasaan. Jleeebb jreng jreng..!! Bentar gue mau minum dulu agar nulisnya calm, okey. Ya, saat lo telah yakin dengan apa yang lo lakuin untuknya dengan segala macam problematika cinta, namun realita berkata lain, lo tak pernah dianggap ada.? Owhh… sabar ya bro.
Nah dititik itu semua menjadi terasa berantakan, ko jadi begini, ko jadi begitu, keadaan pun kerap disalahkan, atau bahkan tuhan yang telah menggenggam rencana lo kedepan jadi sasaran pertanyaan-pertanyaan dari keterpurukan lo.

‘Ya tuhaan, kenapa jadi begini? Kenapa kau uji aku seperti ini,? Ya tuhan jika dia bukan jodohku jauhkan dia. Ya, tuhan tak mungkin aku berhenti mencintainya, namun ijinkan aku untuk bisa hidup tanpanya’ syalalala…

Dan do’a ditulis dipesbuk, biar banyak yang nge-like. Taee kan.

Ada yang kaya gitu?

Sewajarnya manusia berharap itu pasti, mungkin kita tidak bisa menghentikan derasnya laju pengharapan dibenak, namun setidaknya kita telah siap dengan apa yang terjadi setelah itu. Bersyukur kita masih bisa membentuk sebuah pengharapan.
Karena yang paling pedih dalam hidup adalah, bergerak tapi tanpa tujuan, lebih dalam dari itu bernafas tapi tanpa punya harapan.
Tau orang gila? Nah itu.

Tuesday, April 28, 2015

Passion Before Fashion

       Comments   
Seperti yang kita ketahui jika streetwear masih merajai di kategori gaya busana remaja terbaik tahun ini, dengan gaya yang semakin beragam dan sporty. Untuk baju, tahun 2014 yang lalu mulai dimasuki ke fase ke-rok-rok-an, kaos gombrang ke bawah sampai menyerupai rok, kemeja flanel yang diikat di pinggang menyerupai rok kaya mau tur ke Pamanukan, bahkan ada cowok yang memakai rok beneran. Untuk celana, celana panjang model dilinting/dilipet masih ngetren dan sekarang mengarah ke sporty sepertinya, celana model training dengan karet di bawah pergelangan kaki mulai booming di tahun ini, istilah kerennya adalah Jogger Pants, memakai celana model ini agak riskan, kalau cocok ya keren, kalau enggak cocok ya jatohnya jadi kaya ibu-ibu senam pernapasan tiap Minggu pagi.
Gue pikir semua dimulai dari genre music yang sekarang makin marak didengarkan, ada yang benar suka, ada juga yang sekedar ikut-ikutan, yakni music local/indie seperti punk, hardcore, atau secara garis besar music metal, yang dalam liriknya kerap meneriakan soal idealisme, social, dan perlawanan, pada masa itu semuanya serba Fuck, pokonya asal memakai kata Fuck, udahlah keren, Fuck ini, Fuck itu, anti ini dan anti itu, salah satu yang dilawan mereka adalah kata ‘trend’ ya, mereka kerap mengatakan anti trendy, namun kebablasan jadi ngetrend beneran.

Gue merupakan satu dari banyak orang yang suka dengan genre local seperti itu, dengan vocal yang teriak-teriak nggak jelas, musik penuh semangat, alasan nya karena music seperti itu terbilang langka, dan yang langgka itu special. Semakin kesini aliran music terus bermetamorfosa, dari yang tadinya searah tapi sekarang seperti satu kendaraan untuk berbagai tujuan. Iya kali Primajasa. Enggak dipungkiri lagi EDM (Electronic Dance Music) adalah jawabannya. Karena EDM sudah menyentuh ranah pensi dari sekolah ke sekolah. EDM bisa juga disebut genre metal ‘masa kini’ dengan sentuhan synthesizer toet-toet yang nyelengking disempurnakan vocal tinggi yang nyaring. Di genre ini juga pernah ngetrend rambut kembung acak belah pinggir gondrong nanggung yang sempet diikuti Kevin Vierra, dan gue pun sempat ikutin, namun karena gue bukan kevin, alhasil jatohnya jadi kaya Rano Karno selesai wisuda. Mungkin sebentar lagi aliran ini akan muncul di tv, dan mungkin pula akan hilang kespesialan pada aliran ini.

Sebenarnya tak ada yang salah mengikuti trend-trend seperti itu, karena gue sendiri tergolong orang yang mengikuti arah suatu masa, kalau kata nyokap gue ‘Hirup mah kudu ngigelan jaman’ tetapi alangkah baiknya untuk mempelajari apa yang kita pakai bukan sekedar meniru atau ikut-ikutan yang penting gaya, agar kita nggak selalu disebut sebagai kaum latah. Kalau kata band H2O. Passion Before Fashion.

Thursday, April 16, 2015

Tai

       Comments   


Senja yang tenang, sebuah keadaan pengantar kesunyian, siatuasi dimana sang penguasa hari lekas pergi, tergantikan rembulan yang kembali datang seperti malam tadi. Berputar, terus berputar sampai saat dimana keduanya bertabrakan hebat dan aku, kamu, dia, juga mereka lebur. Tapi yasudahlah jangan bahas itu, aku belum siap. Sungguh belum siap.

Ku tengok jarum jam ditangan, sesekali mengerutkan dahi karena waktu yang kuhabiskan didalam angkutan kota ini cukup lama. Macet penyebab utama, aku bisa apa, mereka juga bisa apa, kita semua bisa apa. Sabar adalah satu-satunya cara dengan sesekali bibir mengeluarkan keluhan setelah selesai melihat waktu di jam tangan untuk yang kesekian kalinya. Ahh.. Tai.

Tai adalah sesuatu yang harusnya dikeluarkan, namun jadi hal yang sering di utarakan. Aku belajar banyak dari dia, tentang bagaimana ikhlas setelah dibuang, dan bagaimana belajar melupakan seolah tak ada apa-apa, dia merelakan dirinya hanyut begitu saja, tanpa menuntut banyak akan kesalahan ku membuangnya. Thank Tai.

Monday, April 13, 2015

Polemik Kekinian

       Comments   
Sejak perkembangan internet masuk ke negri ini, lalu meyelusup ke pelosok-pelosok desa, disitulah perubahan dimulai, dampak dari itu, banyak hal negative ketibang hal positive. Kalian juga sudah tau dengan apa yang terjadi dikekinian.  Jika melihat tingkah pola anak sekarang bikin kita geleng-geleng kepala, anak baru lahir udah bisa pake motor, mobil, lalu nabrak puluhan orang sampai mati. Dan polisi tak bisa berbuat banyak karena hukum yang masih dikategorikan kenakalan anak dibawah umur. Masih bau minyak telon, udah bisa megang gadget, main game online sampe mampus, facebook-an, twitter-an, nonton bokep di youtube, dan lebih percaya nanya ke google ketibang nanya ke bokap nyokap atau guru.

