Thursday, November 20, 2014

What BBM Naik.?? Loh Siapa Takut.!!

       Comments   

Tadi pagi gue nonton berita, tentang mahasiswa yang demo kenaikan harga BBM, bukan demo nya yang bikin gue mengerutkan dahi, tapi bentrok yang menelan korban. Kebetulan gue nonton bareng nyokap dan adik gue, respon pertama nyokap gue sangat negative ke mereka, alhasil gue pun kena imbasnya, karena gue yang masih kuliah.

“ Kamu jangan kaya gitu, awas kalau sampe mamah lihat kamu demo seperti itu “ Konyolnya adik gue malah doyan lihat orang yang tauran, dia yang masih duduk dibangku SMK yang terkenal urakan. Nyokap gue pun mengeluarkan kalimat saktinya untuk adik gue. Ya begitulah beratnya jadi seorang ibu dari dua orang anak laki-laki. I love you so much mamah.

Balik lagi ke BBM. Oh iya kalau ada yang nggak kebagian BBM semalam bilang ke gue nanti gue broadcast deh. *Lucu Ga? Nggak.!! Oke makasih.

Pro dan kontra tentang kenaikan BBM, dengan berbagai macam opini, ada yang bilang dana APBN lah, atau menyebut-nyebut alasan rakyat kecil, dan masih banyak lagi, dari mulai opini sederhana sampai ke opini yang berkelas hingga gue nggak paham mereka ngomong apa. Tapi disini gue mau bicara dari kaca mata manusia biasa, rakyat kecil yang tidak punya ilmu apa-apa, tidak paham dengan dana subsidi, APBN, aset Negara, dan blablabla…. yang lainya.

Boleh saja kita mengeluhkan kenaikan harga BBM, so itu berdampak pada harga sandang pangan yang akan melonjak. Bolehlah kita kecewa atas kinerja presiden kita Bapak Jokowi, dan jajarannya. Tapi ini baru permulaan, masih banyak kejutan yang lainnya, siap-siap saja.

Oke gue akan ngajak kamu berpikir realistis. Sejak gue dilahirkan kebumi yang indah ini, gue udah beberapa kali mengalami kenaikan harga BBM, lalu demo, naik lagi, demo lagi, naik lagi, dan seterusnya seperti itu. Pertanyaannya, apa keputusan pemerintah labil, takut sama pendemo, lalu mengurungkan niatnya menaikan harga BBM. Nggak kan.? Malah korban dari aksi demo bergeletakan nggak jelas. Toh beberapa kali mengalami kenaikan harga BBM, gue masih bisa makan, minum, malah semakin berkembang yang dulu gue nggak bisa beli ini itu, sekarang bisa gue beli. Bukan karena harga BBM naik, atau harga beli nya lagi turun, tapi karena gue mau kerja keras untuk apa yang gue inginkan. Logikanya semua tergantung pada diri sendiri. Terlepas dari gue memihak Pak jokowi atau tidak yang pasti disini gue mau ngajak kamu buat mikir yang simple-simpel saja. Kalau kata nyokap gue “ Hidup ini perjuangan, yang gratisan itu nggak enak ” Nyokap gue bilang seperti itu bukan karena dia banyak duit, punya warisan melimpah, jet pribadi, atau doyan ee diparis cebok di ingris. Tidak !! justru kami hidup dibawah standar, rumah ngontrak, kerja serabutan, jangankan makan, boker aja kita mesti bayar broo. Tidak peduli dengan apa yang mau pemerintah lakukan, karena siapapun presidennya, yang namanya kebijakan sama saja.

Lucu ketika gue lihat beberpa orang yang mengeluhkan harga BBM adalah mereka yang mampu membeli motor gede, FU, Ninja, punya rumah mewah, digarasi mobil tiga biji, status karyawan. BBM cuma naik 2000 berkoar-koarnya lebay banget. Gue yang punya motor butut, musti keluar keringat buat bayar kuliah, buat memenuhin kebutuhan sebagai remaja yang masih hoby main, tapi biasa ajasih. Mereka selalu beralasan mengatasnamakan wong cilik. Sederhana saja jika kamu kasihan sama wong cilik, ya bayar pajak yang benar, jakat yang rajin, buat mereka. Bukan cuma korban suara digedung merdeka.

Seharusnya yang namnya mahasiswa harus berpikir akademis, dan lebih bertingkah terpelajar, dari kita rakyat kecil yang berpendidikan standar, cari solusi dengan otak dingin, bukan dengan kekerasan. Setau gue, sebuah keputusan yang lahir dari jiwa yang sedang emosi, pengadilan manapun nggak akan bisa mengesahkan keputusan itu.

Tak ada salahnya jika kita protes, tapi tidak harus keluar dari norma kita sebagai manusia yang diberi akal sehat. Dan gue pikir semakin dieluh-eluhkan, kita semakin tidak percaya dengan keberadaan tuhan, pastinya kamu sering mendengar kalimat kalau tuhan itu nggak tidur, dan tuhan memberikan penyakit dengan obatnya. Tak ada salahnya kalau kenaikan harga BBM ini kita jadikan semangat untuk lebih giat kerja keras, daripada cuma teriak-teriak dimonas. Tak usah takut dengan pemerintah, mereka hanya peran dari scenario tuhan. Berapapun naiknya asal kita dikasih rezeki buat membelinya kenapa tidak.? Ingat Tuhan bersama kita, lebih dalam dari itu tuhan bersama orang yang mau bekerja keras, bukan bersama para ormas.