Di zaman pra-internet, kalau mau kenalan sama cewek, hanya ada dua pilihan menyakitkan. Berani samperin lalu ajak kenalan, atau dibiarkan begitu saja, mengubur perasaan yang menerobos ke batin lalu tipes. Kalau nggak punya keberanian, siap-siap saja untuk jadi olok-olokan temen. Di zaman dulu tak ada yang namanya galau, susah move on, LDR, atau semacamnya. Karena segala hal yang dilakukan cuma memberi dua kepastian.
Bahagia atau kecewa.
Ya, sesimpel itu. Lebih cepat move-on setelah patah hati karena tak ada bentuk media apapun yang terus mengingatkan kita untuk berlama-lama patah hati. Ingat muslim yang baik tidak berlarut-larut dalam kesedihan dia percaya dengan segala ketentuan Tuhan, ehhm.. *Benerin Peci*

Sekarang adalah zaman instans, semua serba digital, dari mulai menanak nasi, bikin kopi, sampai boker juga patah hati. Kenalan tak harus pasang raut muka malu-malu, canggung, deg-degan, lutut gemeter, tapi tinggal pergi ke kolom chating, facebook, twitter, path, Bbm dan sekutunya, lalu ungkapkan apa yang mau di katakan, kalau merespons lanjutkan kalau tidak ya selesai, cari lagi nama lain di kolom chating, lakukan hal sperti itu lagi, dan terus, terus, terus seperti itu sampai beyonce buat album religi.

Akibatnya, banyak pelecehan, pencemaran nama baik, pembunuhan, penculikan, atau perselingkuh yang semua dimulai dari chating atau alat komunikasi digital, dengan bercanda yang berujung di jeruji penjara. Terang saja karena dengan hanya menatap photo dan biodata yang ditulis, kita sudah bisa mendeskripsikan seseorang. Dari situlah muncul istilah Pencitraan Media. Tak hanya deretan para aktris yang bisa buat sensasi, sekarang orang miris pun bisa buat sensasi, belaga bak selebriti.

Orang mulai berbondong-bondong membuat segala jenis akun social media tanpa mengerti cara pakai dan fungsinya. Update status sebijaksana mungkin, walau pun hasil copy paste dan tidak mencantumkan pembuatnya (Woy, creative itu susah) Update photo semewah mungkin, seakan segala sesuatu publik pun harus tahu, dari mulai makan, minum, tidur, sampai photo lagi dirumah sakit dengan infusan masih menempel. Segala bentuk cara modus ada, dari Test contact, Maaf bersihin contact, Broadcast Pin, masalah keyakinan, sampai broadcast bawa-bawa takdir tuhan.
Padahal hidupnya belum tentu sebahagia dan semewah dari apa yang biasa kita lihat di setiap update-annya.
Kita tak bisa menahan datangnya perkembangan internet yang masuk dengan begitu cepat, dan salah juga jika pura-pura tidak tahu, atau berusaha menutup mata dengan segala yang ada saat ini. Gue nulis begini, bukan berati gue anti social media. Justru karena gue sudah ngalamin segala hal negative akibat itu. Namun sampai saat ini situs social yang gue anggap perlu cuma Facebook (Yang hampir gue tinggalin), Twitter (Untuk pencitraan), Intagram (Untuk sombong), Youtube (Untuk video lah), dan blog (karena suka dengan kode pemograman). Selain itu berarti gue anggap fungsinya masih sama.

Kita tak bisa menyalahkan perkembangan internet, karena seperti yang pernah gue katakan segala sesuatu pasti ada nilai phositive yang dapat kita ambil. Banyak sekali hal-hal baik dalam internet, yang jauh lebih bermanfaat dari hanya sekedar bergalau ria (Jujur malah geli kalau lihat yang tiap menit galau, atau mencaci mantan) Gue saranin, kumpulin kisah patah hati kamu sampai 100 halaman Hvs lalu kirim ke penerbit. Tsahhhh.. hari itu kamu jadi penulis buku.

Menggunakan ewajarnya, itu lebih baik, karena mereka yang kamu kenal disana hanya peduli sebatas apa yang mereka lihat. Saat kamu meringis kesakitan, temen nyata yang jelek, idungnya pesek, muka nggak karuan lah, yang bakal jenguk dan do’ain kamu. Yang membuka telinganya untuk mendengarkan mu, memberikan pundaknya untuk mu bersandar lelah. Cintai dan berterimakasih lah padanya.

Sunday, April 12, 2015

Masalah Pelik Persahabatan Lawan Jenis

       Comments   
Postingan gue masih dalam segment persahabatan. Sebagai bentuk pembelaan diri seorang jomblo, apalagi kalau bukan riangnya pertemanan. Lebih mengerucut dari bahasan gue sebelumnya, kali ini gue akan membahas tentang ‘Peliknya Persahabatan Lawan Jenis’. Bukan pertemanan, tapi persahabatan, karena menurut gue teman dan sahabat itu beda, jika perlu penjelasan baca dulu tulisan gue yang ini.

Oke langsung aja, *pletekin jari jemari*

Seperti yang sering kita dengar, tak ada yang mustahil didunia ini, begitupun dengan sebuah persahabatan lawan jenis. Tak mustahil untuk benar-benar menjadi sahabat sampai tua dan mati, namun tak mustahil juga untuk jatuh cinta sampai mati.
Gue adalah orang yang nggak yakin persahabatan lawan jenis itu benar-benar ada, dengan nilai-nilai persabatan yang semestinya.
Sahabat menurut gue punya tempat istimewa, bahkan tahtanya sedikit lebih tinggi dari seorang pacar. Ingat yang gue sebut disitu pacar, beda lagi kasusnya kalau udah meried. Yakali, gue mau ngurusin sahabat terus. Gue merupakan salah satu orang yang sangat beruntung dimana hari-hari gue diwarnai oleh para sahabat.

Sahabat adalah komedian tak berbayar, komentator tak teratur lebih dalam dari itu, sahabat adalah kebahagiaan yang tak berdinding, dimana semua terlihart transparan, semua dibuat se-apa adanya mungkin, tanpa terhalang oleh perasaan cinta atau ketertarikan seksual terhadap sahabat kita sendiri. Itulah yang gue berikan dan dapatkan ketika menempatkan diri gue dalam persahabatan. Pertanyaannya;
Apa iya, gue bisa berada didalam dunia seterbuka itu dengan lawan jenis. Yaitu perempuan?
Mengamati dari semua curhatan teman atau bahkan pengalaman gue sendiri. Faktanya ketika kita memposisikan diri dengan lawan jenis, selalu hadir perasaan lebih. Kalau nggak cewenya yang punya perasaan lebih, atau si-cowoknya, atau mungkin keduanya memiliki perasaan yang sama. Ada juga yang sampai pacaran, lalu putus. Apakah putusnya hubungan sebagai pacar, putus pula hubungan sebagai sahabat? Lalu apakan disitu cinta harus jadi sesuatu yang di kambing hitamkan, apakah disitu perasaan yang harus menjadi alasan atas segala kehancuran hubungan. Tentu tidak, kerena ketika putus. Ya, kembali lagi menjadi sahabat. Permasalahannya;
Tak banyak orang yang mampu mengembalikan situasi atau kedekatan persahabatan saat sebelum menjadi pacar dan setelah menjadi mantan pacar.
Kita tak bisa menyalahkan datangnya cinta dan perasaan yang lebih pada seorang sahabat lawan jenis. Karena yang gue tau, tak pernah ada sebuah tatak rama atau salam permisi untuk datangnya cinta. Seperti yang sudah kita ketahui selalu ada keganjalan yang indah dibalik persahabatan lawan jenis. Kenapa gue bilang indah.? Karena selalu ada rasa lebih dari sekedar peduli, kerap ada rindu dari sekedar ingin bertemu. Ada yang tersembunyi yang belum terungkap, dan akan terus menerus dikatakan ‘belum’ bila tidak ada keberanian mengungkap. Anak gaul biasa menyebutnya friendzone.
Kita semua tahu dibalik keberanian yang hanya segede upil pinokio, ada rasa yang lebih besar dari itu. Yaitu rasa takut kehilangan, rasa takut penolakan, rasa takut akan kedaan baru atau bahkan rasa takut menunjukan ketertarikan seksual.

Kesimpulannya. *anjrit berasa bikin makalah*.

Jadi semua kembali pada diri kita menanggapinya seperti apa. Memilih memendam perasaan atau bahasa keji nya terbunuh oleh cinta. Apa memilih mengutarakan dan menerima akan segala hal yang bakal terjadi setelah itu.
Karena menurut gue, banyak nilai plus yang kita dapat dari persahabatan menjadi cinta, kita akan lebih tau mendalam tentang orang yang kita cintai karena tak dibatasi gengsi. Dan gue selalu berharap pada suatu hari kelak, orang yang gue nikahi adalah kekasih yang juga bisa menempatkan dirinya sebagai sahabat gue sendiri. Percaya atau tidak gue pikir disitulah titik kebahagiaan relationship sesungguhnya. Josss..!

Saturday, April 11, 2015

Sampai Jumpa

       Comments   
Malam ini aku ingin bercerita, jadi mohon maaf jika aku membangunkan mu. Baiklah akan aku mulai ceritanya.

Namaku Maya Sugandi, anak tunggal dari Herman Sugandi, waktu itu usia ku 19 tahun yang kebetulan satu minggu lagi, tepatnya 20 Januari usiaku genap 20 tahun. Ayah ku seorang advokat/lawyer kondang, yang suka menangani kasus-kasus besar. Klien nya tak hanya di indonesia, banyak juga dari luar negri yang memintanya untuk menangani kasus mereka. Ibu ku, sama seperti ibu mu, wanita, juga suka ngegosip bareng ibu-ibu yang lain, ikut arisan atau shoping. Secara financial keluarga ku bisa dikatakan lebih dari cukup, apapun yang aku mau pasti aku dapatkan.

Oh iya, aku punya pacar namanya Rendi, dia tampan, baik, juga penyayang, aku mencintainya, begitu pun dia, aku tahu karena sikapnya menunjukan seperti itu, dan sejauh ini tak ada hal yang membuat ku kecewa padanya.

Belakangan ini ayah dan ibu sering bertengkar, aku tidak tahu apa masalahnya. Ah, kupikir hanya masalah rumah tangga biasa. Ayah jadi sering pulang malam, begitu pun dengan Ibu, mereka sibuk dengan dunianya, begitu pun aku, kita masing-masing, pulang kerumah seperti pulang ke kosan. Rumah yang megah nan besar seolah menjadi sempit dengan semua sikap kita.

Satu ketika aku bertemu ayah yang baru pulang dan kebetulan aku belum tidur. Ku hampiri dia yang sedang duduk lemas dikursi ruang keluarga, ku bawakan teh hangat kesukaan nya, yang tidak mau jika terlalu manis. Aku memulai percakapan untuk meringankan lelahnya sambil ku pijat tangannya satu persatu.

‘Ayah ada masalah apa sama ibu’ Tanyaku santai.

‘Biasa ibu mu suka ikut campur dengan kasus yang sedang ditangani ayah. Oh ya, ibu mu sudah pulang.?’ Ucapnya menatapku penuh lelah.

‘Sudah ko, tadi sejam sebelum ayah pulang, sekarang ibu sudah tidur’

‘Syukur deh, padahal ayah seperti ini, untuk memenuhi kebutuhan kalian juga’

‘Iya, aku mengerti yah’

‘Emang kasus ayah kali ini berat, ko ibu sampai ikut campur’

‘Lumayan, karena lawan dari klien ayah yang terus bersikukuh tak mau kalah, begitu pun dengan klien ayah, kita sama-sama punya bukti sama-sama kuat, tapi ayah optimis untuk menuntaskan kasus ini, oh iya kamu masih pacaran sama Rendi?’ Ucapnya.

‘Masih yah’

‘Rendi serius nggak sama kamu?’

‘Sejauh ini sih, ku lihat dia serius, mungkin mau nyelesein dulu kuliahnya, begitu pun aku’

‘Oh bagus, kapan dong ajak main dia sama keluarganya kesini, buat makan malam bareng’

‘Ayah kan sibuk, dan katanya keluarganya juga masih sibuk, karena ayahnya juga sama seperti ayah, seorang pengacara. Tapi aku janji, pasti aku bawa keluarga Rendi kesini’

‘Yasudah, udah malam kamu tidur gih’ Ucapnya mengakhiri percakapan. Lantas aku pergi ke kamar tentunya untuk tidur.