Sepertinya cukup. Ini hanya opini subjektif gue, jadi mohon maaf jika tulisan gue nggak kamu sukai. Yaudah sih terserah gue, ini website gue, tempat gue menulis apa yang mau gue tulis, bukan yang mau kamu baca. Thank.

Friday, November 14, 2014

Akibat #TerlaluCinta

       Comments   

Apapun yang disebut terlalu memang selalu ada sisi negativenya. Sesuatu yang berlebihan cenderung mengarah ke sipat sombong, dan kini para anak gaul punya istilah lain untuk menyebutnya yaitu “Lebay” Gue sendiri nggak pernah tau asal muasal kalimat itu, namun sepengetahuan gue dalam kamu besar bahasa Indonesia, kalimat itu nggak pernah ada, atau mungkin gue yang salah baca kamus. Ah Entahlah.!! Kepikiran buat searching di google, tapi dipikir lagi apa manfaatnya.? Yowis lanjut.

Sering sekali kita dirugikan oleh sikap keterlaluan kita sendiri, contoh sederhana, makan terlalu kebanyakan efeknya mau ngapain aja jadi nggak enak, atau karena terlalu berharap lalu aktualnya nggak seperti yang diharapkan, galau, stres, kegiatan terbengkalai, kamu hancur dan dia ketawa. Kasian kan??, Yang sabar ya.!!

Gue pernah dicurhatin teman cewek yang kayanya udah yakin banget kalau cowoknya itu adalah jodohnya. Tapi ketika gue lihat dari pihak sicowoknya, dia bersikap normal dan wajar sewajar-wajarnya, gue mau bilang ke temen gue itu, tapi yahh apadaya cinta membutakan mata brohhh. Kalau kata nyokap gue semua akibat #TerlaluCinta, sampai ada pernyataan “kamu bohongpun aku percaya ko”. So Shitt brohh, cinta itu suci jangan dikotori sama kecerobohan yang kamu buat sendiri.

Akibat #TerlaluCinta, kamu akan dibentuk menjadi manusia penakut, takut kalau dia marah, sedih, atau kecewa atas pendapatmu, lebih dari itu, kamu menjadi pihak yang selalu dirugikan, baik masalah materi, waktu, bahkan perasaan, kamu seolah menyekap perasaan kamu sendiri. Alhasil kamu tidak menyayangi dirimu sendiri, badan kurus kaya pemake, wajah pucat, ah pokonya aneh deh.

Kamu yang selalu berusaha membuat suasana senyaman mungkin, membuat semuanya bertahan, dan kamu jadi pihak yang selalu mengalah. Sekecewa apapun kamu tetap bilang ‘nggak apa-apa ko, hanya agar tidak mau meperpanjang masalah, padahal itu bukan menghilangkan masalah, tapi mengumpulkan masalah sampai terus menumpuk dan memecahkan isi kepala mu kelak.

Akibat terlalu cinta, kamu tidak bisa memerdekakan ideology mu sendiri. Sekarang coba diam, keluarkan air mata mu, jangan sampai dia tau kamu menangis, kamu hanya butuh sendiri, dan tanya pada diri sendiri, “Cinta macam apa ini?” saat kamu sudah tau jawaban nya, paham apa yang harus kamu lakukan. Lakukan sekarang, karena cinta tak pernah menyuruh mu bertindak bodoh, seperti yang pernah gue baca di halaman pertama buku pidibaiq ‘Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kau salah pasangan’.

Monday, November 3, 2014

Realita Anak Tongkrongan

       Comments   

Berkumpul, bicara, bercanda, sampai kita berkelahi, adalah hal yg paling menyenangkan. Memutarkan lagu diruangan sempit, sampai kita semua tertidur, namun entah ulah siapa, ketika bangun kaki udah terikat, muka dicoret coret, atau smartphone dibajak, sering kesal bahkan murka, namun itu tak berlangsung lama, dan kembali tertawa.

Rokok, coffe dengan gelas kusam bukti kalau kita ada, nge-Beer satu botol diteguk rame-rame, sampai salah satu dari kita tak sadar kalau dia mabuk, ngomongin orang sampai lupa kalau waktu udah malam, berandai-andai di ruang imajinasi yang paling tinggi untuk berandai-andai, kadang terselip mimpi dan cita-cita, yang kalau dipikir nggak mungkin juga, tapi yang terpenting satu, kita bebas. Ya, kita medapatkan kebebasan dengan kadar tak terhingga. Siapapun yang menghalangi, kita selalu pastikan esok orang itu tak bernafas lagi, kita keras kepala, kita egois, sesekali bertingkah tak waras, ya itulah kita, kalau dia atau mereka nggak suka, bunuh sekarang juga, tapi gue mau katakan kalau itu juga dulu, dahulu sekali, sebelum keterasingan mengenalkan ruangnya pada kita.

Kadang gue marah, ko jadi gini,? Apa kita nggak bisa berusaha cari waktu untuk kembali bersama. Tak lama gue tampar lamunan, dan baru sadar kalau gue sendang berjalan dalam durasi yang disebut hidup, rentetan skenario telah kita mainkan.

Kita dijauhkan oleh prioritas yang kadang nggak ngerti prioritas macam apa. Dan waktu seakan menyuruh kita untuk tak terlena ditempat yang sama, seolah memaksa kita berlari. Ya berlari sendirian. Karena pada dasarnya kita satu keyakinan, yakin akan pergi, dan yakin akan kembali, dan pulang saat detik mulai melemah dan mengingatkan kita untuk berhenti dan beristirahat, dan saat itu kita akan benostalgia dengan irama yang dahulu sempat kita mainkan. Goodluck.

© Fahri Prahira - All Right Reserved