Aku mau memberi tahu kamu tentang aku dan Rendi. Kita pacaran sudah hampir dua tahun dan selama itu pula, keluarga kami belum pernah satu kali pun bertemu. Ya, tidak lain karena sama-sama sibuk. Kadang aku iri dengan teman-teman ku, yang jika dihari libur, jalan bersama keluarga. Bukan, bukan aku tak mensyukuri hidup ku. Aku sangat bersyukur dengan kedaan ku ini, mungkin ini nilai plus buat ku sebagai pengganti kasih sayang yang hilang, dan kerap membuat teman-teman ku iri. Tapi asal kalian tahu wahay teman-teman ku, nilai kebahagiaan yang kalian punya lebih tinggi dari ku. Percayalah.
****

Suatu malam, tepatnya tanggal 19 januari, dan jam 12 malam nanti aku ulang tahun, Rendi janji untuk kerumah malam ini. Kita mau merayakan ulang tahun di rumah ku. Kali ini tak memberi kejutan, karena sudah sering kejutan-kejutan bahagia yang terjadi dalam hubungan kita, yang semakin membuat ku mencintainya, tak ingin kehilangannya.

Sambil menonton tipi sama ibu, aku menunggu kedatangan Rendi juga kehadiaran Ayah yang belum juga pulang. Tak lama handphone ku berbunyi, kulihat nama kontak dan ternyata itu telepon dari ayah.

‘Hello sayang, selamat ulang tahun ya, maaf ayah nggak bisa ikut merayakan bareng Rendi dan mamah, Ayah ada janji ketemu klien sebentar, kamu mau dibelikan apa sama ayah’

‘Oh iya nggak apa-apa yah, tidak usah makasih, ayah sudah ingat hari ulang tahun ku saja aku senang’

‘Ya, mana mungkin ayah lupa’ Jawabnya gurau.

‘Sekarang ayah dimana, mau ketemuan sama klien dimana? Hati-hati udah malam’

‘Ayah lagi dimobil, mau ke taman angrek yang dekat perumahan kita. Klien ngajak ketemunya disana.’ Jawab ayah.

‘Hah.. tumben bukan di restoran atau hotel, taman anggrek kalau malam kan sepi’

‘Iya nggak tau juga. Yasudah ayah pokus nyetir dulu, kalau udah beres ayah secepatnya pulang’

‘Iya ayah, hati-hati’ Ucapku lalu menutup teleponnya.

Kulihat ada satu pesan singkat di layar handphone, nama Rendi tertera disana. ‘Sayang bentar, aku lagi dijalan, menuju rumah, agak lama karena macet’ Isi pesannya dan ku jawab “iya sayang hati-hati’

Satu jam berlalu, namun Rendi tak kunjung datang, begitu pun dengan ayah. Entah kenapa, tiba-tiba ibu mengatakan kalau dia merasa tidak tenang, disusul dengan perasaan ku tiba-tiba merasa tidak nyaman, pikiran ku melayang bebas, berangan-angan tak jelas. Yang ada dibenak kami cuma dua orang laki-laki yang kami cintai dan kami tunggu malam ini.

‘Tuk, tuk, tuk..’ Suara pintu diketuk, namun tak memberi ucapan salam, aku pastikan itu Rendi atau Ayah. Aku pergi untuk membuka pintu. Ku buka dengan penuh kegembiraan.

‘Hall……..’ Ucapku setelah buka pintu, terbata-bata, tak ada yang bisa ku katakan, seketika aku diam, seperti ada petir yang tiba-tiba menghantam kepalaku.

‘Siapa Maya?’ Teriak ibu dari ruang tipi, namun bibir ku seolah mengumpulkan tenaga untuk menjawab semua tanya dimalam itu.

‘Ayahhhhhhhhhhh……..’ Aku menjerit histeris, aku melihat ayah berdiri didepan pintu dengan belati menancap diperut, mata melotot, dengan potongan tangan tergeletak di lantai.

Ibu langsung menghampiri ku, ibu tak kuat, ibu lepas kendali dan jatuh pingsan, tak lama muncul dua orang laki-laki dengan penutup kepala hitam dan jaket kulit berwarna hitam.

Dia menghantam kepala ku, dia injak perut ibu yang sudah tak berdaya, aku jelas menyaksikan itu, karena aku yang masih sadar waktu itu, mereka tak langsung mengeksekusi ku, mereka cabik-cabik tubuh ibu dengan belati, aku tak bisa teriak, bibirku terkunci oleh segumpal ketakutan di jiwa, aku tidak tahu mereka siapa. Saat mereka mengetahui aku masih sadar, dengan cepat, mereka tendang kepala ku, aku tak kuat menahan sakit lalu pingsan. Namun asal kamu tahu, aku dibunuh sama kejinya seperti ayah dan ibu ku, sebegitu kesalnya mereka sampai mencongkel kedua mata ku, semua isi perutku dikeluarkan.

Tak lama Rendi datang, dan mengetahui kejadian itu, Rendi memilih sembunyi, karena penyelamatan yang percuma jika dia datang melawan mereka. Rendi sembunyi sambil mencatat Plat nomor mobil zip yang digunakan mereka. Dia menghampiri ku, mengangkat tubuh ku, memeluk ku yang sudah tak bernyawa dan berwajah tak sempurna, kurasakan sakit yang Rendi rasakan saat itu, Rendi lantas melaporkan kejadian ini kepolisi, untuk selanjutnya mengurus jasad kami yang berantakan.

Dan dari hasil Plat nomor mobil yang Rendi catat, polisi berhasil menemukan pelaku pembantaian keluarga ku. Mereka adalah orang suruhan musuh klien ayah. Mereka dendam karena ayah yang sulit dikalahkan. Dan asal kamu tahu, rival ayah ku adalah ayah Rendi. Kini semua sudah ditangkap, dan Rendi berada di rumah sakit jiwa, depresi yang cukup berat membuat nya diasingkan kesana.

Malam ini tolong kamu sampaikan salam ku pada Rendi, aku tak menyalahkan dia. Rendi tidak tahu apa-apa. Terimakasih Rendi, aku mencintai mu, sampai jumpa Rendi, sekali lagi aku mencintai mu. Kini aku tenang dengan aku sudah bercerita pada mu, karena waktu itu tak ada satu orang pun yang tahu.

Terimakasih juga untuk perempuan manis ini yang aku bangunkan tidurnya malam ini, untuk membantu ku menyampaikan tulisan ini, dia baik dan aku senang berada dalam tubuhnya, tapi sayang dia juga punya kehidupan. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa.

Thursday, April 9, 2015

Tanda Jika Dia Adalah Seorang Sahabat

       Comments   
Mengoreksi dari perjalanan hidup yang sudah gue tempuh sampai detik ini, banyak sekali hal yang membuat gue berpikir tentang orang-orang yang selama ini dekat, menjauh, lalu hilang. Beragam jenis dan karakter manusia telah gue pahami, dari jutaan orang yang gue temui setiap hari. Dan semua berbeda semua berwarna. Waktu yang terus mengajarkan gue untuk melangkah kedepan memberi tahu jika perjalanan paling jauh dan mustahil untuk ditempuh adalah masa lalu. So, tak ada alasan dari orang bijak manapun yang menghalalkan kita untuk sulit move on. Go..go.. temui orang-orang baru didetik selanjutnya.

Konsep pertemanan seperti yang gue tulis sebelumnya disini. Selamanya kita akan terus bertemu dengan wajah baru. Ada yang langsung pergi, ada pula yang menetap jadi kebiasaan sehari-hari, yang hakikatnya tetap akan dipisahkan oleh mati. Beragam jenis perkumpulan atau tongkrongan pernah gue coba, dengan beraneka karakter mahluk yang disebut manusia didalamnya. Dari yang membawa gue ke arah negative atau mengarahkan gue ke hal positive. Semua punya cerita, gue nggak pernah menutup hal-hal yang masuk dalam kehidupan gue, berusaha se-welcome mungkin, sekali pun itu adalah hal negative, karena gue yakin semuanya punya sisi manfaat tersendiri. Itulah yang disebut berwarna.

Sahabat. Setiap orang pasti punya orang terdekat yang biasa dikategorikan sebagai sahabat. Namun tidak semua orang bisa menjadi sahabat. Karena definisi sahabat menurut gue bukan hanya selalu dekat, tapi;
Dia yang mau mendengarkan 


Dia tak hanya setiap saat ada, tapi dia sanggup mendengarkan apa yang jadi keluhan lo walau pun dia tak punya solusi hebat untuk masalah lo. Dia yang siap menyisihkan waktunya hanya untuk mendengarkan cerita lo yang sebenarnya sangat membosankan.

Dia yang berani terbuka dan jujur


Saat dikedaan terbalik dia punya masalah rumit atau berita gembira giliran dia yang bicara dan lo menjadi pendengar. Selalu jujur bukan berarti selalu mengatakan apa yang dialami, melainkan selalu bertindak dan berucap apa adanya. Jika dia menginginkan privasi, maka dia akan mengatakannya dengan cara yang baik sehingga tidak menyakiti lo. Bahkan dia membuat lo mengerti bahwa tidak semua hal harus diucapkan kepada sahabat.

Dia yang rela membantu


Seperti yang pernah gue tulis disini. Jika sebaik-baiknya sahabat adalah dia yang tidak pernah perhitungan. Gue kurang setuju dengan meme/quote yang sering dilihat dimedia social yang berbunyi “Datang saat ada butuhnya doang, sahabat macam apa lo?” dan masih banyak lagi kalimat serupa. Jika boleh gue jawab “Katanya sahabat ko perhitungan”. Yap jika lo merasa kalau dia udah nggak fair. Yasudah tinggalin dengan cara baik-baik, sehingga amal lo yang sempat membantunya nggak musnah hanya karena terus di sebut-sebut.

Dia yang selalu mensuport


Sahabat yang baik tidak akan merasa bersaing dengan lo, melainkan akan mendukung dan berusaha agar bisa sama-sama maju. Jika lo punya kekurangan, dia akan berusaha membenahinya. Jika lo punya kelebihan, maka dia akan terus mendukung lo. Dia akan menjaga hal-hal yang menurut sahabatnya penting atau rahasia. Dia akan menutup lobang kekurangan lo didepan orang-orang.

Dia yang merasa nyaman dan bahagia saat bersama


Gue sering bertemu dengan orang yang kalau dekat dengan dia merasa nggak nyaman, jangankan buat ngobrol duduk nongkrong bareng pun ingin segera pergi. Jujur, gue pernah bertemu dengan orang seperti itu. Yang pasti gue akan membatasi komunikasi dengannya. Sedangkan sahabat yang baik akan bahagia jika lo bahagia, dan nyaman saat bersama, gila-gilaan, bercanda bareng, menegur bahkan tak segan menampar kalau lo salah arah.

Itulah ciri-ciri seorang sahabat hasil observasi gue selama ini mengenai dunia pertemanan dalam kehidupan. Jika ada pengamatan lain untuk ditambahkan silahkan tulis dikolom komentar.

Nah, apa lo sudah bertemu dengan orang seperti itu? Jika belum carilah. Jika sudah jaga dan sayangi dia layaknya dia menyayangi lo. Karena sahabat yang baik tau bagaimana cara balas budi tanpa harus diperhitungkan atau diminta.

Wednesday, April 8, 2015

Friendship

       Comments   
Waktu telah mengantarkan kita mengenal orang-orang baru, lingkungan baru dengan kedaan yang tentunya baru pula. Dari mulai orang yang hanya sepintas dihari itu tanpa saling tahu nama, sampai orang-orang yang sering kita temui ditengah sempirtnya rutinitas. Siklus hidup memang lucu, yang tak sadar mengantarkan kita sampai sejauh ini.

Konsep yang biasa terjadi;
Kenalan
Sering bertemu
Akrab
Menjadikannya teman biasa
Nyaman
Mulai saling terbuka
Menjadikannya orang terdekat
Sudah tidak canggung
Mulai gila-gilaan bareng
Merasa mendapat kemistri
Melekat dihati berpangkat sahabat.
Itu berlaku untuk semua gender, baik cowo, cewek atau bahkan bencong, gue pikir sama seperti itu.
Teman yang baik adalah teman yang selalu ada dalam keadaan apapun, namun ingat teman baik pun akan merasa bosan. Tak ada yang salah. Toh itu manusiawi.


Sebuah novel/film yang keren dilihat dari alur klimaks yang ada dalam cerita tersebut. Begitupun dalam dunia nyata, termasuk dalam hubungan pertemanan. Jadi dirasa wajar jika dalam pertemanan ada sebuah kerenggangan, keterasingan, bumbu-bumbu pertikaian jika setelah itu kita mampu saling menggenggam tangan erat, peluk rindu dari seorang sahabat yang sempat di acuhkan. Dan jika setelah itu membuat kita sadar, kebersamaan kita jauh lebih berharga dari menjadi masing-masing yang mempertahankan egonya.

 -Selamat malam-

Monday, March 23, 2015

Untuk Mu Yang Sedang Letih

       Comments   
Aku ingin tulisan ini dibaca dengan tenang, santai, pelan-pelan, dan nikmati. Intinya gunakan tanda baca pada fungsinya, seperti; berhenti sejenak jika ada koma, push-up dulu jika bertemu dengan titik.

Ditulisan kali ini sengaja memakai ungkapan ‘Aku-kamu’ Tidak seperti ditulisan sebelumnya memakai ‘Gue-Lo’ Semua biar kita terasa sudah kenal dekat, walau pun kita nggak saling kenal, nggak saling cubit, namun gue aku harap tulisan ini bisa menemani kegelisahan mu.

Oke, kita mulai. Boleh aku meminta mu untuk tarik nafas lalu perlahan keluarkan, lakukan itu sekali lagi. Terimakasih untuk mu yang sudah mengabulkan permintaan ku. Mari kita jauh memandang ke arah lain, ada yang sedang tersendat-sendat berusaha ingin bernafas seperti mu barusan, lebih dalam dari itu, mereka yang kini terkapar terbungkus kapan, aku yakin ingin seperti mu pula. Ya, ingin kembali hidup. Owhh..Lantas sesedarhana inikah hidup? Namun nyatanya hidup bukan hanya urusan kita bernafas, ada goresan takdir diantara helaan nafas yang kita hirup lalu kita buang.

Pernahkah kamu merasa lelah dengan apa yang telah kamu lakukan? Sampai semua hal indah tak lagi bisa kamu lihat indah, semua yang lucu tak dapat lagi membuat mu tertawa, semua yang ada dan terlihat tak lagi memberi gairah. Seolah semua hanya biasa-biasa saja, semuaaa.. !! Ya, semuaaaaa-nya. Bahkan barisan puisi-puisi Zarry Hendrik dengan kata yang amat menawan pun tak mampu kamu pahami. Sesekali kamu bertanya pada dirimu sendiri. Apa-apaan ini? Apa artinya semua ini? What the fuck it’s Slalalala…? Rasanya kamu ingin pergi ke puncak gunung, lalu berteriak sekaras mungkin, sampai serak, sampai tenggorokan mu sakit, atau bahkan sampai suara mu sudah tak terdengar oleh telinga mu sendiri. Harus sampai seperti itukah? Ya harus, karena satu hal yang kamu inginkan, persaan gondok, persaan yang seperti bola api yang terombang ambing tak jelas didadamu, bisa keluar.

Mungkin aku terdengar so’tau menjadi pengamat perasaan mu. Tapi terserah, itu hak mu, yang jelas aku pun pernah merasakan keletihan itu, keabu-abuan itu. Mungkin kita semua, pernah.

Kemarilah aku mau memberi penawar untuk itu; Dekap tubuhmu, karena tak semua orang bisa mengerti seperti kamu mengerti orang-orang itu, tak semua orang peduli, seperti halnya kamu mepedulikan orang-orang itu. Jangan bersedih untuk hal itu, toh kamu masih punya tuhan. Yang siap membantu selamanya dan kapan saja. Tak seperti manusia yang hanya siap dikesempatan pertama dan kedua, namun tidak untuk yang ketiga. Ya, Itulah manusia.

Aku yakin kamu pun sesekali kesal, saat orang-orang seolah tak punya waktu untuk mu berbagi, atau seolah tak peka dengan apa yang kamu rasakan. Tak seperti yang kamu lakukan untuknya, untuk mereka, untuk kita. Sabar, ingat sebaik-baiknya teman adalah yang tidak pernah perhitungan. Mungkin mereka tak tahu jika orang yang paling mengerti adalah orang yang sebenarnya butuh dimengerti.

Rumit dan peliknya masalah selalu bikin gemes, mood rusak. Dunia memang tak selalu menyenangkan, begitu pun dengan penghuninya. Namun tak masalah. Toh kita tidak bisa memaksa mereka menjadi apa yang kita mau. Jadi daripada kita menunggu orang lain menghabiskan waktunya untuk membuat kita bahagia. Bagaimana jika kita bahagia dengan cara kita sendiri. Pertama; 
Bicaralah pada tuhan.
Karena kita beragama, tak harus nunggu hokinya ramalan bintang atau shio, atau semecam itu.

Lalu mendengarkan music.
Tuhan menciptakan dua tangan untuk sesekali menutup dua telinga kita dari cemoohan dan prasangka manusia lainnya. Jika sudah, lanjut dengan cara galaunya orang-orang berilmu/berkelas, yaitu;
Membaca dan menulis.
Tuangkan semua yang kamu rasakan, jika telinga manusia lain tak bisa menerima, ada pena dan keretas dengan kebisuannya akan sedikit membuat mu lega. Ya, aku yakin itu. Jika masih ada, coba keluar lihat langit, dan bayangkan langit di sudut lain, apakah sama? Jika butuh jawaban, maka;
Liburan lah.
Kalau kata anak sekarang ‘Mungkin kamu butuh piknik’ Senangkan tubuh mu sejenak dari himpitan rutinitas yang menekan mu seolah menjadi satu hal yang wajib. Berterimakasih pada tubuhmu, yang telah dengan kuat berjalan sampai sejauh ini. Sampai detik ini. Bahkan sampai kamu tak sadar bahwa kamu telah selesai membaca tulisan ini. Terimakasih.

Monday, March 16, 2015

Jadi Arang Atau Abu

       Comments   
Menurut gue ‘ide’ itu seperti butiran berlian didasaran bumi papua. Tidak akan datang jika gue terus menunggunya, karena dia bukan mantan yang datang dan pergi semaunya. Ide harus dicari atau digali, dan setelah didapat masalahnya belum selesai begitu saja, gue harus mengolahnya agar jadi santapan yang lejat. Seperti berlian yang saat mendapatkannya harus menggali ribuan meter perut bumi, tak berhenti sampai disana, bentuknya masih nggak jelas, walaupun orang sudah tau kalau itu adalah berlian, karena akan berpengaruh pada nilai jual itu sendiri, setalah didapat lo harus menggosoknya dan terus menggosoknya dengan penuh kehati-hatian, telaten dan tekun, sampai berlian itu mengkilat dan cantik saat dipakai, disitulah nilai jual akan meninggi. Bergitupun dengan ide.

Sering gue terdiam nggak jelas di depan leptop memerhatikan cursor yang berkedip dalam page kosong Microsoft word, kalau kata Radit hal itu disebut white paper syndrome.

Saat gue sudah mendapatkan ide untuk menulis tentang sesuatu, lalu menumpahkan nya ke blog ini, semua itu sudah gue pikirkan beberapakali. Serandom apapun postingan gue adalah hasil penyaringan dari sel-sel yang berpungsi di otak gue. Namun karena jam terbang gue masih sempit jadi gue selalu melatarbelakangi tulisan gue dengan kalimat;

Ini hanya tulisan biasa yang di buat dari orang yang kurang bisa, dengan argument yang bermodalkan kesotoyan dan rasa percaya diri yang tinggi, yang tak pernah berakar pada fakta, namun berharap masuk akal dan yang membaca tidak ikut gila. Karena sekali lagi, blog ini hanya sebagai tempat menulis apa yang mau gue tulis, namun apa yang gue tulis bukan berarti apa yang gue rasa, tak berharap menjadi apa yang mau lo baca. Namun gue ucapkan terimakasih, karena setidaknya lo telah sudi membacanya sampai kalimat ini.

Kita hidup dibumi yang tentunya tidak sendirian, karena kita adalah makhluk social. Kita bereaksi diantara ribua atau bahkan miliaran mulut dengan kepala yang sama bulat yang hampir lonjong menyerupai terlur, dengan berat rata-rata 1,4 kilogram, namun dengan isi yang berbeda-beda. Argumen, opini, ideology, prinsip, pola pikir atau apapun itu, semua ada di dalam segumpal daging yang beratnya setara 3 pound itu. Katanya.

Jika sudah mengerti hukum alam ini, harusnya kini lo bisa memahami betapa pentingnya sebuah kompromi. Iya, kompromi, bukan sarimi, indomie, parmini, atau pun popmie.

Lo perlu memperjuangkan prinsip dan keinginan lo. Oh itu jelas. Tapi lo juga akan selalu berhadapan dengan prinsip dan keinginan orang lain. Tentu, itu pun harus lo pahami. Jika lo memaksakan prinsip lo terus melaju tanpa rem dan kemudi, alhasil akan memicu tabrakan. Risikonya selalu tak berubah: lo akan jadi arang atau abu.

Rem dan kemudi itulah yang gue maksud sebagai kompromi. Bukankah jika lo mampu mengerem dan mengemudi dengan baik, akan selamat dan sampai tujuan? Ya, begitulah hidup, kawan.

Ada saatnya lo leluasa melaju cepat sekuat akselerasi SLK 250, ada kalanya lo harus melaju pelan sambil mengerem bak siput sakit pinggang, atau bahkan ada kalanya lo harus mengerem total dan menjauhkan kaki dari pedal gas bak batu kehabisan bensin.

Kompromi, ya rem dan kemudi tadi, sama sekali bukanlah sebuah kebodohan, apalagi kekalahan. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Bukankah lo tak akan bisa mengecap manisnya kehidupan jika dalam situasi bertabrakan? Bukankah ngemil tahu isi rumput jauh lebih nikmat saat ngedate dibanding makan steak sambil dibentak-bentak oleh pacarmu yang geje hasil kenalan di tweeter dan facebook itu?

Jadi, mari keluarkan opini, prinsip dan keinginan lo, jangan pernah tawan ideology lo dengan ketakutan saat orang mengkritik, karena orang pintar akan membuka mulutnya dengan lantang, sekaligus membuka telinga lebar-lebar dan mendengarkan ideology orang lain, untuk dipertimbangkan agar tidak terjadi tabrakan yang hanya akan menimbulkan dua pilihan yang sama buruknya. Jadi arang atau abu.?

Saturday, March 14, 2015

Opini Goblok

       Comments   
Certia pertama, ketika teman gue, sebut saja si-Titit, seorang remaja yang lahir dari keluarga biasa, kejebak pergaulan yang salah lalu menjadikan dia seorang pemake narkoba. Pada suatu hari yang mungkin dia sendiri nggak berharap hari itu ada dikalender, karena dihari itu dia harus menelan konsekuensi dari semua perbuatannya. Dia ke gep lagi make, ditahan polisi, lalu menjalani proses hukum yang panjang kali lebar kali tinggi kali alas. Lohh… Ok, singkat cerita dia ditahan selama 10 tahun, akibat perbuatannya itu. Tak ada pilihan lain selain itu, kecuali kalau dia punya duit mungkin bisa sedikit dirubah. Ya, mungkin. Dan selesai.

Di cerita kedua, gue mengarahkan pandangan ke jendela lain disebrang sana, Ada seorang remaja, sebut saja namanya Karyo, dengan gaya hidup yang berbanding terbalik dengan si-Titit. Karyo adalah remaja popular idaman semua perempuan, tampan kaya raya, dan sebagainya. Namun dengan permasalahn yang sama yaitu kejebak pergaulan yang salah, lalu menjadikan dia sebagai pecandu narkoba, namun sehebat apapun dia, yang namanya tuhan itu tetap maha adil. Karyo pun ke gep, lagi make, ditahan polisi juga, menjalani proses hukum juga, namun bedanya si-Karyo lebih dibuat rumit, sampai orang yang mendengar berita bingung dengan masalahnya, dengan suport lawyer kondang. Pasal hanyalah pasal, undang-undang pun dimainkan, karena dalam kasus ini duit si-Karyo mendukung untuk memainkan proses hukum. Proses tak berhenti sampai disana, tak dirasa ketika semua dibuat ribet, hukuman sitersangka pun terus mendapat remisi, lalu sampai pada titik kepastian, tidak ditahan hanya mendapatkan proses rehabilitasi. Orang tuanya terus berkoar-koar dimedia. “Anak saya bukan koruptor, bukan penjahat, jangan perlakukan dia seperti itu. Dia pantas mendapat rehabilitasi.” Jreeeenggg…. rehabilitasi pun dilakukan.

Terus bagaimana kabar si-Titit teman gue, apa dia sudah bangkotan. Sabar kawan, mengertilah dengan hukum dinegri kita, kalau dulu bisa memohon, gue akan minta buat dilahirkan di irak atau turki. Sekali keras, ya harus keras.

Dan tadi malam gue mendapat pertanyaan yang sebenarnya bukan kapasitas gue. Tapi seperti biasa, gue akan jawab menurut opini subjektif gue yang kadang terkesan semaunya.

Ri, lo setuju nggak dengan adanya hukuman mati.? Dan gue jawab. Tergantung jenis masalahnya apa. Namun sejauh ini gue selalu setuju dengan tindakan persiden baru kita. Tak menganut hukum yang abu-abu dan cemen. Walau pun kecil, cengengesan tapi jelas tegas dan memberi kepastian. Yang gue tau hukuman mati itu pantas dijatuhkan untuk koruptor, bandar narkoba, teroris dan tindakan pelecehan sex menyimpang, seperi mecabuli atau sodomi.

Gue sempat mendengar beberapa opini yang tidak menyetujui dengan adanya hukuman mati, dengan alasan hak manusia untuk hidup tidak bisa ditentukan oleh undang-undangan, dan alasan yang paling geli. Jika tindakan hukuman mati tidak memanusiakan manusia.

Helllooo.. Gue Tanya, apa tindakan sexual pada anak di bawah umur adalah prilaku manusia? Merampas hak-hak manusia lain, apakah tindakan seorang manusia? Membunuh secara keji, apa tindakan manusia? Binatang saja masih punya rasa sayang. Nah ini yang katanya manusia, satu makhluk yang tuhan ciptakan dengan sempurna dan mulia diantara mahluk lain. Dengan lo mengatakan seperti itu, sama halnya dengan lo telah memberikan hukuman manusia pada seorang binatang yang berparas memanusia.

Maaf bung, jika tulisan saya terkesan tengil, sotoy, dan bermodalkan percaya diri. Ini sekedar opini goblok, yang tak boleh dibaca serius, karena gue nulisnya juga sambil ngupil dipeperin ke remot tipi.

Friday, March 13, 2015

Kita Adalah Manusia

       Comments   
Tadi pagi saat gue sedang lari, gue melihat para pekerja dijalan, entah sebutan untuk jenis pekerjaannya itu apa, pokonya yang mereka lakukan dipekerjaannya itu adalah menggali tanah yang menjadi saluran pipa PLN, kurang lebih pukul 6 tadi pagi, mereka saling angkat-angkat pipa, seluruh tubuh sudah tertutup tanah merah yang lembab, yang gue tau pagi itu sangat dingin, gue ingin memotretnya untuk kebutuhan tulisan ini, namun karena takut mereka tersinggung, jadi gue urungkan. Lanjut lagi lari, lalu melihat truk pengangkut es batu yang gede, untuk dikirim kewarung-warung kecil, gue memperhatikan bapak tua yang mengangkat bongkahan es batu itu, sekali lagi gue katakan pagi ini sangat dingin. Pecahkan lamunan gue melanjutkan lari, dan berhenti dipedagang nasi uduk, gue beli nasinya, tentu untuk gue makan, tukang nasi uduk sudah sangat tua, semoga saja tidak pernah salah menaruh bumbu. Sambil nunggu nasi dihidangkan gue memulai percakapan pada ibu tua itu.

‘Kalau hari libur rame banget ya bu’ Tanya gue. ‘Alhamdulillah Jang, lumayan lah buat jajan anak’ Jawabnya yang so tau, padahal nama gue bukan Jang. Padahal gue mau ajak kenalan namun karena kesotoyan nya itu, gue jadi minder. ‘Oh syukur atuh bu’.

Nasi uduk selesai, sambil melahap makanan, otak random gue mulai melayang-layang dengan kalimat “Lumayan lah buat jajan anak”

Gue flashback ke beberapa menit yang lalu, tentang tukan gali pipa saluran, dan pengantar es batu. Ok tanpa harus gue survey satu persatu, melihat dari bentuk tubuh mereka gue yakin mereka adalah para orang tua yang sedang memenuhi satu hal dalam hidup yaitu tanggung jawab. Tentunya untuk anak dan istri dengan kata lain keluarga. Anak, anak, anak dan anak. Yang selalu mereka prioritaskan setelah punya keluarga adalah anak, pasangan (istri/suami) jadi nomer dua. Itu bukan omong kosong, gue pernah tanya beberapa teman gue yang sudah berkeluarga dan punya anak. Rasa sayang ke istri/suami dilimpahkan ke anak, yang penting anak dulu makan, kalau ada lebih ayah dan ibu juga ikut makan.

Mari kita lupakan dulu orang-orang diatas. Beberapa hari yang lalu gue pernah baca berita di website Tempo.co tentang orang tua bernama Ibu Sutina yang dengan ikhlas memandikan mayat anaknya sendirian, jangan ditanya bentuk kesediahan dan kekecewaannya seperti apa. Yang lebih ngeri dari itu, tubuh anak yang dimandikannya adalah seorang begal yang dibakar warga. Ya, anaknya menjadi sorang begal. Mungkin saat itu yang dia rasakan adalah sebuah kekecewaan karena gagal mendidik anaknya.

Dari sejak dalam kandungan sampai dilahirkan hingga sudah besar, semua orang tua tentu menginginkan anaknya menjadi anak yang soleh, pinter, cekep, dan jadi anak yang bermanfaat, itu yang sering gue dengar dari mulut para orang tua, termasuk bibir kedua orang tua gue. Harapan mereka bukan sebuah harapan yang sekedar diucap dimulut dan dibayangkan dihati, namun direalisasikan dengan bentuk cinta, kasih sayang dan perjuangan yang mereka lakukan. Se-goblok goblok nya orang tua dia tak pernah mau anaknya ikut goblok seperti dirinya, dan gue yakin hal itu dirasakan pula oleh semua orang tua yang anaknya kini jadi sekelompok orang yang menjadi target oprasi pencarian polisi, yakni begal.

Gue yakin semua begal, perampok, atau sejenisnya, mereka pernah jadi balita, jadi anak yang menggemaskan, pernah main petak umpet, diledekin teman, pernah ngeledek teman, lari-larian sampe jatoh, pernah lucu, pernah manja, pernah nangis, pernah jawab pertanyaan guru saat disekola “Kalau gede mau jadi apa?” atau “Cita-cita kalian apa?” Dan gue yakin mereka tak pernah menjawab mau jadi begal.

Trus apa penyebabnya. Gue jawab dengan kesotoyan gue yang semoga saja menjadi benar karena rasa percaya diri yang tinggi.

Karena Iman, kedaan dan lingkugan. Ya, lemahnya iman menjadi factor utama seseorang bertindak semaunya, ketika kedaan memaksa untuk bebuat di luar nalar dan logika, lingkungan tak pernah mempedulikannya. Mereka semakin terhimpit oleh masalah pelik dalam hidup yang mereka pikir hanya mereka yang paling pedih. Mereka bukan tidak percaya adanya tuhan, gue yakin itu, mungkin mereka hanya meragukan ke agungan tuhan. Ketika semua nafsu sudah terkumpul, iman yang hanya segede tai cicak mulai tertutup oleh emosi yang semakin menyala-nyala. Kenapa gue sebut lingkungan, karena yang gue lihat orang-orang ini hidup disatu wilayah yang sama dan berkelompok. Jadi untuk lo yang sering dimarahin teman, tetangga atau orang sekitar saat berbuat salah, bersyukurlah karena lo masih dipedulikan.

Untuk apa mereka berbuat seperti itu. Alasan yang sering gue dengar adalah untuk membelikan anaknya susu, dengan kata lain untuk keluarga. Senista itukah?? Oke, itu semua kembali pada dasar ke imanan kita. Gue pikir semakin orang beriman, semakin dia takut sama tuhan. Owhhh.. Ahsudahlah, Gue nggak mau membahas ini semakin dalam. karena iman pada diri gue pun masih lemah, namun gue beruntung memliki lingkungan yang siap sentil kuping gue saat berbuat salah, yang terus meyakinkan gue untuk berdo'a dan berusaha karena tuhan adalah pembuat ketidak mungkinan menjadi mungkin.

Lo yang sekarang jadi anak, bakal menjadi orang tua, dan lo yang sekarang jadi orang tua, bakal punya anak atau pasangan hidup, teman hidup yang akan menemani lo sampai mati. Kita beragama, kita bertuhan kita punya aturan, dan kita manusia, ingat kita adalah manusia. Bersikaplah seperti manusia.

© Fahri Prahira - All Right Reserved